KLIKSANDI.COM, Maros — Penerimaan Peserta Didik Baru ( PPDB ) di Maros berpolemik. Warga yang berdomisili tidak jauh dari sekolah, tetapi anaknya tidak lolos PPDB di Maros mengaku akan membuat kelas dari bambu.
Mereka mulai mengumpulkan bambu di depan sekolah. Jika tidak ada solusi dari pihak sekolah, maka para orang tua itu akan membangun kelas dari bambu agar anaknya bisa bersekolah.
“Anak Kami Berhak Sekolah di Sekitar Rumah” kata salah seorang wali murid, Abdullah Rasid.
Rumah Abdul Rasyid hanya berjarak beberapa ratus meter dari sekolah, tetapi sang anak tidak lolos jalur zonasi. “Kalau tidak dikasih tempat di sekolah ini, kami siap membuat kelas dari bambu dan menutup akses masuk sekolah. Ini bentuk protes kami, agar pihak terkait mendengarkan,” tegas Abdulah.
Hal yang sama juga diungkapkan warga lainnya, Juniati. Dia mengaku, ayahnya dulu adalah salah satu tokoh masyarakat yang menghibahkan tanahnya untuk sekolah itu. Tetapi sayangnya, cucu dari tokoh masyarakat itu tidak bisa bersekolah di tanah hibahnya itu.
“Dulu kakek kami menghibahkan tanah ini agar anak-anak sekitar dapat mengenyam pendidikan yang layak. Sekarang, cucunya sendiri tidak diterima. Kami mohon, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel dapat mendengar suara kami,” ujarnya dengan nada pilu.
Ruang Kelas Berkurang
Ketua Komite SMA Negeri 8 Maros, Wahyu, juga angkat bicara. Ia mengungkapkan bahwa jumlah ruang kelas dari tahun ke tahun terus berkurang dari 8 ruang kelas di tahun 2022, menjadi 7 di tahun 2023, dan kini hanya tersisa 6 ruang kelas di tahun 2025.
“Ini sangat ironis. Jumlah siswa terus bertambah, tetapi ruang kelas berkurang. Sekolah tak mampu mengakomodasi kebutuhan warga sekitar. Kami berharap minimal 90 siswa dari daerah sekitar dapat diterima. Jika perlu, jumlah ruang kelas dikembalikan ke angka semula,” tegas Wahyu.
Kondisi ini turut disayangkan oleh Anggota Komisi Satu DPRD Kabupaten Maros, Sri Hastuti Willy Wahyu. Ia menilai permasalahan ini harus segera dijawab dengan langkah nyata dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan.
“Jangan hanya karena terbatasnya ruang kelas, anak-anak dari Desa Tenringangkae dan Kecamatan Mandai tidak dapat bersekolah. Ada dua opsi yang perlu segera dilakukan, yakni penambahan ruang kelas di SMA Negeri 8 Maros atau pembangunan sekolah negeri yang baru di daerah Mandai,” tegas Sri Hastuti.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel, Andi Iqbal Najamuddin, menjelaskan pihaknya tidak berpangku tangan atas permasalahan ini. Ada dua pola yang sedang dijajaki untuk mengatasinya.
Saat ini, pihak Dinas Pendidikan juga sedang mempersiapkan izin operasional dan struktur manajemen sekolah tersebut, termasuk penunjukan pelaksana tugas kepala sekolah hingga tenaga pengajar.(egg)

Leave a Reply