BPBD Catat Korban di Jembatan Kembar Terjadi Dua Kali Setiap Tahun

Tim Basarnas melakukan pencarian terharap ppemotor yang diketahui bernama Nur Ichsan yang hilang setelah terjatuh di jembatan Kembar Gowa, Sabtu, 11 Oktober 2025, dini hari.

PENCARIAN. Tim Basarnas melakukan pencarian terhadap pemotor yang diketahui bernama Nur Ichsan yang hilang setelah terjatuh di jembatan Kembar Gowa, Sabtu, 11 Oktober 2025, dini hari.

KLIKSANDI.COM, Gowa Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) Gowa merilis jika hampir setiap tahun ada warga yang terjatuh di Jembatan Kembar, Gowa. Dalam tiga tahun terakhir, korban yang jatuh di jembatan kembar sudah ada enam orang. Hanya satu orang yang selamat. BPBD mengimbau warga untuk senantiasa berhati-hati jika berada di kawasan itu.

Imbauan ini menyusul dua peristiwa di lokasi tersebut dalam beberapa waktu terakhir. Peristiwa pertama menimpa seorang mahasiswa bernama Nur Ichsan dilaporkan hilang usai terjatuh dan terpental dari Jembatan Kembar ke Sungai Je’neberang, Sabtu (11/10/2025) dini hari.

Setelah pencarian selama 18 jam tim SAR gabungan, korban ditemukan tewwas pada Sabtu malam. Peristiwa kedua Kamis (6/3/2024). Seorang perempuan berinisial RK (25) nyaris mengakhiri hidupnya di lokasi yang sama.

Beruntung, warga sekitar melihat kejadian tersebut langsung menyelamatkan korban.

Kepala BPBD Gowa, Wahyudin, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di atas jembatan maupun di sekitar bantaran sungai.

“Kami imbau warga tetap waspada, khususnya di musim hujan saat ini. Selalu perhatikan perkiraan cuaca dari BMKG,” ujarnya, Jumat (24/10/2025).

Berdasarkan data Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Gowa, tercatat enam peristiwa korban tenggelam di kawasan Jembatan Kembar dalam tiga tahun terakhir. Dari jumlah itu, satu orang berhasil diselamatkan, yakni RK.

“Data TRC menunjukkan ada enam kasus selama tiga tahun terakhir. Tahun 2025 satu orang, 2024 dua orang, dan 2023 dua orang,” jelas Wahyudin.

Terkait pengawasan, Wahyudin mengatakan akan berkoordinasi dengan instansi terkait.

“Itu sangat baik, kami dukung dan menjadi atensi kami. Sebaiknya juga dikomunikasikan dengan instansi terkait seperti PUPR Provinsi,” katanya.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, korban tenggelam tidak hanya dari kalangan dewasa, tetapi juga anak-anak. Peristiwa tenggelam di Sungai Je’neberang tidak hanya terjadi di Jembatan Kembar, tetapi juga saat warga menyeberang dengan perahu, berenang, atau mengalami kecelakaan di sekitar sungai.

Salah satu warga bantaran Sungai Je’neberang, Lutfi, mengatakan kejadian orang tenggelam memang kerap terjadi.

“Harus hati-hati, apalagi kalau musim hujan. Airnya bisa deras sekali,” ujarnya.

Lutfi menambahkan, pengawasan terhadap anak-anak perlu diperketat karena banyak yang menjadikan sungai sebagai tempat bermain dan mandi.

“Peran orang tua penting. Jangan biarkan anak-anak main tanpa pengawasan di sekitar sungai,” katanya.

Ia berharap pemerintah menambah tanda peringatan dan pengamanan di area Jembatan Kembar dan Sungai Je’neberang. Sebelumnya, RK (25) melompat dari Jembatan Kembar ke Sungai Je’neberang, Rabu (22/10/2025) sore.

Peristiwa tersebut menghebohkan warga sekitar langsung menolong korban. Petugas SPKT Polres Gowa bersama piket Reskrim segera menuju lokasi dan mengevakuasi korban ke RSUD Syekh Yusuf untuk perawatan medis.

RK, warga Desa Bontojai, Kecamatan Parangloe, Gowa, kini dirawat di ruang IGD RSUD Syekh Yusuf.

Ia mengaku naik ojek online dari Makassar ke Sungguminasa untuk bekerja, lalu tiba-tiba tidak sadar dan berjalan ke Jembatan Kembar sebelum melompat.

“Untungnya warga cepat menolong,” ujar RK saat dirawat.

Kepala SPKT Polres Gowa, Ipda Ahmad Hari, membenarkan kejadian tersebut. “Benar, tadi ada warga yang melompat ke Sungai Je’neberang. Tapi berhasil diselamatkan warga sekitar,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya masih menyelidiki motif di balik aksi nekat korban.(egg)

Leave a Reply