Aktivis Pemekaran Luwu Raya Mengaku Diserang Satpol PP Pemprov Sulsel

RUSUH. Kerusuhan terjadi saat aktivis melakukan unjuk rasa menuntut pemekaran Luwu Raya di kantor Gubernur Sulsel.

RUSUH. Kerusuhan terjadi saat aktivis melakukan unjuk rasa menuntut pemekaran Luwu Raya di kantor Gubernur Sulsel.

KLIKSANDI.COM, Makassar Aksi demonstrasi aliansi Wija to Luwu menggugat berujung ricuh, Senin, 12 Januari 2026. Aksi yang menuntut pemekaran Luwu Raya ini berujung ricuh karena dipicu oleh arogansi oknum anggota Satpol PP Provinsi Sulsel yang menyerang para aktivis dengan busur.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu (PP IPMIL), Yandi, mengklaim demo menuntut pemekaran Luwu Raya di kantor Gubernur Sulsel awalnya berjalan damai. Belakangan, anggota satpol PP Pemprov Sulsel menahan seorang demonstran dan memicu kericuhan.

Tidak sampai di situ, para anggota Satpol PP juga teridentifikasi menggunakan busur saat massa mulai rusuh dan tidak terkendali. Pernyataan, Yandi itu dilengkapi potongan video amatir yang beredar di media sosial.

Video amatir itu memperlihatkan seorang pria menggunakan hoodie yang menunjukkan gestur menarik busur panah. Ia berlindung di balik pohon, tak jauh dari barikade Satpol PP yang siap dengan tameng pelindung. Yandi menyebut, kericuhan terjadi sekitar pukul 16.20 hingga 17.00 Wita.

“Oknum Satpol PP menahan salah satu massa yang ingin menyampaikan orasi. Terjadi cekcok, lalu massa memaksa masuk,” kata Yandi.

Menurut Yandi, situasi semakin tak terkendali ketika terjadi dugaan pengeroyokan terhadap demonstran yang berada di dalam pagar kantor gubernur. Ia juga menuding, adanya pelemparan batu dari arah aparat Satpol PP ke massa aksi.

“Bahkan ada dua oknum Satpol PP yang kami lihat mengarahkan busur panah ke arah demonstran,” ungkapnya.

Akibat insiden tersebut, Yandi mengaku sedikitnya 10 orang mengalami luka-luka. Korban mengalami cedera di beberapa bagian tubuh, mulai dari kaki, pipi, hingga dahi, diduga akibat lemparan benda keras.

Jenderal Lapangan aksi, Adriansyah Putra, menegaskan aksi tersebut digelar untuk menagih janji pemerintah terkait pemekaran Provinsi Luwu Raya yang hingga kini belum terealisasi.

“Kami turun ke jalan menuntut Presiden Prabowo Subianto agar serius memperhatikan dan segera merealisasikan pembentukan Provinsi Luwu Raya serta Kabupaten Luwu Tengah,” bebernya.

Ia juga menyayangkan sikap Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman yang tidak menemui massa aksi. Selain itu, samung Adriansyah, pihaknya menyoroti dugaan tindakan represif aparat selama demonstrasi berlangsung.

“Kami mencatat adanya dugaan tindakan premanisme. Oknum Satpol PP dan oknum ASN diduga mengarahkan busur ke arah massa aksi,” jelasnya.(egg)

Leave a Reply