KLIKSANDI.COM – SIDRAP — Inovasi teknologi tepat guna dari Universitas Negeri Makassar (UNM) mulai menyentuh langsung denyut ekonomi masyarakat. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), tim dosen UNM menerapkan mesin kabut otomatis berbasis sensor kelembapan yang terintegrasi energi surya pada usaha rumah walet di Desa Sereang, Kecamatan Maritenggae, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Teknologi tersebut dirancang untuk menjawab salah satu persoalan penting yang dihadapi pengelola rumah walet, yakni menjaga kelembapan secara stabil sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap listrik PLN maupun genset.
Program yang mengusung tema “Optimalisasi Kelembapan Rumah Walet Menggunakan Sistem Kabut Mandiri Energi Surya di Desa Sereang, Kecamatan Maritenggae, Kabupaten Sidenreng Rappang” ini menyasar Komunitas Petani Walet Sereang yang beranggotakan 12 orang di bawah pimpinan mitra, H. Syahril.
Selama ini, pengendalian kelembapan rumah walet masih dilakukan secara manual. Kondisi tersebut membuat pengelola harus melakukan pemantauan dan pengoperasian mesin kabut secara berkala.Melalui teknologi yang diterapkan tim UNM, proses tersebut dibuat lebih praktis.
Mesin kabut dilengkapi sensor kelembapan yang mampu membaca kondisi udara di dalam rumah walet secara real time. Ketika kelembapan berada di bawah batas yang telah ditentukan, sistem akan mengaktifkan mesin kabut secara otomatis. Sebaliknya, ketika kelembapan telah kembali ke rentang yang ditetapkan, mesin akan berhenti bekerja.
Dalam rancangan teknologi tersebut, kelembapan rumah walet diarahkan berada pada kisaran 80–90 persen RH. Sistem otomatis ini diharapkan mampu menciptakan mikroklimat yang lebih stabil sekaligus mengurangi beban pengoperasian manual.
Matahari Jadi Sumber EnergiYang membuat inovasi ini semakin menarik adalah penggunaan panel surya sebagai sumber energi mandiri.Sistem dirancang menggunakan panel surya, solar charge controller, baterai penyimpanan, serta inverter sesuai kebutuhan. Energi matahari yang tersedia pada siang hari dimanfaatkan untuk mendukung operasional mesin kabut dan sistem kontrol kelembapan.
Dengan konsep off-grid tersebut, teknologi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan rumah walet, tetapi juga mendorong pemanfaatan energi bersih dan mengurangi ketergantungan terhadap sumber listrik konvensional.
Inovasi ini menjadi contoh bagaimana teknologi sederhana dapat dikembangkan menjadi solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan potensi ekonomi lokal.
Ketua tim pengabdian, Ayu Saputri Bahar, menegaskan bahwa program tersebut tidak berhenti pada pemasangan perangkat.
“Mitra juga mendapatkan pelatihan dan pendampingan agar mampu mengoperasikan, memantau, serta melakukan perawatan teknologi secara mandiri,” ujar Ayu Saputri Bahar kepada awak media, (19/8).
Ia pun menjelaskan bahwa, tahapan kegiatan dimulai dari survei dan identifikasi permasalahan, sosialisasi, pelatihan teknis, penerapan teknologi, pendampingan dan monitoring, hingga evaluasi serta penyusunan strategi keberlanjutan.
“Pelatihan dilakukan secara praktik langsung. Materinya mencakup pengenalan komponen, prinsip kerja mesin kabut otomatis, pengaturan kelembapan, pengenalan sistem panel surya, pengoperasian hingga perawatan perangkat,” tambah Ayu.
Mitra juga diarahkan melakukan pencatatan sederhana terkait tingkat kelembapan, waktu operasi mesin dan perawatan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat aspek manajemen usaha rumah walet.
Program PKM tersebut juga menjadi ruang kolaborasi antara dosen dan mahasiswa. Tim terdiri atas Ayu Saputri Bahar sebagai ketua pengusul, bersama Hamidah Hamris dan Iriandy sebagai anggota pelaksana.
Sejumlah mahasiswa Pendidikan Teknik Bangunan turut dilibatkan dalam pengumpulan data, dokumentasi, pendampingan dan evaluasi kegiatan.
Keterlibatan mahasiswa memberikan pengalaman pembelajaran kontekstual. Mereka tidak hanya mempelajari teknologi di lingkungan akademik, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata di tengah masyarakat.
Sementara Iriandy yang merupakan anggota pelaksana menjelaskan bahwa, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengimplementasikan keilmuan pendidikan teknologi kejuruan melalui penerapan teknologi tepat guna yang dapat dipahami sekaligus dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.
Penerapan mesin kabut berbasis energi surya ini tidak sekadar berbicara tentang teknologi. Program tersebut juga memiliki kaitan dengan pengembangan energi bersih dan penguatan ekonomi produktif masyarakat.
Pemanfaatan energi surya mendukung SDG 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, sementara peningkatan efisiensi pengelolaan usaha rumah walet sejalan dengan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
“Kami berharap teknologi yang telah diterapkan tidak berhenti setelah program selesai. Sebaliknya, mitra diharapkan mampu mengelola, merawat, dan mengembangkan sistem secara mandiri sesuai kebutuhan usaha,” ujarnya.
Bagi masyarakat Sereang, inovasi tersebut membuka peluang baru: rumah walet tidak hanya dikelola dengan cara konvensional, tetapi mulai memanfaatkan sistem otomatis dan energi terbarukan.
“Melalui program ini, UNM menunjukkan bahwa inovasi kampus dapat hadir langsung di tengah masyarakat, serta mengubah persoalan sederhana menjadi ruang lahirnya solusi teknologi yang aplikatif, hemat energi dan berkelanjutan. Dari ruang akademik hingga rumah walet di Sereang, teknologi kini tidak hanya dipelajari, tetapi diterapkan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat dan memanfaatkan potensi energi matahari,” pungkasnya.

Leave a Reply