Mitos dan Sejarah Jembatan Kembar Gowa, Warga: Perbaiki Niat saat Melintas!

MITOS. Foto Jembatan kembar Gowa yang direkam dari udara.

MITOS. Foto Jembatan kembar Gowa yang direkam dari udara.

KLIKSANDI.COM, GowaAda banyak kasus kematian yang terjadi di Jembatan Kembar, Kabupaten Gowa. Bagi warga sekitar, jembatan kembar Gowa bernilai mistis. Ada mitos jika ingin melintasi jembatan itu, harus memperbaiki niat. Jangan pernah berniat jahat.

Jembatan kembar yang menjadi perlintasan menyeberangi sungai Jeneberang ini adalah jembatan bersejarah. Satu sisi jembatan itu diketahui sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Salah satu dari dua jembatan itu sudah ada sejak abad ke-20. Pondasi lama jembatan itu terlihat dari sekitar tahun 1905-1911. Jembatan ini sudah ada sebelum Istana Balla Lompoa, yang baru dibangun pada tahun 1936.

Rata-rata mereka yang lompat atau pun jatuh di jembatan itu tak mampu selamat. Ada banyak kejadian di jembatan ini, bunuh diri, kecelakaan lalu lintas, hingga kecelakaan di penyeberangan sungai.

Bagi warga sekitar, ada mitos saat melintasi jembatan itu. Konon setiap orang yang menyeberang, harus memperbaiki niatnya. “Jangan sembarang mencela. Perbaiki niat kalau lewat. Jangan berkata tidak baik, jangan berniat buruk,” kata seorang warga sekitar, Daeng Talli.

Dia mengaku, jembatan kembar ini tempat perlintasan sungai Jeneberang. Sungai Jeneberang ini adalah sungai terbesar di Sulsel dengan hulu sungai adalah Gunung Bawakaraeng. Mitos lain yang berkaitan dengan daerah sekitar sungai ini adalah legenda yang terhubung dengan sejarah Kerajaan Gowa-Tallo dan kegiatan ritual di Gunung Bawakaraeng.

Panjang Sungai Jeneberang berkisar antara 75 hingga 80 kilometer. Sungai Jeneberang berhulu di Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang, mengalir dari timur ke barat.

Muaranya di Selat Makassar di dekat Barombong dan Tanjung Bayang. Jembatan ini sudah sejak tahun 1905. Dulu hanya ada satu, yakni jembatan sisi timur. Sementara itu, jembatan sisi barat adalah jembatan baru.

Struktur jembatannya adalah beton. Jembatan ini mulai mendapatkan perhatian serius dan menjadi ikon kota. Pada 11 Oktober 2025, Seorang mahasiswa berinisial Nur Ichsan (21) terjatuh di Jembatan Kembar itu. Sejumlah media menyebut korban terjatuh setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Sempat beredar kabar jika korban jatuh karena bunuh diri. Korban diketahui ditemukan meninggal dunia setelah pencarian selama 18 jam oleh Tim SAR Gabungan.

Pada 2014 lalu, seorang wanita berinisial FU (30) mengakhiri hidupnya di jembatan itu. Tak hanya itu, CR, seorang warga Tamarunang, Kecamatan Pallangga, Gowa hendak bunuh diri dengan melompat di Jembatan Kembar pada 2022. Sebelumnya, Kamis (6/3/2024), seorang perempuan pun nyaris mengakhiri hidupnya. Beruntung wanita itu selamat setelah seorang anggota polisi mencegah aksi perempuan itu.

Kasus terbaru adalah seorang perempuan berinisial RK (25) melompat dari Jembatan Kembar ke Sungai Jeneberang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, pada Rabu (22/10/2025) sore.

Aksi nekat ini langsung menghebohkan masyarakat sekitar dan beruntung, sejumlah warga segera bertindak cepat menolong korban. Warga berhasil menyelamatkan RK tak berselang lama setelah kejadian.

Warga Desa Bontojai, Kecamatan Parangloe, Gowa, ini sekarang menjalani perawatan di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Syekh Yusuf Gowa. RK mengaku naik ojek online dari Makassar menuju Sungguminasa, Gowa, untuk ke tempat kerjanya.

“Saya turun di taman depan Pasar Minasa Maupa, lalu tiba-tiba tidak sadar jalan ke Jembatan Kembar dan loncat ke sungai,” ungkap RK yang kini terbaring dirawat.

Kepala SPKT Polres Gowa, Ipda Ahmad Hari, membenarkan kejadian ini. “Benar, tadi ada warga yang melompat ke Sungai Jeneberang. Tapi warga sekitar berhasil menyelamatkannya,” jelasnya.(egg)

Disclaimer: Kami menyajikan informasi ini dengan kepedulian. Jika Anda merasa tertekan, depresi, atau memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup, segera mencari bantuan!

Leave a Reply