KLIKSANDI.COM, Gowa — Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang kembali mengumpulkan simpul-simpul pemenangannya saat Pileg dan Pilkada 2024. Dia hadir di tengah ratusan para pejuangnya untuk terus menjalin silaturahmi.
Kegiatan ini digelar di Pantai Bosowa, Makassar, pada Sabtu (29/11/25). Ratusan loyalis berkumpul untuk menghadiri acara silaturahmi dengan penuh antusias.
Meski dengan kesibukannya yang sangat padat sebagai Bupati, Husniah tetap meluangkan sejenak waktunya, berinisiatif menghadiri acara silaturahmi tim militannya di Pileg 2024 lalu.
Kehadiran Husniah Talenrang semakin menambah semangat loyalisnya yang tergabung dari puluhan Komunitas. Acara silaturrahmi yang berlangsung di Kota Makassar ini tak hanya menjadi ajang silaturahmi, namun juga menunjukkan masih besarnya dukungan loyalis Husniah Talenrang.
Ketua Tim Kita Gowa, Deng Ajang Malik, dalam sambutannya menyatakan kebanggaannya atas kesediaan Husniah Talenrang hadir langsung di lokasi acara silaturrahmi.
Teman-teman dari berbagai bendera, hari ini kita kembali bersua setelah satu tahun berlalu sejak kita bertarung bersama di lapangan, setelah kita mengibarkan panji-panji bendera masing-masing. Hari ini, saya kira bendera-bendera itu tetap akan kita pegang dan kita kawal hingga langkah-langkah berikutnya.
Dimulai dari Asamaturu sebagai sebuah bibit-bibit yang ditanam hari ini oleh Kita Gowa, kemudian Kita Petarung, Juara, Pas, Matahari Muda, Rewata, Hamba Allah, Lurus Jaya, Kapal Udara, Srikandi Arjuna, dan masih banyak lagi.
“Mohon maaf tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Semua bendera yang kita kibarkan, insya Allah, akan selalu kompak berjalan bersama. Bendera-bendera ini ibarat pohon yang kita tanam: akarnya akan menahan agar pohon itu tidak goyah,” ujar Ajang Malik sapaan karibnya.
Lanjut kata dia, semakin besar pohon itu, semakin kuat ia menghadapi angin. Namun bila akar-akar itu tidak kita rawat, tentu pohonnya akan mudah goyang. Karena itu, kebersamaan, kekompakan, dan pikiran-pikiran baik harus terus kita pelihara.
“Nasib manusia tidak jauh dari apa yang ia pikirkan. Bila kita senantiasa memikirkan hal-hal baik, maka hasilnya pun akan baik,” jelasnya.
“Sebuah pohon besar selalu menjadi tempat bagi banyak orang untuk berlindung dan berteduh. Maka, kita harus menerima siapa pun yang datang berteduh di bawahnya. Sebab itu, akar-akar pohon ini harus selalu dijaga, jangan sampai ada yang berusaha meracuninya hingga membusuk,” terangnya.
Saya pernah berdiskusi dan memegang sebuah pepatah orang-orang terdahulu: “Kalau Garuda menempel di dadamu, maka perbanyaklah teman. Karena ketika Garuda itu terbang, yang tersisa hanyalah temanmu,” sambungnya.
“Teman yang baik adalah mereka yang bertahan bukan karena pangkat, jabatan, kehormatan, atau harta, tetapi karena karakter, sifat, dan kebersamaan yang saling kita kagumi. Ketika pangkat, jabatan, dan harta tak lagi kita miliki, pertemanan itu tetap terjalin,” ujarnya.
“Pesan-pesan ini, kata Ajang, perlu kita rapikan, kita rangkul bersama, untuk terus mengembangkan cerita-cerita baik, serta mengembangkan dan meng-counter isu-isu yang mencoba meracuni akar pohon besar yang kita jaga ini,” pungkasnya.
Sementara itu, dalam sambutannya, Husniah Talenrang menyampaikan bahwa kebersamaan hari ini adalah wujud bahwa kita semua adalah satu keluarga.
“Saya bukan siapa-siapa, saya bukan apa-apa tanpa kehadiran dan dukungan kita semua. Kemarin, saya hanyalah seorang pengusaha kecil, seorang penjual beras yang hanya bermodalkan karakter,” ujarnya.
Dari perjalanan hidupnya, ia belajar bahwa sebuah cerita dapat menghibur dan menguatkan banyak orang.
“Jika orang lain bisa, kenapa saya tidak bisa mengembangkan diri untuk memberi manfaat bagi seluruh masyarakat Gowa? Itulah hikmah yang saya ambil, pesan yang selalu saya pegang dari kedua orang tua dan keluarga saya,” lanjutnya.
Ia menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi cahaya yang memberi manfaat.
“Kita sudah sekolah setinggi-tingginya. Sekarang saya pun tengah menempuh S3. Maka ilmu itu harus dikontribusikan, agar kelak dikenang sepanjang masa.”
Husniah kemudian menyebut bahwa ia mungkin menjadi Bupati perempuan pertama, namun bukan yang terakhir.
“Akan lahir Husniah Talenrang lain, pemimpin-pemimpin perempuan masa depan, yang belajar dari pengalaman hari ini untuk menjadi teladan, menjadi pemimpin, dan menjadi ibu bagi semuanya,” ungkap Husniah Talenrang.
Ia bercerita: “Saudara-saudaraku, Saribattangku ngase, yang saya cintai dan banggakan. Husniah Talenrang itu lahir di tahun 2018. Saat itu, ibu sayalah, lagi-lagi ibu—yang menasihati saya: jika ingin menjadi orang yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bagi orang Gowa, jangan hanya menjadi politikus, tapi jadilah pemimpin yang berpikir untuk menyejahterakan banyak orang.”
Ibu saya menuturkan bahwa dirinya adalah seorang guru, dan dari profesi itulah ia belajar bahwa mencerdaskan anak orang lain adalah bentuk pengabdian.
“Kalau guru bisa mencerdaskan generasi, maka dengan niat dan tekad yang baik, kita semua bisa menyejahterakan orang banyak,” katanya.
Ibu saya pula, kata Husniah yang mendorongnya masuk ke dunia politik.
“Tapi politik itu harus dijalani dengan pikiran positif, jangan miring-miring,” pesan sang ibu yang selalu ia ingat.
Ia pun meyakinkan bahwa ia tidak pernah berjalan sendiri. “Saya punya keluarga besar, ‘nake keluarga lompo’. Bahkan ibu saya sampai harus berjalan diam-diam saat saya di Mekkah untuk menguatkan jaringan keluarga di Bontonompo dan Bontonompo Selatan.”
Saat itu, lanjut Husniah ia maju di Dapil 5 dan mendapat dukungan besar dari keluarga serta sahabat-sahabat seperti Deng Ajang Malik, Deng Tiro, dan banyak sosok lain yang bekerja di belakang layar.
“Merekalah yang membantu saya menjadi politisi yang baik, yang kelak dapat dicintai masyarakat Kabupaten Gowa,” ungkapnya.
Perjalanan itu tidak mudah. “Awal saya berbicara di depan umum, saya masih kaku. Tapi Alhamdulillah, tahun 2019 saya terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Gowa.”
Ia lalu menggambarkan kekuatan perjuangannya dengan sebuah analogi: “Semakin besar pohon, semakin besar pula angin yang menerpa. Tapi saya yakin akar-akar saya semakin kuat untuk menopangnya.”
Ia juga menyampaikan permohonan maaf karena tidak selalu memiliki waktu untuk duduk bersama masyarakat.
“Menjadi eksekutif berarti mengambil kebijakan yang harus berpihak bukan kepada satu orang, tetapi kepada seluruh masyarakat Kabupaten Gowa,” jelasnya.
Waktu, tenaga, dan pikirannya habis untuk memikirkan kebijakan dari A sampai Z. Namun ia tahu bahwa masyarakat merindukan kebersamaan.
“Banyak yang bertanya, kapan Ibu Bupati bisa diajak ngopi bareng? Bukan hanya Pak Ustadz Kamaruddin, bukan hanya Deng Ajang, tetapi semuanya. Saya ingin memastikan bahwa siapa pun bisa bertemu dengan saya, karena di tempat ini, saya punya tanggung jawab, memang berinisiatif untuk temu kangen dengan tim,” pungkasnya.
Ia menutup dengan menyampaikan bahwa masa pemerintahannya sebagai Bupati akan memasuki usia satu tahun pada 20 Februari mendatang.
“Sebelum genap satu tahun saya memimpin, saya ingin bertemu dengan saudara-saudaraku hari ini. Ini adalah inisiatif saya, dari hati saya,”tutupnya.(egg)

Leave a Reply