KLIKSANDI.COM, Jakarta — Sopir kendaraan taktis (Rantis) Brimob, Bripka R mengaku terdesak sehingga harus melindas Affan Kurniawan hingga tewas. Dia mengaku ingin menyelamatkan nyawa tujuh orang penumpangnya yang dalam kondisi bahaya saat unjuk rasa di Jakarta, Kamis, 28 Agustus lalu.
Benarkah posisi tujuh penumpang di dalam Rantis itu dalam keadaan berbahaya? Praktisi keselamatan berkendara Sony Susmana menyebut pengakuan itu cukup ganjil. Dia mengaku, sopir Rantis harusnya memiliki skema tersendiri untuk meloloskan diri massa. Dia menyebut, sopir Rantis tidak boleh panik berlebihan saat melakukan skema itu.
Dia menyebut, Rantis Rimueng sebenarnya adalah kendaraan taktis untuk perang dalam kota. Kendaraan ini adalah kendaraan lapis baja. Peluru sekalipun tidak akan mudah menembus kendaraan ini.
Sementara, saat kejadian, massa yang berunjuk rasa adalah rakyat yang bersenjatakan seadanya, dan sangat kecil berpotensi merusak kendaraan taktis.
“Yang dihadapi juga harus dilihat, kan bukan musuh cuma rakyat. Kasarnya: senjata mereka cuma kayu, besi, helm yang boro-boro mematikan, ngerusak kendaraan rantis juga nggak,” kata Sony.
Secara dimensi, Wolf atau Rimueng memiliki panjang 5,25 meter, lebar 2,04 meter, tinggi 2,55 meter, dan ground clearance 25 cm. Kabinnya bisa menampung delapan personel, termasuk pengemudi dan komandan.
Di lapangan, kendaraan ini dirancang mampu menghadapi rintangan ekstrem. Mobil bisa melewati parit sedalam 70 cm, mengatasi halangan setinggi 30 cm, hingga menanjak dengan sudut curam.
Dari sisi perlindungan, Rimueng dibekali lapisan baja dengan standar NIJ level III (CEN 1063 BR6), setara STANAG 4569 Level 1, yang mampu menahan tembakan peluru kaliber ringan 5,56 mm dan 7,62 mm.
“Dengan spek tersebut, SOP escape dikemudikan harus dengan penuh perhitungan. Tidak main gaspol, toh full spec taktis dan blindspot-nya besar,” ujar Sony.
Sebelumnya, sopir Rantis Brimob itu, Bripka R, menyampaikan pengakuan tentang situasi yang terjadi saat itu hingga dirinya tidak tahu telah melindas seorang driver ojol.
Propam telah melakukan pemeriksaan terhadap 7 anggota yang berada di dalam rantis Brimob. Saat itu, Bripka R mengaku dirinya hanya terpikir untuk menyelamatkan orang yang ada di dalam kendaraan.
Pemeriksaan oleh propam terhadap 7 anggota itu ditayangkan langsung di akun Instagram @divpropampolri. Pada pemeriksaan itu terungkap Bripka R sebagai pengemudi sedangkan di sampingnya duduk anggota lainnya, sementara 5 lainnya duduk di belakang.
Bripka R mengungkap alasannya terus menerobos jalan hingga melindas Affan. Dia mengaku saat itu kondisi jalan dipenuhi massa dan dia khawatir jika harus menghentikan mobil maka mobil itu akan habis dimassa.
“Itu mobil kalau saya berhentikan habis, Pak. Karena mereka sudah nyerang pakai batu, pakai bom molotov. Nah saya sebagai sebagai driver saya harus mampu menyelamatkan orang dalam kendaraan saya. Kalau saya berhenti habis pokoknya,” ujar Bripka R dilansir.
Dia mengungkap saat itu dirinya tidak bisa melihat posisi orang dengan jelas karena tidak memperhatikan kondisi kanan dan kiri. Ditambah lagi, Bripka R mengatakan kaca rantis itu gelap sehingga pandangannya jadi terbatas.
“Saat itu jalanan sudah banyak batu Pak, jadi saya tidak mengerti apa itu terus pecahan apa itu, jadi saya hantam saja karena kalau nggak saya terobos itu selesai Pak, udah, massa penuh,” katanya.
“Mobil saya tinggi, kaca saya pakai ram pak. mobil saya pakai ram gelap nah di saat itu asap kan penuh saya pakai lampu tembak saya fokus ke depan pak,” lanjut Bripka R.(egg)

Leave a Reply