Deretan Nama yang Bisa Jadi Penantang Gibran di Pilpres 2029, Siapa Mereka?

Direktur Eksekutif Indaktor Politik Indonesia, Prof Burhanuddin Muhtadi

Direktur Eksekutif Indaktor Politik Indonesia, Prof Burhanuddin Muhtadi

KLIKSANDI.COM, Jakarta Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Prof. Burhanuddin Muhtadi membeberkan sejumlah figur yang disebut-sebut memiliki kans untuk menjadi penantang Gibran di Pilpres 2029. Dia menyebut, tahapan pemilu sudah mulai digelar pada 2026 mendatang, dan sejumlah nama mulai bermunculan.

Prof Burhanuddin Muhtadi menyebut adanya kelompok pemilih yang puas terhadap kinerja Presiden Prabowo. Tetapi, pemilih itu tidak akan memilih Prabowo, nantinya. Dia menyebut, istilah ini dengan nama “Prabowo satisfied nonvoters”.

“Ada gap kurang lebih sekitar 30 persen orang yang puas tapi tidak memilih,” kata dia, kepada wartawan.

Sejumlah nama muncul dalam radar politik 2029. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, misalnya, disebut sebagai figur yang pertumbuhannya paling mengejutkan. Basis pendukungnya disebut kuat terutama di Jawa Barat.

“Basis pemilih Dedi Mulyadi itu besar sekali… bahkan mengalahkan Pak Prabowo di Jawa Barat,” ungkapnya dilansir pada Rabu (24/12).

Selain itu, Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan, juga menjadi figur yang melesat cepat. Dalam waktu dua bulan, tingkat pengenalannya meningkat signifikan, dan dalam beberapa survei elektabilitas ia menyodok ke posisi atas.

Prof. Burhanuddin mencatat tingkat kedikenalan Purbaya sudah mencapai 40 persen. “Elektabilitasnya tiba-tiba menyodok ke peringkat keenam,” jelas Burhanuddin.

Tokoh lain termasuk Letkol Teddy Indra Wijaya, Anies Baswedan, dan sejumlah elite partai yang sedang memetakan kekuatan politik menuju pemilihan lima tahun mendatang.

Isu mengenai Pemilu 2029 mulai relevan sejak kini karena kalender politik Indonesia bergerak cepat. Tahapan pemilu akan dimulai tahun depan, sehingga para elite partai, menteri, dan aktor politik mulai menghitung posisi kekuatan masing-masing.

“Mulai tahun depan sudah mulai gerilya menjelang Pemilu energi politisi pasti berkurang,” tegasnya.

Prof. Burhanuddin mengangkat isu 2029 bukan sekadar untuk memprediksi kontestasi politik, tetapi sebagai peringatan analitis agar pemerintah lebih responsif terhadap data ekonomi dan politik yang sedang bergerak.

Ia menyoroti bahwa kondisi ekonomi yang belum pulih, daya beli masyarakat yang tertekan, serta kebijakan-kebijakan yang masih bersifat populis dapat mempengaruhi peta kekuasaan di masa depan.

“Harus segera direspons kalau tidak angin positif bisa berbalik menjadi angin badai,” katanya.

Dengan kata lain, pembahasan tokoh-tokoh 2029 tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan erat dengan kebutuhan melakukan koreksi kebijakan. Pemerintah perlu menyadari bahwa dinamika sosial-ekonomi akan memengaruhi komposisi dukungan politik, dan tokoh-tokoh baru dapat tiba-tiba muncul sebagai alternatif jika situasi tidak ditangani secara strategis.

Ia juga mengangkat isu ini karena melihat pola besar: pergeseran loyalitas pemilih, kemunculan figur-figur baru yang naik eksponensial, serta hubungan elite politik yang juga berubah. Semua faktor tersebut membuat isu 2029 menjadi penting dibahas sedini mungkin.

Jika tren kepuasan, elektabilitas, dan kondisi ekonomi tidak dikelola dengan baik, maka ruang bagi tokoh-tokoh baru atau alternatif semakin terbuka. Dedi Mulyadi bisa naik lebih tinggi, Purbaya dapat memanfaatkan kinerja ekonominya, Gibran bisa mempertahankan momentum panggung internasionalnya, hingga partai-partai dapat memetakan ulang koalisi.(egg)

Leave a Reply