Fenomena El Nino Tak Pengaruhi Target Produksi Pertanian Sidrap

Ilustrasi: kekeringan

Ilustrasi: kekeringan

KLIKSANDI.COM, Sidrap Pemerintah Kabupaten Sidrap memastikan target produksi pertanian tahun ini tetap mencapai 1 juta ton. Fenomena El Nino di pertengahan tahun ini tidak akan mempengaruhi produksi pertanian di Sidrap.

“Sudah diinstruksikan percepatan masa tanam guna mengantisipasi fenomena iklim ekstrem El Nino (musim kering),” kata Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif merespon terkait prediksi perubahan musim, Kamis.

Guna merealisasikan target tersebut, pihaknya telah mengambil langkah agresif dalam menjaga ketahanan pangan nasional dengan menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Pangan di Aula Saromase Sidrap.

“Rakor pangan ini krusial untuk mengantisipasi dampak El Nino Godzilla yang diperkirakan memuncak pada Juli hingga Oktober 2027. Kita harus bergerak lebih cepat dari cuaca,” tuturnya menegaskan.

Rakor tersebut dihadiri sekitar 500 pemangku kepentingan terkait yang merupakan tindak lanjut dari Musyawarah Tudang Sipulung 2026. Fokus utamanya adalah mengevaluasi musim tanam I (MT-I) dan mematangkan strategi tempur menghadapi musim tanam II (MT-II).

Guna mengantisipasi prakiraan BMKG terkait krisis iklim musim kemarau, Sahar bersama Wakil Bupatinya Nurkanaah menegaskan kesiapsiagaan adalah harga mati untuk wilayah penyandang status lumbung pangan.

Sesuai target produksi 1 juta ton gabah kering panen (GKP) tahun ini, Pemkab Sidrap telah menetapkan standar produksi minimal 10 ton gabah per hektare.

Bupati juga memberikan peringatan kepada pengurus kelompok taniatau gapoktan yang gagal mencapai target di wilayahnya akan dievaluasi sampai pada pergantian pengurus.

Sebagai langkah solusi konkret, Pemkap Sidrap menginstruksikan petani menggunakan benih varietas super genjah. Jadwal tanam MT-II turut digeser lebih awal mulai 15-20 April 2026 agar masa panen jatuh pada awal Juli, tepat sebelum puncak kekeringan melanda.

Selain benih unggul, kata dia, dukungan infrastruktur penunjang juga disiapkan dengan mengalokasikan anggaran sekitar Rp14,9 miliar. Seperti, perbaikan Bendung Timoreng senilai Rp2,5 miliar, Bendung Bulu Cenrana hingga Salomallori Rp5 miliar.

Selanjutnya, Bendung Saddang sebesar Rp7,4 miliar. Program Listrik Masuk Sawah Kolaborasi dengan PLN yang ditargetkan mulai beroperasi pada April-Mei 2026.

Mantan Wakil Ketua DPRD Sulsel ini menyebutkan, program cetak sawah seluas 1.700 hektare terus digenjot, dengan 800 hektare telah rampung dikerjakan. Tahun ini, Pemkab berencana menambah usulan cetak sawah baru hingga 1.500 hektare.

Selain itu, sektor penyuluhan akan melakukan reorganisasi besar-besaran. Kelompok tani dengan lahan yang terlalu luas (seperti 80 hektare) akan dipecah menjadi kelompok kecil berstandar 25 hektare, demi efektivitas pembinaan dan distribusi bantuan.

Melalui integrasi program Oplah (Optimasi Lahan) Rawa dan Non-Rawa, serta penyediaan teknologi irigasi perpompaan (irpom), Bumi Nene Mallomo optimistis tidak hanya mampu bertahan dari ancaman El Nino, tetapi juga memperkuat dominasinya sebagai pilar pangan utama di Indonesia.

Rakor tersebut dihadiri tokoh-tokoh kunci, seperti Ketua DPRD Takyuddin Masse, perwakilan Kementerian Pertanian Zainal Abidin, hingga pimpinan BUMN maupun BUMD seperti Bulog, Pupuk Indonesia, dan perbankan serta pejabat terkait lainnya.(egg)

Leave a Reply