KLIKSANDI.COM, Pangkep — Pemerintah Kabupaten Pangkep menjadikan garam sebagai salah satu komoditas unggulan daerah. Sejumlah kebijakan daerah digunakan untuk mendorong peningkatan komoditas ini. Salah satunya adalah penerapan geomembran.
Teknologi geomembran adalah sistem produksi garam dengan cara air laut dialirkan ke dalam kolam penampungan terlebih dahulu, lalu dilakukan filterisasi dengan menggunakan ijuk sapu, batok kelapa dan batu zeolit. Kemudian, air laut yang sudah disaring masuk ke dalam kolam penampungan yang sudah terlapisi plastik. Ijuk sapu digunakan untuk memfilter air laut yang masuk ke dalam meja kristal, dan batok kelapa dan batu zeolit digunakan sebagai karbon aktif yaitu penghilang bau dan memberikan efek warna garam putih alami.
Setelah air laut sampai di meja kristal yang sudah terlapisi plastik, maka proses penguapan air laut jauh lebih sempurna dibandingkan cara tradisional yang tanpa menggunakan plastik atau terpal.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pangkep, Amril menjelaskan bahwa produksi garam di Pangkep selama ini memiliki potensi besar, namun belum dimaksimalkan secara optimal.
Oleh karena itu, pemerintah daerah telah menyusun kebijakan terpadu yang mencakup peningkatan kapasitas petambak garam, pembangunan infrastruktur pendukung, serta dukungan pembiayaan berbasis kelompok usaha.
“Pengembangan garam bukan hanya soal produksi, tapi juga menyangkut kualitas, akses pasar, dan daya saing. Kami kini mendorong integrasi hulu-hilir agar petambak tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga pelaku usaha yang mandiri,” kata Amril.
Amril menambahkan bahwa revitalisasi tambak garam tradisional dan pelatihan teknis terus digalakkan. Salah satu inovasi yang sedang berjalan adalah pengembangan sistem garam beryodium dan penerapan teknologi geomembran untuk meningkatkan hasil panen.
Menurut Amril, penggunaan teknologi ini terbukti mampu menaikkan produktivitas hingga dua kali lipat dan menurunkan tingkat kehilangan hasil akibat cuaca ekstrem. Tak hanya itu, pemerintah Kabupaten Pangkep juga menggandeng mitra BUMN serta membuka jalur kemitraan dengan sektor swasta untuk menjamin kepastian pasar.
“Kami ingin petambak garam di Pangkep tidak lagi bergantung pada tengkulak. Karena itu, pembentukan koperasi dan kemitraan langsung dengan industri menjadi fokus kami,” ucap Amril.
Program-program ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui inklusi pembiayaan mikro berbasis komunitas. Dengan demikian, kebijakan pengembangan garam tak hanya memperkuat ekonomi lokal, tapi juga menjadi bagian dari upaya menekan impor garam nasional.
Amril berharap seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda di daerah pesisir Pangkep, turut terlibat dalam pengembangan garam yang berkelanjutan. “Ini bukan sekadar urusan komoditas, tapi tentang menjaga kearifan lokal, membuka lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan pangan nasional dari wilayah pesisir,” kata Amril.(egg)

Leave a Reply