KLIKSANDI.COM, Gowa — Warga Samata di Kabupaten Gowa digegerkan dengan temuan seekor ular piton sepanjang lima meter, Rabu,23 Juli 2025, malam. Pihak Damkar Kabupaten Gowa menyebut, penangkapan ular piton itu sudah terjadi enam kali dalam sepekan di wilayah yang sama.
Kenapa ular piton mulai bermunculan di wilayah Samata, Gowa? ternyata menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), perubahan iklim berkaitan erat dengan meningkatnya potensi konflik antara manusia dan ular. Ular sebagai hewan berdarah dingin sangat bergantung pada suhu lingkungan untuk mengatur metabolisme tubuhnya.
Ketika suhu tanah di habitatnya melampaui ambang toleransi, ia akan keluar, berpindah, mencari tempat yang lebih teduh atau lebih kering. Pada saat yang sama, manusia juga mengubah cara hidupnya: pola tanam bergeser, hutan dibuka, lahan basah dikeringkan, dan pemukiman meluas ke arah habitat liar.
Dua jalur yang tak sengaja bertemu dan memicu interaksi yang kian sering. Dalam situasi seperti ini, ular sanca adalah salah satu jenis yang kerap muncul di wilayah permukiman.
Meski tidak berbisa, ular ini dikenal sebagai pembunuh yang mematikan melalui kemampuan konstriksi melilit mangsa dengan tekanan kuat hingga sistem pernapasan dan peredaran darahnya terhenti.
Jenis-jenis sanca besar seperti Python bivittatus (sanca bodo), Malayopython reticulatus (sanca kembang), Python molurus (sanca batu India), Simalia amethistina (sanca patola), hingga Apodora papuana (sanca Papua), memiliki kekuatan fisik yang luar biasa. Sebagian di antaranya dapat tumbuh hingga 10 meter lebih. Mereka biasa memangsa burung, kadal, monyet, bahkan mamalia besar, dan dalam kondisi ekstrem-termasuk ketika terusik manusia-ular ini bisa menjadi sangat agresif.
Di musim hujan, ketika tanah becek dan sarang mereka tergenang, ular-ular ini lebih sering keluar, bahkan masuk rumah warga, bukan karena mereka memangsa manusia, melainkan karena mereka terusir.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sulsel menyebut musim kemarau basah akan terus berlanjut hingga September. Musim kemarau ini juga akan diikuti dengan fenomena bediding yang menjadikan sejumlah wilayah di Sulsel dingin menusuk pada malam dan pagi hari.
Berikut adalah jenis-Jenis Ular Sanca Terbesar di Dunia
- Sanca Bodo (Python bivittatus)
Ular sanca terbesar di Asia yang dapat tumbuh hingga 7 meter dan berat 182 kg, meski rata-ratanya 3-5 meter. Tubuhnya gemuk dan kuat untuk melilit mangsa. Ular ini tersebar luas di Asia Tenggara dan menjadi spesies invasif di Florida, AS. - Sanca Kembang (Malayopython reticulatus)
Ular terpanjang di dunia, bisa melebihi 10 meter. Tubuhnya ramping, lincah memanjat, dan punya sensor panas untuk mendeteksi mangsa. Selain burung dan mamalia kecil, dalam kasus ekstrem, ular ini mampu memangsa manusia. - Sanca Batu India (Python molurus)
Kerabat dekat sanca bodo dengan ukuran lebih kecil (4-6 meter). Warnanya mirip namun berpola lebih acak. Ular ini menghuni padang rumput, savana, dan bebatuan di wilayah India, Pakistan, hingga Sri Lanka. - Sanca Patola (Simalia amethistina)
Ditemukan di Papua dan Australia, ular ini tumbuh hingga 4 meter. Tubuhnya ramping dan kuat, sering ditemukan di atas pohon. Sisiknya berkilau seperti pelangi, menjadikannya populer sebagai hewan peliharaan, meski kini terancam karena perburuan. - Sanca Papua (Apodora papuana)
Berukuran hingga 4,3 meter, ular ini hidup di hutan dan savana Papua. Warna tubuhnya membantu kamuflase, dan perilakunya sebagai predator penyergap membuatnya efektif dalam memburu mamalia kecil secara diam-diam.
Seperti diberitakan sebelumnya, warga Samata di sekitar kampus UIN Alauddin, di Kabupaten Gowa digegerkan dengan penemuan ular piton sepanjang lima meter, Rabu, 23 Juli malam. Ini adalah penangkapan ke enam yang terjadi dalam sepekan terakhir.
Tim Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Gowa segera mengevakuasi ular tersebut meski prosesnya cukup sulit karena dilakukan pada malam hari dan reptil besar itu bersembunyi di semak-semak. Muhammad Said, Sekretaris Damkar Gowa, mengatakan, pihaknya cepat tanggap setelah menerima laporan warga.
“Lokasinya di Kelurahan Semata, Kecamatan Somba Opu, sekitar kampus UIN Alauddin Makassar,” ujar Said.
Menurutnya, dalam sepekan terakhir, Damkar Gowa sudah mengevakuasi enam ekor ular piton dari kawasan permukiman warga di sekitar kampus. Panjang ular bervariasi, antara tiga hingga lima meter. Satu ekor ular diketahui sempat memakan seekor kucing yang berkeliaran di Samata.
Said menduga kemunculan ular liar di permukiman warga dipicu cuaca ekstrem dan alih fungsi lahan.
“Banyak lahan menjadi perumahan, ditambah musim yang tidak menentu, membuat ular keluar untuk mencari makan,” kata dia.
Seluruh ular yang berhasil dievakuasi rencananya akan diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Selatan untuk penanganan lebih lanjut.(egg)

Leave a Reply