KLIKSANDI.COM, Luwu — Aksi unjuk rasa menuntut pemekaran Luwu Raya di sejumlah wilayah terus terjadi. Blokade jalan trans Sulsel di daerah ini memicu terjadinya inflasi. Di beberapa daerah, harga bensin eceran mulai naik tajam. Bahkan ada yang tembus Rp40 ribu per liter. Sementara, antrian panjang di SPBU mulai terjadi.
Salah seorang warga Luwu Timur, Rahmat mengaku antrian kendaraan untuk membeli bahan bakar di pertamina sudah mulai mengular. Sementara, harga bensin eceran di jalan raya sudah tembus Rp40 ribu per botol ukuran satu liter.
“Bensin sudah tembus Rp40 ribu di sini. Di Mahalona,” kata dia. Sekedar diketahui, Mahalona adalah salah satu desa di Kecamatan Towuti, Luwu Timur.
Hal yang sama juga terjadi di Wawandula. Di sini, bensin eceran sudah tembus di angka Rp35 ribu per botol. Tidak hanya bensin, tabung gas elpiji juga sudah mulai sulit didapatkan di pasaran.
“Tabung elpiji di Wawandula sudah mulai susah didapat,” kata Linda.
Hingga sore ini, ratusan kendaraan roda empat, mulai dari truk, bus, hingga mobil angkutan bahan bakar minyak (BBM), terjebak kemacetan panjang akibat aksi blokade Jalan Trans Sulawesi di Desa Marabuana, Kecamatan Walenrang Utara, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Sabtu (24/1/2026) siang.
Aksi tersebut menyebabkan arus lalu lintas lumpuh total dari dua arah, sehingga kendaraan tidak dapat melintas dan terpaksa berhenti di lokasi antrean yang mengular hingga beberapa kilometer.
Jenderal Lapangan aksi Aliansi Mahasiswa Wija To Luwu, Alif Nugraha, mengatakan blokade jalan dilakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah yang dinilai belum merealisasikan pembentukan Kabupaten Luwu Tengah dan Provinsi Luwu Raya.
“Dua tuntutan tersebut menjadi fokus utama kami dalam aksi ini yang telah berlangsung selama dua hari,” kata Alif, Sabtu (24/1/2026) siang.
Aksi blokade dilakukan dengan cara menebang sejumlah pohon yang kemudian dijadikan palang untuk menutup badan jalan. Akibatnya, kendaraan yang melintas tidak dapat melanjutkan perjalanan.
Kemacetan panjang ini berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat dan distribusi logistik, termasuk kendaraan pengangkut BBM. Sejumlah sopir mengaku telah tertahan berjam-jam tanpa kejelasan kapan jalan akan kembali dibuka.
“Sejak kemarin kami tertahan disini, keluarga kami sudah menanti, usaha kami juga terancam bangkrut,” ucap Nuri, salah satu pengemudi yang terjebak macet.
Aliansi Mahasiswa Wija To Luwu menilai lambannya pembangunan dan pelayanan publik di wilayah Luwu Raya menjadi alasan utama tuntutan pembentukan Kabupaten Luwu Tengah. Selain itu, mereka juga mendorong pemekaran Provinsi Luwu Raya, karena menilai wilayah tersebut belum mendapatkan perhatian optimal selama berada di bawah naungan Provinsi Sulawesi Selatan.
“Selama ini kami menilai sering terjadi keterlambatan pembangunan serta pengalokasian anggaran di sektor ekonomi, kesehatan, dan politik. Bahkan, kami juga melihat adanya perlakuan diskriminatif terhadap Wija To Luwu, termasuk mahasiswa yang menempuh pendidikan di Makassar,” ujar Alif.(egg)

Leave a Reply