ABK Kapal Ambulans Pangkep Bertahan Hidup di Laut Lepas, Selamat Berkat Air Hujan

Salah satu ABK kapal Ambulans yang bersama keluarganya, beberapa waktu lalu.

SELAMAT. Salah satu ABK kapal Ambulans yang bersama keluarganya, beberapa waktu lalu.

KLIKSANDI.COM, PangkepTiga anak buah kapal (ABK) Kapal Ambulans Pangkep kini kembali dirumahnya setelah 11 hari terombang-ambing di selat Makassar. Keduanya bertahan hidup tanpa makan, selama itu. Hujan yang tiba-tiba datang menjadi penyelamat hidup mereka.

Ketiga ABK itu adalah Najamuddin (55), sang kakak, M Tahir (65), dan kerabatnya, Hasri (60).

“Alhamdulillah sudah sehat, baru semalam lepas infus,” ucap Najamuddin, Senin (27/10/2025) malam.

Najamuddin menceritakan kronologi kejadian itu. Awalnya, Najamuddin dan dua rekannya berangkat dari Pulau Tinggalungan menuju Pulau Dewakkang menggunakan ambulans laut sepanjang 16 meter.

Kapal itu rencananya akan dioperasikan di pulau tujuan. Dalam perjalanan itu, dia membawa bekal seadanya. Buras, ketupat, ikan kering, dan air minum dibawa untuk perjalanan diperkirakan memakan waktu delapan jam.

Namun dua jam setelah berlayar, gangguan mesin mulai muncul. Asap keluar dari ruang mesin, membuat Najamuddin mematikan mesin untuk mendinginkan.

Mesin sempat hidup kembali, tapi tak lama kemudian mati total saat kapal hampir tiba kembali di Pulau Tinggalungan.

“Kapal sudah dekat, tinggal 15 menit lagi. Tapi mesin mati total,” ucapnya.

Kapal ambulans terbawa arus menjauh dari pulau. Tak ada perahu nelayan melintas. Najamuddin sempat melambaikan sarung ke kapal penjaring yang lewat, namun tak terlihat.

Hari-hari berikutnya menjadi ujian hidup. Makanan mulai habis. Ketupat dan buras yang tersisa sudah basi, tapi tetap dimakan demi bertahan hidup. Air minum 10 liter hanya cukup untuk empat hari.

“Setelah itu tidak adami kita minum. Tidak minum, tidak makan juga,” tuturnya.

Beruntung, kala itu hujan di tengah lautan. Najamuddin dan kerabatnya langsng menadah hujan dengan wadah seadanya. Meski kotor dan berbau, tetap diminum karena kehausan.

Memasuki hari ke-9, stok makanan benar-benar habis. Kapal terus terbawa arus hingga mendekati Pulau Sapanjang, Perairan Sumenep, Jawa Timur. Ambulans laut terdampar di bebatuan, tak bisa merapat.

Di tengah keputusasaan, Najamuddin melihat kapal nelayan asal Bali melintas. Ia kembali melambaikan sarung. Kali ini, pertolongan datang.

“Jam 1 dini hari ada yang temukan kita dari Bali. Nelayan itu derek kapal ke Pulau Madura,” katanya.

Sesampainya di darat, warga setempat menyambut mereka dengan makanan dan minuman. Namun rasa lapar dan haus seolah hilang karena lega telah selamat.

Di hari ke-12 sejak dinyatakan hilang, Najamuddin menghubungi keluarganya. Ia dijemput dengan kapal nelayan dan dibawa pulang ke Pulau Tinggalungan.

Sementara ambulans laut rusak ditinggal di Pulau Madura untuk diperbaiki.(egg)

Leave a Reply