KLIKSANDI.COM – Dikisahkan bahwa Sang Pencipta menciptakan berbagai dimensi dengan cinta sebagai landasannya. Setiap dimensi memiliki warna kebahagiaan dan kenikmatannya sendiri. Semuanya terhubung oleh satu jalinan agung yang disebut Tali Waktu.
Melalui tali ini, apa yang dirasakan oleh makhluk di satu dimensi akan langsung beresonansi di dimensi lain, seketika.
Hikayat ini bercerita tentang keterhubungan dua dimensi: yang paling bawah bernama Bhumi, dan yang di atasnya bernama Nirvana.
Segala rasa yang dialami oleh makhluk di Bhumi, akan turut dirasakan oleh para penghuni Nirvana melalui jalinan waktu tersebut. Konon, Tali Waktu diciptakan Sang Pencipta sebagai jembatan kesadaran, agar setiap jiwa mampu bertumbuh dari satu dimensi menuju dimensi yang lebih tinggi, hingga akhirnya sampai ke dimensi agung tempat Sang Pencipta bersemayam.
Namun, semakin tinggi dimensi yang dituju, semakin berat pula ujiannya. Dan semakin rendah suatu dimensi, semakin tebal kabut yang menghalangi makhluk di dalamnya untuk menyentuh hadirat Sang Pencipta.
Dalam ketetapan-Nya, makhluk dari dimensi atas dapat melihat dan merasakan apa yang terjadi di dimensi bawahnya, namun tidak sebaliknya. Ini ditentukan agar tidak satu pun rasa dalam hati makhluk-Nya luput dari perhatian dan kasih sayang-Nya. Baik suka maupun duka, semua turut dirasakan oleh Sang Pencipta sendiri.
Manungsa dan Nivara
Di Bhumi, hidup berjuta makhluk yang disebut Manungsa. Sementara di Nirvana, berdiam para penjaga kesadaran yang disebut Nivara. Setiap bangsa Manungsa dijaga dan diawasi oleh satu Nivara, terhubung melalui Tali Waktu. Apa pun yang dirasakan satu bangsa, akan turut mengguncang jiwa Nivara yang bertanggung jawab atasnya.
Kehidupan Manungsa terbagi dalam siklus peradaban selama 6.000 tahun. Di awal siklus, mereka membangun, mencipta, dan mencapai kegemilangan. Namun, sebuah kecenderungan tetap berulang: ketika kemajuan material meningkat, moralitas justru merosot.
Jika kemerosotan itu telah melampaui batas, Sang Pencipta akan memulai ulang penciptaan-Nya di Bhumi. Namun, jika masih ada satu saja Manungsa yang mengingat-Nya, maka seluruh Bhumi masih punya harapan untuk diselamatkan.
Penyakit Akal dan Murka Bhumi
Pada 1.000 tahun terakhir dari sebuah siklus, hampir seluruh Manungsa terjangkit penyakit akal. Penyakit yang timbul dari cinta buta terhadap Bhumi. Mereka mengagumi keindahan hasil ciptaan mereka sendiri, padahal keindahan itu dibayar dengan kerusakan Bhumi yang kian parah.
Manungsa mulai melupakan Sang Pencipta, dan lebih memilih dunia yang fana. Sang Bhumi pun murka, bencana demi bencana terjadi, karena Bhumi merasa dikhianati oleh makhluk yang mestinya menjaganya.
Bahkan, Bhumi enggan lagi menelan jasad mereka yang mati. Ia mulai memuntahkan tubuh-tubuh itu, sebagai bentuk penolakan terhadap keangkuhan mereka.
Asévara: Sang Penjaga Nuswantara
Dalam kondisi itulah, Sang Pencipta merencanakan penggantian Manungsa dengan makhluk baru. Dan perubahan itu akan dimulai dari sebuah gugus kepulauan: “Nuswantara” tempat kerusakan moral telah mencapai titik nadir.
Pengawasan atas Nuswantara dibebankan kepada Asévara, seorang Nivara senior yang dulunya adalah jiwa Manungsa yang berhasil lulus ujian dan naik ke Nirvana. Namun, sejak menerima tugas itu, Asévara mulai merasakan sesuatu yang aneh: kedamaian jiwanya terus merosot.
Ia tak lagi mampu melihat jelas apa yang terjadi di Nuswantara. Penglihatannya kabur, tubuhnya terasa sakit, dan jiwanya tertutup dari pesan-pesan kesadaran.
Padahal ia tengah bersiap menghadapi ujian untuk naik ke dimensi berikutnya.
Sampai suatu saat, Sang Pencipta mengilhamkan bahwa ujian itu telah tiba.
Asévara pun memohon pertolongan kepada Sang Waktu, penjaga tali kesadaran antar dimensi. Ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Nuswantara.
1 Sekar Waktu: Pesan untuk Jatmara
Sang Waktu mengabulkan permohonan Asévara, namun hanya memberinya 1 Sekar Waktu, satu detik di dunia Manungsa. Tapi detik itu cukup untuk mengirim satu pesan spiritual yang akan menggema selama dua milenium.
Asévara pun menelusuri Tali Waktu, dan mengirim pesan itu 2.000 tahun sebelum bencana datang. Pesan itu berkelana dari satu jiwa Manungsa ke jiwa lainnya, bertransmigrasi, hingga akhirnya sampai pada seorang Manungsa di Pulau Sumatera bernama Jatmara Saibumi.
Dalam sebuah penglihatan, Jatmara melihat sosok Nivara yang agung, yang dikenalnya sebagai Manungsa Suci dari ajaran masa silam.
Tiga kalimat singkat disampaikan kepadanya. Sebuah ilham yang melekat kuat di hatinya, walau ia sempat meragukannya sebagai halusinasi.
Namun tanpa disadari, tiga kalimat itu mulai memurnikan jiwanya, membawa arah baru dalam kehidupannya, dan menghubungkannya secara batiniah dengan Asévara.
Penebusan Jiwa dan Zat Gelap Leluhur
Pemurnian jiwa Jatmara bukan tanpa harga. Untuk menyatu dengan pesan itu, ia harus menanggung dosa-dosa seluruh jiwa yang pernah dilalui pesan itu selama 2.000 tahun.
Dosa-dosa itu terakumulasi dalam bentuk tiga zat gelap yang melekat pada pesan tersebut. Zat gelap itu berasal dari jejak kejahatan para leluhurnya yang terekam dalam darah, jiwa, dan warisan ingatan.
Pesan ghaib itu tak dapat digunakan kecuali Jatmara menebus seluruh dosa tersebut. Ia harus menjalani titah dari tiga kalimat itu, sepenuhnya, tanpa memotong atau menundanya. Meski bukan dia pelakunya, Jatmara adalah yang terpilih untuk menebus semuanya.
Tali yang Tak Terputus
Inilah hikayat tentang tali yang tak pernah terputus: Tali Waktu yang menghubungkan Bhumi dan Nirvana. Tentang seorang Nivara yang jatuh, dan seorang Manungsa yang bangkit. Tentang pesan ghaib, pemurnian jiwa, dan harapan terakhir bagi umat manusia.
Dan sebagaimana dikisahkan, jika masih ada satu jiwa saja yang mengingat Sang Pencipta, maka dunia belum sepenuhnya binasa. (*)
“Bersambung….Tunggu edisi selanjutnya!
Sumber: AKBP Muhammad Yunus Saputra

Leave a Reply