Rumah Makan di Makassar Diteror Kepala Kambing Busuk, Motif Pesugihan?

TEROR. Polisi membuka bungkusan berisi kepala kambing busuk yang menjadi teror yang dikirim orang yang tidak dikenal di sebuah rumah makan di Makassar.

TEROR. Polisi membuka bungkusan berisi kepala kambing busuk yang menjadi teror yang dikirim orang yang tidak dikenal di sebuah rumah makan di Makassar.

KLIKSANDI.COM, Makassar Sebuah rumah makan di Jalan Abdullah Daeng Sirua tiba-tiba heboh di media sosial. Rumah makan ini tiba-tiba diteror kepala kambing busuk. Apa motifnya?

“Pemilik warung sudah melapor di kantor. Awalnya dikira kepala anjing karena mirip. Tapi ternyata kepala kambing,” ujar Kanit Reskrim Polsek Panakukang, Iptu Nasrullah.

Teror kepala kambing busuk itu terjadi pada Jumat (2/1/2026) sekitar pukul 20.40 WITA. Pemilik rumah makan di Jalan Abdullah Daeng Sirua dikagetkan adanya bungkusan misterius berupa plastik kresek warna merah.

Atas penemuan paket tersebut di depan rumah makan, pemiliknya lalu curiga dan memanggil polisi atas kiriman tersebut. Dari video viral di media sosial, terlihat anggota polisi memeriksa bungkusan tersebut.

Dalam unggahannya, awal dikira kepala anjing, namun setelah di buka ternyata kepala kambing yang mengeluarkan bau tidak sedap. Bhabinkamtibmas Kelurahan Karampuang, wilayah kerja Polsek Panakukang, Aiptu Sahri membenarkan hal tersebut.

Dalam potongan video viral tersebut, terlihat polisi beserta pemilik warung membuang kepala kambing itu ke tempat sampah. Sejauh ini penyidik Polsek Panakukang masih melakukan penyelidikan serta motifnya.

“Masih diselidiki, belum tahu (motif). Korban sudah melapor. Ini sementara didalami, nanti kalau ada perkembangan kita kabari,” tutur mantan Kasubdit II Jatanras Polrestabes Makassar ini.

Tumbal Pesugihan?

Bagi suku Jawa, kepala kambing sering dikaitkan dengan tumbal pesugihan. Biasanya, tumbal seperti ini dikirimkan oleh orang yang ingin agar usaha orang lain mati.

Rumor pesugihan ini sebenarnya sudah diteliti oleh lima mahasiswa Universitas Brawijaya. Rumor pesugihan ini kerap terjadi di Gunung Kawi.

Lima mahasiswa UB ini adalah Muhammad Harun Rasyid Al Habsyi, Zulfikar Dabby Anwar, Suntari Nur Cahyani, Anggi Zahwa Romadhoni, dan Andini Laily Putri. Mereka berasal dari Fakultas Pertanian dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Dosen pembimbing mereka yakni Ibu Destyana Ellingga Pratiwi, SP., MP., MBA. Mereka berupaya mengungkap keterkaitan antara praktik mistisisme di Gunung Kawi dengan gangguan mental, khususnya skizofrenia psikosis.

Tim ekspedisi dan penelitian yang diberi nama Artha Kawi itu kemudian mencari jejak pelaku ritual, untuk mengungkap kebenaran pesugihan Gunung Kawi meminta tumbal nyawa.

Gunung Kawi berada di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Dibutuhkan waktu setidaknya 1,5 sampai 2 jam berkendara dari pusat Kota Malang menuju Gunung Kawi, yang berada di ketinggian 2.551 mdpl.

Salah satu peneliti Artha Kawi, Harun Rasyid Al Habsyi mengatakan sejumlah fakta ditemukan dalam ekspedisi yang dilakukan selama kurang lebih dua bulan itu. Di mana konsep harta dibalas nyawa dalam praktik pesugihan Gunung Kawi, dimaknai sebagai pengorbanan yang harus dilakukan oleh pelaku pesugihan, atas tujuan dari individu tersebut.

Pengorbanan yang harus dilakukan oleh pelaku pesugihan tidak sama antara satu orang dengan lainnya. Pengorbanan tergantung dari motif pesugihan yang dijalani.

Tim peneliti menemukan keterangan bahwa kebanyakan permintaan yang disampaikan adalah mencari kekayaan, derajat atau pangkat, serta penglaris usaha bisa juga untuk mematikan usaha orang lain.

“Persyaratan yang umum dan muncul di hasil wawancara beberapa informan, adanya penumbalan kambing dengan syarat bercorak sabuk melingkar di perutnya dan dalam bentuk selametan,” ujar Harun.

Mahasiswa Fakultas Pertanian ini menambahkan, banyak pelaku pesugihan melakukan proses ritual pada hari-hari tertentu. Misalnya pada malam Jumat Legi atau Malam 1 Suro. Selama proses ritual, lanjut Harun, pelaku wajib memberikan pengorbanan yang sudah disyaratkan sebelumnya.

Kendati begitu, Harun menegaskan bahwa keterangan yang diperoleh dari warga lokal terkait adanya pengorbanan dalam ritual pesugihan di Gunung Kawi, belum dapat dipastikan kebenarannya.(egg)

Leave a Reply