Hanya 30,32 Persen Kasus TBC di Maros yang Sembuh

Ilustrasi: Tubercolosis

Ilustrasi: Tubercolosis

KLIKSANDI.COM, Maros — Dinas kesehatan Kabupaten Maros melansir data tentang wabah penyakit tubercolosis (TBC). Pada 2024 lalu, jumlah penderita TBC (Cure Rate) yang berhasil sembuh hanya 30,32 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Maros, Muhammad Yunus, menyebut angka temuan kasus TBC di Maros juga cukup rendah. Hanya 55 persen dari target nasional. Sementara kasus yang sembuh hanya 30,32 persen. Dia menyebut hal ini menjadi tantangan besar penanganan TBC.

“Ini menjadi perhatian serius. Tanpa dukungan semua pihak, sulit mencapai target eliminasi TBC. Karena itu, kita libatkan OPD, camat, kepala desa, kader, dan bahkan anak muda dalam kampanye Sipakatau,” tegasnya.

Hal itu diungkapkan Dinas Kesehatan Kabupaten Maros saat sosialisasi Sipakatau atau Strategi Akselerasi Pencegahan dan Penanganan Tuberkulosis (TBC) di Hotel Grandtown Mandai, mulai Kamis (26/6/2025). Kegiatan ini melibatkan sejumlah stakeholder dari berbagai instansi, mulai dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, camat, kepala desa, lurah, hingga kader kesehatan tingkat desa dan kelurahan.

Kepala Dinas Kesehatan Maros, Muhammad Yunus, menyebut Sipakatau sebagai pendekatan berbasis nilai lokal dan kolaborasi. Nama Sipakatau diambil dari Bahasa Bugis yang berarti saling menghargai atau memanusiakan manusia.

“Program ini tidak hanya menargetkan capaian teknis, tetapi juga berupaya membangun kesadaran kolektif untuk menghapus stigma dan memperkuat dukungan masyarakat terhadap penderita TBC,” ujarnya.

Program ini merupakan bagian dari implementasi arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kepada Bupati Maros, Chaidir Syam, untuk melaksanakan program Quick Win (Pemeriksaan Kesehatan Gratis) dan Gerakan Nasional Siaga TBC.

Selain penguatan layanan kesehatan, Sipakatau juga menekankan pada edukasi masyarakat melalui pembentukan Pojok Sipakatau di setiap Puskesmas sebagai pusat edukasi, deteksi dini, dan konseling.

Tak hanya itu, Dinas Kesehatan juga membentuk Duta Sipakatau dari kalangan anak muda untuk kampanye digital di media sosial.

“Nilai utama dari Sipakatau adalah bagaimana masyarakat memperlakukan pasien TBC dengan empati, bukan stigma. Ini penting untuk membangun lingkungan yang mendukung proses pengobatan hingga tuntas,” tutupnya.(egg)

Leave a Reply