CSR PT Huadi, Limbah Slag Jadi Pencegah Abrasi di Takalar

CEGAH ABRASI. Limbah slag nikel di pabrik smelter PT Huadi akan digunakan sebagai program CSR di Takalar untuk mencegah abrasi.

CEGAH ABRASI. Limbah slag nikel di pabrik smelter PT Huadi akan digunakan sebagai program CSR di Takalar untuk mencegah abrasi.

KLIKSANDI.COM, Takalar Limbah slag dari pabrik smelter PT Huadi Nickel Alloy Indonesia yang ada di Kabupaten Bantaeng akan digunakan untuk mencegah abrasi di Kabupaten Takalar. Program ini akan menjadi salah satu program Corporate Social Responsibility atau CSR PT Huadi Nickel.

Bupati Takalar, Firdaus Dg Manye memberikan apresiasi terhadap Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman dan PT Huadi yang sukarela memberikan limbah slag mereka ke Takalar. Dia menyebut, penunjukan pesisir Takalar sebagai lokasi penyaluran program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Huadi Nickel menjadi angin segar bagi pemerintah daerah.

“Masalah abrasi di Takalar memang telah menjadi isu tahunan yang membutuhkan penanganan komprehensif,” kata dia seperti yang dilansir Antara.

Setiap tahun, masyarakat pesisir Takalar harus berhadapan dengan dampak buruk abrasi yang mengancam permukiman dan mata pencarian mereka. Dengan adanya inisiatif ini, diharapkan kehidupan para nelayan dan penduduk pesisir dapat lebih terjamin.

Sekedar diketahui, pemerintah Kabupaten Takalar berencana memanfaatkan limbah slag nikel dari PT Huadi Bantaeng untuk mengatasi abrasi pantai di Takalar. Keputusan ini diharapkan dapat mempercepat proses rekonstruksi, penanganan abrasi, hingga reklamasi di sepanjang garis pantai wilayah tersebut.

Inisiatif strategis ini dibahas secara mendalam dalam sebuah pertemuan penting yang berlangsung di Makassar pada Selasa lalu. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, Bupati Takalar, Firdaus Dg Manye, serta perwakilan Direktur PT Huadi Nickel Alloy Indonesia. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen serius dari berbagai pihak untuk mengatasi masalah lingkungan yang krusial.

Gubernur Andi Sudirman Sulaiman dalam kesempatan itu menekankan urgensi penanganan abrasi di pesisir Takalar. Menurutnya, kondisi abrasi yang terjadi saat ini sangat memengaruhi masa depan para nelayan dan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir.

“Oleh karena itu, solusi yang efektif dan berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlangsungan hidup mereka,”” kata dia.

Limbah hasil industri nikel, ternyata memiliki potensi besar yang belum banyak dimanfaatkan. Material ini dapat diolah menjadi bahan konstruksi yang sangat berguna, seperti pengganti agregat kasar pada beton dan campuran aspal. Selain itu, slag nikel juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan batako atau material pengisi dalam proyek konstruksi jalan.

Pemanfaatan slag nikel ini menjadi terobosan baru dalam penanganan abrasi pantai di Takalar. Dengan karakteristiknya yang kuat dan stabil, slag nikel diharapkan mampu memberikan solusi jangka panjang untuk melindungi garis pantai dari gerusan ombak. Ini juga sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, di mana limbah dapat diubah menjadi sumber daya yang bernilai ekonomis dan lingkungan.

Rencananya, penanganan abrasi ini akan mencakup beberapa wilayah pesisir di Kabupaten Takalar yang sangat rawan. Area-area tersebut meliputi pesisir Galesong Utara, Galesong, Galesong Selatan, Sanrobone, Mappakasunggu (Mapsu), hingga Mangarabombang (Marbo). Fokus pada lokasi-lokasi kritis ini menunjukkan pendekatan yang terukur dan tepat sasaran dalam upaya mitigasi bencana abrasi.

Gubernur Andi Sudirman menekankan pentingnya desain penanganan abrasi yang sesuai toleransi dan bersentuhan langsung dengan masyarakat pesisir, sehingga dapat memberikan kontribusi nyata bagi daerah dan menguntungkan nelayan.(egg)

Leave a Reply