KLIKSANDI.COM, Pattaya — Hari kedua perang Kamboja Vs Thailand tidak lagi menggunakan serangan udara. Kedua negara ini terlihat melakukan serangan darat dengan menggunakan kendaraan tempur alat berat.
Keduanya saling serang dengan artileri berat, termasuk meriam dan roket, sebagaimana dilansir Reuters. Militer Thailand melaporkan, pasukan Kamboja menggunakan senjata berat, termasuk artileri dan sistem roket BM-21 buatan Rusia, dalam serangannya.
“Pasukan Kamboja telah melakukan pemboman berkelanjutan menggunakan senjata berat, artileri lapangan, dan sistem roket BM-21,” bunyi pernyataan resmi militer Thailand.
Sebagai respons, militer Thailand mengeklaim telah membalas tembakan sesuai situasi taktis di lapangan. Thailand kerahkan tank dalam perang Konvoi militer Thailand terlihat melintasi jalan provinsi menuju perbatasan.
Konvoi itu terdiri atas sejumlah truk, kendaraan lapis baja, dan tank yang bergerak melalui lahan persawahan. Ketegangan terbaru ini terjadi di wilayah perbatasan yang telah disengketakan selama lebih dari satu abad.
Konflik dimulai pada Kamis dan dengan cepat meningkat dari baku tembak senjata ringan menjadi serangan senjata berat di sedikitnya enam titik sepanjang 209 kilometer garis perbatasan.
Wartawan Reuters di Provinsi Surin melaporkan, ledakan kecil terdengar bersahut-sahutan sepanjang Jumat. Keberadaan pasukan Thailand bersenjata lengkap tampak di jalan-jalan utama dan stasiun pengisian bahan bakar di daerah pertanian.
Menurut Kementerian Kesehatan Thailand, jumlah korban tewas hingga Jumat dini hari tercatat sebanyak 15 orang, dengan 14 di antaranya merupakan warga sipil. Sebanyak 46 orang lainnya mengalami luka-luka, termasuk 15 tentara.
Di sisi lain, Pemerintah Kamboja belum merilis data resmi terkait korban jiwa maupun jumlah warga sipil yang mengungsi. Namun, juru bicara Pemerintah Provinsi Oddar Meanchey Meth Meas Pheakdey menyebut satu warga sipil tewas dan lima orang lainnya terluka.
Sebanyak 1.500 keluarga telah dievakuasi dari wilayah terdampak.
Militer Thailand juga mengerahkan enam jet tempur F-16 pada Kamis sebagai bagian dari operasi tempur. Salah satu pesawat disebut telah digunakan untuk menyerang target militer di wilayah Kamboja.
Langkah ini memicu kecaman dari pihak Kamboja yang menyebut tindakan Thailand sebagai bentuk agresi militer yang sembrono dan brutal. Keputusan Thailand mengerahkan jet tempur menyoroti ketimpangan kekuatan militer kedua negara.
Thailand memiliki keunggulan signifikan dalam hal armada tempur dan personel, sementara Kamboja tidak memiliki pesawat jet tempur, menurut laporan Institut Internasional untuk Studi Strategis (IISS).
Tentara Thailand mengatakan tiga warga sipil terluka dalam serangan roket Kamboja pada 24 Juli saat militer kedua negara kembali bentrok dalam sengketa perbatasan yang semakin memanas.
Pertempuran ini merupakan yang paling mematikan sejak konflik serupa terjadi pada 2008 hingga 2011, sebagaimana dilansir AFP. Kala itu, pertempuran antara Thailand dan Kamboja menewaskan sedikitnya 28 orang dan menyebabkan puluhan ribu orang mengungsi.
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar pertemuan darurat pada Jumat untuk membahas konflik. Amerika Serikat (AS) menyerukan agar konflik dihentikan segera. Sementara Perancis, mantan penjajah Kamboja, juga mendesak diadakannya gencatan senjata.
Pernyataan keprihatinan juga disampaikan oleh Uni Eropa dan China, sekutu dekat Kamboja. Kedua pihak mendesak dilakukannya dialog diplomatik guna menurunkan ketegangan.(egg)

Leave a Reply