Harga Emas Diprediksi Terus Naik, ini Penyebabnya!

ilustrasi: tambang emas

ilustrasi: tambang emas

KLIKSANDI.COM, Makassar Harga emas diprediksi akan terus mengalami penaikan hingga beberapa pekan kedepan. Bagi yang ingin menanamkan investasinya di emas, inilah saatnya!

Ekonom dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Sutardjo Tui menyebut ada sejumlah faktor penyebab utama kenaikan harga emas, beberapa hari ke depan. Dia menyebut, salah satunya adalah Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) yang resmi memangkas suku bunga acuan sebesar 0,25 basis poin atau 0,25% ke kisaran 3,75 persen -4,00 persen baru-baru ini.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unismuh Makassar ini bilang, suku bunga acuan AS ini berpengaruh pada harga emas, apalagi kalau suku bunga Indonesia juga akan dipangkas. Biasanya kata dia, Bank Indonesia akan mengikuti suku bunga acuan AS atau The Fed.

“Kalau bunga turun orang akan malas simpan uang di bank, dia akan beralih ke emas, kalau permintaan emas meningkat berarti terjadi kenaikan harga. Saya yakin kedepan akan naik itu emas. Harga emas naik, saham juga akan naik, obligasi juga akan naik,” jelas Sutardjo.

Menanggapi penurunan emas sepekan terakhir, Sutardjo menegaskan bahwa penurunan harga emas itu bersifat sementara.

“Emas itu turun itu hanya sementara, biasanya terpengaruh dengan kenaikan harga saham, kalau sahamnya naik orang akan melepas emas. Tapi penurunan emas itu hanya sementara,” terang Pengamat Ekonomi Keuangan dan Perbankan itu.

“Kalau emas juga turunnya sedikit-sedikit kok, tapi naiknya lumayan. Tapi jangan lupakan juga emas itu ada pajaknya, setiap pembelian ada pajaknya, lalu selisih harga jual juga tinggi, tapi orang tidak lihat itu, yang penting dia punya uang aman, daripada simpan di bank bunga cuma 2,5% per tahun, sementara di emas dia bisa untung ya sekitar 30% per tahun. Investasi paling aman itu di emas,” lanjut Sutardjo.

Dosen yang pernah menguji mahasiswa S3 Institut Pertanian Bogor (IPB) ini melanjutkan bahwa orang akan melepas emasnya kalau bunga bank naik.

“Saham juga lain, jadi menurut saya penurunan emas itu tidak terlalu signifikan dan terus menerus turun, kecuali kalau bunga naik orang-orang akan berlomba simpan uang di bank,” tutupnya.

Diketahui, Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) resmi memangkas suku bunga acuan sebesar 0,25 basis poin atau 0,25% ke kisaran 3,75%-4,00% pada Kamis dini hari, 30 Oktober 2025.

Pejabat Federal Reserve melakukan pemotongan suku bunga (fed funds rate/FFR) untuk kedua kalinya secara berturut-turut pada tahun ini guna mendukung pasar tenaga kerja AS yang melemah.

“Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memutuskan dengan suara 10 banding 2 untuk menurunkan kisaran target suku bunga federal funds sebesar 0,25 persen menjadi 3,75%-4%,” kata Ketua The Fed, Jerome Powell dilansir dari Bloomberg, Kamis dini hari, 30 Oktober 2025.

Sebelumnya, harga emas sepekan ini mengalami penurunan Rp 220 ribu, harganya kini di angka Rp 2.267.000 per gram. Harga emas itu mulai turun sejak 22 Oktober, dan anjlok parah Rp 177 ribu, lalu turun lagi pada 23 Oktober di harga Rp 2.321.000, lalu pada 24 Oktober naik tipis, kemudian 25 Oktober turun lagi hingga 29 Oktober 2025.

Sementara harga emas mulai merangkak naik sejak 21 Agustus 2025 lalu, kemudian naik terus tanpa rem. Puncaknya ketika tragedi Agustus kelam itu terjadi. Pada awal September harganya mencapai Rp 2.011.000, pada akhir September naik lagi menjadi Rp 2.234.000.

Lalu tak berhenti hingga awal Oktober di angka Rp 2.250.000, lalu naik terus dan pertengahan Oktober melambung lagi menjadi Rp 2.407.000 lalu akhirnya menyentuh harga tertinggi Rp 2.487.000 per gramnya pada 21 Oktober 2025.(egg)

Leave a Reply