KLIKSANDI, Maros — Sebuah nisan kuno ditemuka di sebuah kampung bernama Belang Belang di Kelurahan Maccini Baji, Kabupaten Maros. Nisan kuno itu diperkirakan berasal dari Aceh yang didatangkan pada abad ke 16. Usianya lebih dari 525 tahun.
Penemuan ini membuka cakrawala baru tentang sejarah di Indonesia. Keberadaan nisan ini menandakan jika Maros sudah terkoneksi dengan Aceh sejak abad ke 16.
Tim peneliti gabungan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan jika nisan itu adalah nisan Aceh type C. Nisan ini tidak sembarangan, hanya diproduksi di Aceh dan dibuat khusus untuk bangsawan Aceh yang meninggal dunia.
Ketua tim riset, Prof. Dr. Muhlis Hadrawi, menuturkan bahwa ekspedisi tahun ini memang diarahkan ke pesisir barat Sulawesi Selatan—meliputi Makassar, Maros, Pangkep, Barru, Parepare, hingga Pinrang.
“Di Maros, kami menemukan batu nisan Aceh di salah satu toponimi tua yang disebutkan dalam naskah Lontara Bone, yakni Belangbelang,” jelas Prof. Muhlis dalam konferensi pers.
Dia menyebut, keberadaan nisan Aceh ini adalah penemuan penting. Hal ini menandakan jika jaringan sejarah Islam sudah ada di Maros pada abad tersebut.
“Ini adalah penemuan penting, sebab memberi gambaran baru tentang bagaimana Maros terlibat dalam jaringan sejarah Islam dan perdagangan maritim,” lanjut Guru Besar Filologi Unhas ini.
Temuan batu nisan ini menjadi begitu istimewa karena, seperti dijelaskan oleh Makmur, peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, sepanjang penelusuran makam-makam tua di Maros, baru kali ini ditemukan batu nisan Aceh.
“Batu nisan Aceh merupakan artefak yang sangat khas. Keberadaannya biasanya menunjukkan adanya tokoh penting dalam sejarah Islam atau jaringan perdagangan yang kuat,” terang Makmur, yang telah bertahun-tahun mendalami kajian batu nisan kuno di Sulawesi Selatan.
Menurut Makmur, penggunaannya pun sangat selektif. Batu nisan Aceh biasanya hanya diberikan kepada bangsawan atau tokoh penting yang berperan dalam penyebaran serta pengembangan Islam pada abad ke-17 hingga ke-18 Masehi. Namun, keistimewaan batu nisan yang ditemukan ini tak berhenti di sana. Sayangnya, peneliti masih mencari tahu siapa bangsawan Aceh yang dimakamkan di Maros itu.
Dr. Hasanuddin, peneliti BRIN sekaligus dosen Departemen Arkeologi Unhas, menjelaskan lebih dalam tentang jenis nisan yang ditemukan. Batu tersebut diklasifikasikan sebagai Nisan Aceh Tipe C, yang secara arkeologis diketahui diproduksi sekitar tahun 1500-an di wilayah Aceh.
“Ini bukan sekadar soal kehadiran artefak, melainkan menandakan arus informasi, budaya, dan keyakinan yang mengalir dari barat ke timur Nusantara,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa batu nisan ini tidak dibuat secara lokal, melainkan diimpor dari Aceh—salah satu pusat Islam dan perdagangan internasional masa itu.
“Kehadirannya di Maros memperlihatkan bahwa kawasan ini bukan hanya aktif dalam perdagangan antardaerah, tapi juga menjadi bagian dari jejaring ekonomi dan religius yang lebih luas,” ujarnya.
Penemuan ini, menurut Dr. Hasanuddin, merupakan petunjuk kuat bahwa Sulawesi Selatan, khususnya Maros, memegang peran penting dalam jalur maritim Nusantara yang menghubungkan berbagai pusat peradaban Islam dari Sumatra hingga kepulauan timur.
Bagi Prof. Muhlis Hadrawi, batu nisan ini lebih dari sekadar peninggalan masa lalu; ia adalah kunci untuk membuka tabir sejarah yang selama ini terlupakan.
“Temuan ini membuka kembali diskusi mengenai peran Sulawesi Selatan, khususnya Maros, dalam peta sejarah maritim Indonesia,” tuturnya. Ia menambahkan, toponimi Belangbelang yang tercatat dalam Lontara menjadi pintu masuk penting bagi penelitian sejarah lebih lanjut, mengindikasikan adanya permukiman tua yang memiliki hubungan erat dengan pusat-pusat kekuasaan Islam masa lampau.
Belangbelang yang dulu mungkin hanya sebuah nama di lembaran lontara, kini hidup kembali—membawa cerita tentang persilangan budaya, perdagangan, dan keyakinan yang membentuk wajah Nusantara berabad-abad silam.
Komoditas Ekspor
Batu nisan Aceh dibuat pada saat pemerintahan Kerajaan Aceh Darussalam. Peneliti dari Riau, Dr Husaini menyebut jika kerajaan Aceh Darussalah kerap kali mengekspor nisan pada masa itu ke seluruh nusantara.
“Paling besar dipengaruhi dari kerajaan yang pernah dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda,” kata dia.
Ditambah lagi, kata dia, di kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, diakui sebagai masa kejayaan. Kala itu, Kerajaan Aceh Darussalam, tidak hanya mengirimkan para ahli agama atau ulama ke luar daerah dalam penyebaran Islam. Namun juga menjadikan nisan sebagai salah satu komoditas ekspor.
Bahkan diakui dosen Jurusan Pendidikan Sejarah FKIP USK ini, batu nisan Aceh menjadi suatu tren barang yang dikirim ke seluruh Nusantara.“
Oleh karena itu orang memesan model batu nisan di Aceh untuk dijadikan sebagai batu nisan di daerah mereka sendiri,” kata Husaini.
Dr Husaini menyampaikan, ekspor batu nisan Aceh paling banyak terjadi pada abad ke-15 hingga 17 Masehi. Akan tetapi pengiriman mulai terganggu kala kolonialisme Belanda memasuki Aceh.
“Karena ada pengaruh dari pada penjajah, jadi tidak sempat orang membuat batu nisan yang indah. Yang puncak kebesarannya sesuai dengan masa perkembangan Islam. Itu sudah mulai sejak abad ke 15,” ujarnya.
Tipe Nisan Aceh
Sebuah Jurnal berjudul Batu Nisan di Situs Binangan menyebutkan jika Nisan Aceh sendiri terdiri dari beberapa tipe. Di antaranya adalah Tipe C, K, N dan O. Bentuk dasar nisan tipe C adalah pipih, dilengkapi sayap pada kedua sisinya, dan mahkota bertingkat tingkat di puncaknya.
Di badannya terpahat kalimah tauhid (la ila illa Allah) di dalam panil khas pintu Aceh, motif medalion yang disebut oleh Hurgronje (1906) subang (anting) terpahat indah di kedua sisi sayap. Ada pula motif kelopak bunga yang dipadukan dengan motif jala dipahat di kaki nisan.Berdasarkan morfologinya, nisan ini berasal dari abad ke-16 (Yatim 1988; Ambary 1998; Perret, Razak, dan Kalus 1999).(eng)

Leave a Reply