KLIKSANDI.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palopo menanggapi serius dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan seorang dokter terhadap pasien remaja.
Insiden ini terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Batara Guru, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, dan menarik perhatian karena dokter yang bersangkutan juga bertugas di salah satu rumah sakit di Kota Palopo.
Kepala Dinkes Palopo, Irsan Nugraha, menyatakan keprihatinannya atas dugaan insiden tersebut. Ia menekankan pentingnya perlindungan pasien dalam setiap layanan kesehatan.
“Kami menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat penegak hukum, dan tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah,” ujar Irsan, Minggu (29/6/2025).
Evaluasi Menyeluruh dan Ancaman Sanksi Tegas
Irsan menambahkan, jika hasil penyelidikan membuktikan adanya pelanggaran etik dan prosedur pelayanan, pihaknya tak akan ragu menjatuhkan sanksi tegas.
“Jika terbukti benar, ini tentu menjadi keprihatinan bersama. Dinas Kesehatan akan mengambil tindakan sesuai aturan terhadap tenaga medis yang terbukti tidak menjalankan tugas sesuai standar operasional,” tambahnya.
Dinkes Palopo memiliki kewenangan untuk mengevaluasi tenaga medis yang bekerja di wilayahnya, termasuk dokter yang bersangkutan yang tercatat bekerja di Palopo.
“Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh. Kejadian seperti ini tidak boleh terulang. Pengawasan terhadap tenaga kesehatan akan terus diperkuat untuk memastikan pelayanan berjalan sesuai kode etik,” tegas Irsan.
RSU Mega Buana Siap Putus Hubungan Kerja, Kasus Viral di Medsos
Dokter berinisial JHS ini adalah dokter gigi spesialis bedah mulut yang berstatus ASN di RSUD Batara Guru dan juga berpraktik paruh waktu di Rumah Sakit Umum (RSU) Mega Buana, Kota Palopo.
Direktur RSU Mega Buana Palopo, Herman Jaya, menegaskan pihaknya tidak akan menoleransi pelanggaran etika profesi.
“Jika terbukti bersalah secara hukum dan melanggar kode etik, kami akan memutus hubungan kerja dengan yang bersangkutan. Tidak ada tempat bagi pelaku pelanggaran etika di RSU Mega Buana,” kata Herman. Ia menambahkan, pihaknya menunggu hasil resmi dari proses hukum sebelum mengambil keputusan final.
Kasus ini mencuat setelah kakak korban membagikan kisah adiknya di media sosial, melalui akun Instagram @infokotapalopo. Unggahan tersebut menyebutkan insiden terjadi saat pasien remaja berusia 17 tahun dirawat sendirian. Dokter JHS diduga datang lebih awal dari jadwal kunjungan sambil membawa cokelat.
Kakak korban menulis bahwa adiknya ketakutan karena dokter tersebut tiba-tiba memeluk dan meraba korban.
“Adikku ketakutan sekali karena dia tiba-tiba datang bawa cokelat. Terus dia peluk dua kali dan meraba-raba. Adikku baru masuk 17 tahun, sudah kau buat trauma,” demikian isi unggahan tersebut.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan atas laporan dugaan pelecehan seksual ini. (*)

Leave a Reply