DI sebuah sore yang ramai, suara sorak anak muda kadang terdengar seperti gelombang kecil yang memukul dinding waktu. Mereka berkumpul, mata menatap layar, tangan bergerak cepat, strategi dibicarakan dengan bahasa yang hanya dipahami sesama pemain. Tapi di sudut lain, ada aroma yang lebih tua dari semua teknologi: bau gorengan, kopi panas, dan makanan rumahan yang selalu punya cara diam-diam menenangkan kepala.

Penulis: DR H Rohandi
(Ketua E-Sports Indonesia Kabupaten Gowa)
Di situlah saya mulai percaya: masa depan Gowa tidak harus memilih salah satu—antara digital dan tradisi. Ia bisa merangkul keduanya.
E-sports sering dipandang sebagai dunia yang terpisah dari kebudayaan. Seolah ia lahir tanpa akar, hanya hidup dari tren, dan akan mati ketika tren berganti. Padahal e-sports adalah magnet sosial paling kuat untuk generasi muda hari ini. Ia menarik perhatian, membentuk komunitas, menumbuhkan disiplin, dan menciptakan ekosistem baru: atlet, pelatih, analis, caster, event organizer, desainer, videografer, hingga kreator konten. Di dalamnya ada kerja tim, mental kompetisi, dan ketekunan yang tidak bisa dianggap remeh.
Namun, magnet yang besar juga punya risiko: ia bisa menarik anak muda menjauh dari tanahnya sendiri jika tidak diarahkan.
Gowa bukan kabupaten yang kosong cerita. Ia adalah tanah yang kaya peradaban—tempat sejarah tidak hanya hidup di buku, tetapi menyelinap dalam kebiasaan, bahasa, cara orang tua menegur, dan cara kita menjaga harga diri. Tetapi di era digital, sejarah sering kalah oleh kecepatan. Budaya sering kalah oleh viralitas. Tradisi pelan-pelan bisa berubah menjadi pajangan: terlihat, tapi tak lagi dirasakan.
Di titik itulah saya melihat satu kata yang tampak sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan peradaban: gastronomi.
Gastronomi bukan hanya urusan kenyang. Ia adalah cara sebuah daerah berbicara tanpa perlu pidato. Ia adalah “arsip hidup” yang bisa dimakan. Ia menyimpan jejak tanah, musim, tangan-tangan yang memasak, dan kebiasaan yang diwariskan pelan-pelan seperti doa. Jika sejarah adalah buku, maka gastronomi adalah halaman yang bisa disentuh lidah. Dan sering kali, orang lebih mudah jatuh cinta pada daerahnya lewat rasa, bukan lewat ceramah.
Lalu apa hubungan gastronomi dengan e-sports?
Hubungannya justru sangat logis: e-sports adalah pintu masuk, gastronomi adalah identitas yang membuat kita tidak kehilangan arah. E-sports membuat anak muda berkumpul. Gastronomi membuat kebudayaan ikut hadir di tengah kerumunan itu. E-sports menciptakan panggung. Gastronomi mengisi panggung itu dengan napas lokal.
Kita bisa membayangkan sebuah format sederhana tapi berdampak: turnamen e-sports yang disandingkan dengan festival kuliner. Anak muda datang untuk bertanding, tetapi pulang membawa cerita tentang Gowa—bukan hanya siapa juaranya, tetapi apa yang mereka makan, warung mana yang mereka temukan, rasa apa yang membuat mereka ingin kembali.
Dalam konsep ini, kompetisi tidak berhenti pada skor. Ia menjadi ekosistem. Ada UMKM yang bergerak, ada ekonomi kreatif yang hidup, ada konten digital yang lahir, ada identitas lokal yang diangkat tanpa dipaksa.
Lebih jauh, liga e-sports antar-kecamatan atau antar-kelurahan bisa dibuat seperti peta rasa yang bergerak. Tim tidak hanya membawa nama keren, tetapi membawa narasi kampungnya. Jersey tidak hanya bergambar logo, tetapi bisa menyisipkan motif budaya. Konten pertandingan tidak hanya highlight kill atau gol, tetapi juga highlight warung legendaris dan cerita makanan lokal. Anak muda tidak dipaksa mencintai budaya—mereka “menemukannya” di tengah aktivitas yang mereka cintai.
Dengan cara itu, budaya tidak lagi menjadi sesuatu yang jauh dan kaku. Ia menjadi dekat, ringan, dan relevan. Seperti makanan: sederhana, tetapi mengikat.
Di sisi lain, gagasan ini menjawab masalah klasik gerakan pemuda: keberlanjutan. Terlalu banyak program anak muda berhenti setelah panggung dibongkar. Ramai sebentar, lalu sunyi. Karena itu, kita butuh wadah ekonomi agar gerakan ini tidak hanya hidup dari semangat, tetapi juga dari sistem.
Di sinilah gagasan Badan Usaha Milik Pemuda menjadi penting. Ia bisa menjadi kendaraan legal dan profesional untuk mengelola event, kurasi UMKM kuliner, produksi konten kreatif, merchandise, hingga kemitraan sponsor. BUMP membuat gerakan pemuda punya napas panjang: bukan sekadar agenda tahunan, tetapi kerja yang berulang, terukur, dan menghasilkan.
Jika e-sports adalah mesin, maka gastronomi adalah bahan bakarnya. Jika e-sports adalah layar, maka gastronomi adalah tanah yang menjaga kita tetap berpijak. Dan jika pemuda adalah energi, maka pemerintah daerah adalah penentu apakah energi itu akan menjadi api yang menerangi, atau hanya letupan sesaat.
Karena itu, saya ingin menutup esai ini dengan ajakan yang lebih tegas: Pemkab Gowa perlu melihat e-sports dan gastronomi bukan sebagai dua dunia terpisah, tetapi sebagai satu strategi pembangunan pemuda dan ekonomi kreatif.
Bukan sekadar memberi izin event, tetapi membangun program yang terstruktur: liga berjenjang, ruang kreatif, kurasi UMKM kuliner, dukungan pelatihan, serta skema kemitraan yang membuat anak muda bisa tumbuh tanpa harus meninggalkan Gowa.
Gowa kaya peradaban. Tapi peradaban tidak cukup dijaga dengan nostalgia. Ia harus dihidupkan dalam ruang-ruang baru yang dicintai generasi baru.
Dan hari ini, ruang itu bernama: e-sports, karya kreatif, dan gastronomi.
Tinggal satu pertanyaan yang harus dijawab bersama: apakah Gowa ingin sekadar mengikuti zaman, atau memimpin zaman dengan identitasnya sendiri?

Leave a Reply