Harga BBM Diprediksi Naik per 1 Maret, Ini Hitungannya

Ilustrasi: BBM

Ilustrasi: BBM

KLIKSANDI.COM, Jakarta — Harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi diperkirakan akan mengalami kenaikan per 1 Maret mendatang. Proyeksi ini muncul seiring kenaikan harga minyak dunia di tengah pergerakan nilai tukar rupiah yang relatif stabil.

Harga minyak mentah dunia di sepanjang Februari 2026 mengalami kenaikan, mesikpun nilai tukar rupiah cukup stabil terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kedua indikator ini cukup penting dalam menentukan kenaikan atau penurunan harga BBM non-subsidi di Indonesia.

Melansir data Refinitiv, rata-rata harga minyak brent berada di level US$69,37 per barel pada Ferbuari 2026, naik 7,17% dibandingkan harga rata-rata di bulan sebelumnya yang tercatat sekitar US$64,73 per barel.

Sementara itu, harga rata-rata minyak West Texas Index (WTI) sebesar US$64,44 per barel di Februari juga mengalami kenaikan sebesar 7,01% dibandingkan rata-rata harga Januari lalu yang sebesar US$60,22 per barel.

Harga minyak dunia sepanjang Februari 2026 cenderung naik, terutama didorong meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Kekhawatiran ini makin besar karena sekitar seperlima aliran minyak global melewati Selat Hormuz, sehingga setiap eskalasi konflik di kawasan tersebut langsung mendorong pasar menambahkan premi risiko ke harga minyak.

kekhawatiran pasar terhadap ketegangan AS-Iran telah membantu mendorong harga Brent ke level tertinggi dalam enam bulan terakhir.

Iran sendiri merupakan salah satu produsen penting di kelompok negara pengekspor minyak. Karena itu, pasar melihat setiap potensi gangguan produksi maupun distribusi dari Iran sebagai faktor yang bisa mengganggu keseimbangan pasokan global.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar juga mencermati kemungkinan langkah antisipasi dari produsen besar lain, termasuk opsi penambahan produksi secara bertahap oleh OPEC+ pada April mendatang, yang sejauh ini ikut menahan kenaikan harga agar tidak melesat lebih tinggi.

Meski demikian, kenaikan harga minyak tidak berlangsung tanpa hambatan. Dari sisi fundamental, lonjakan persediaan minyak mentah Amerika Serikat sempat menjadi faktor penekan pasar.

Stok minyak mentah AS pada pertengahan Februari naik 8,5 juta barel, jauh di atas ekspektasi pasar, seiring kenaikan impor dan turunnya utilisasi kilang. Karena itu, meskipun sentimen geopolitik tetap dominan, lonjakan stok di AS membatasi ruang penguatan harga minyak lebih lanjut.

Sementara itu, nilai tukar rupiah bergerak stabil cenderung menguat di sepanjang Februari ini. Rupiah mengalami kenaikan 0,12% terhadap dolar AS sejak awal bulan hingga penutupannya di perdagangan Jumat (27/2/2026) di posisi Rp16.760/US$.(egg)

Leave a Reply