Dialog Publik Sun Squad Institut, Husniah Talenrang: Pemerintah Hadir untuk Melayani, Bukan Dilayani

DIALOG. Bupati Gowa, Husniah Talenrang, menjadi narasumber dalam dialog publik bertajuk “Ngopi Awal Tahun, berlangsung di Posko Sun Squad Institute, Jalan Singa, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Senin (12/1).

DIALOG. Bupati Gowa, Husniah Talenrang, menjadi narasumber dalam dialog publik bertajuk “Ngopi Awal Tahun, berlangsung di Posko Sun Squad Institute, Jalan Singa, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Senin (12/1).

KLIKSANDI.COM, Makassar Bupati Gowa, Husniah Talenrang, menjadi narasumber dalam dialog publik bertajuk “Ngopi Awal Tahun, berlangsung di Posko Sun Squad Institute, Jalan Singa, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Senin (12/1).

Mengangkat tema “Sinergitas Pemerintah Daerah dalam Hal Sentuhan Langsung dengan Masyarakat”

Kegiatan ini menjadi ruang bertemunya pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat untuk berdiskusi secara konstruktif mengenai pelayanan publik dan pembangunan daerah.

Dalam pemaparannya, Bupati Husniah menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam pelayanan publik.

Menurutnya, pelayanan bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan wujud nyata kehadiran negara di tengah masyarakat.

“Pelayanan publik bukan hanya urusan meja kantor. Ia adalah wajah negara yang pertama kali dirasakan masyarakat, terutama di daerah. Prinsip yang harus kita pegang adalah: pemerintah hadir bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani,” terang Bupati Husniah.

Ia menambahkan, sebagai garda terdepan yang berhadapan langsung dengan warga, kualitas pelayanan pemerintah daerah sangat menentukan rasa keadilan, keamanan, dan kepercayaan masyarakat terhadap negara.

“Pemerintah tidak boleh hanya hadir melalui kebijakan di atas kertas. Pemerintah harus turun, mendengar, dan hadir langsung di tengah masyarakat. Dialog seperti ini penting agar kebijakan yang lahir benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan,” jelasnya.

Dengan analogi sederhana, Bupati perempuan pertama menjabat di Gowa ini juga menggambarkan pelayanan publik sebagai pintu utama sebuah rumah.

“Kalau pelayanan publik kita ibaratkan pintu rumah, dari situlah orang menilai seluruh isi rumahnya. Jika layanan lambat, berbelit, dan tidak jelas, masyarakat merasa negara jauh. Namun jika layanan cepat, ramah, akuntabel, dan solutif, masyarakat akan merasakan negara itu dekat,” jelasnya.

Ia menegaskan filosofi pelayanan yang dipegang Pemerintah Kabupaten Gowa adalah bahwa pelayanan bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bentuk pengabdian kepada rakyat.

“Bukan hanya mengurus berkas, tetapi mengurus kehidupan,” tegasnya.

Untuk memastikan pelayanan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat, dengan fokus perhatian pada tiga sektor utama yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari warga, yakni pendidikan, kesehatan, dan layanan administrasi kependudukan.

Ketua DPW PAN Sulawesi Selatan ini turut memaparkan strategi penanggulangan kemiskinan ekstrem di Kabupaten Gowa.

Menurutnya, terdapat tiga langkah utama yang menjadi fokus pemerintah daerah. Pertama, akurasi data, dengan memanfaatkan data P3KE agar intervensi tepat sasaran—jelas siapa yang dibantu, di mana lokasinya, dan apa kebutuhannya.

Kedua, intervensi spesifik, tidak hanya berupa bantuan tunai, tetapi juga pemberdayaan melalui pelatihan UMKM, bantuan alat pertanian dan perikanan, serta penguatan keterampilan agar keluarga penerima manfaat dapat mandiri.

Ketiga, kolaborasi lintas sektor, melibatkan SKPD, Baznas, dan berbagai pihak terkait agar program penanggulangan kemiskinan berjalan terpadu dan tidak parsial.

“Alur program ini seperti pendampingan kasus. Dimulai dari keluarga miskin ekstrem, dilakukan asesmen menyeluruh untuk mengetahui penyebabnya, lalu keluarga dipasangkan dengan Orang Tua Asuh. Dari situ ditentukan bentuk intervensi yang paling tepat,” jelasnya.

Tujuan program ini adalah menghapus kemiskinan ekstrem sekaligus meningkatkan pendapatan dan produktivitas masyarakat secara berkelanjutan.

Dialog publik ini juga menghadirkan Bupati Maros, Chaidir Syam, sebagai narasumber yang berbagi pengalaman terkait pentingnya sinergi dan kolaborasi antar pemerintah daerah.

Ia menilai Sun Squad Institute sebagai ruang yang sejuk dan terbuka untuk berdiskusi serta mencari solusi bersama atas berbagai persoalan daerah dan bangsa.

“Tempat ini menjadi ruang kolaborasi. Di sinilah kita mencari jalan-jalan terbaik untuk mengentaskan persoalan yang kita hadapi bersama,” ujarnya.

Bupati Maros dua periode tersebut juga menekankan pentingnya kekuatan silaturahmi dalam menghadapi berbagai dinamika dan tantangan pemerintahan.

“The power of silaturahmi itu sangat penting. Saya merasakan sendiri, dengan menjaga silaturahmi, banyak persoalan yang bisa dituntaskan meski tantangannya tidak mudah,” ungkapnya.

Diskusi semakin dinamis dengan kehadiran Rijal Jamal sebagai moderator, serta Harmansyah dan Prof. Zakir Sabara sebagai panelis yang memberikan pandangan kritis dan solutif.(egg)

Leave a Reply