Peristiwa Bersejarah: Kisah Gerhana saat Putra Rasulullah Meninggal Dunia

Gerhana Bulan

Gerhana Bulan

KLIKSANDI.COM — Sebuah peristiwa bersejarah dalam Islam pernah terjadi saat putra Rasulullah meninggal dunia. Saat itu, bertepatan dengan terjadinya fenomena alam yaitu gerhana.

Masyarakat Madinah lalu menyangka gerhana yang terjadi berkaitan dengan wafatnya putra Rasulullah. Namun, Nabi Muhammad SAW segera memberikan penjelasan agar umat tidak terjerumus pada keyakinan yang keliru.

Lalu, bagaimana sebenarnya kisah gerhana tersebut dan apa pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepada para sahabat? Berikut penjelasannya.

Mengutip buku Nikmatnya Shalat karya Ahmad Rofi, salat gerhana pertama kali dilaksanakan ketika Rasulullah SAW berusia 60 tahun. Saat itu, beliau dikaruniai seorang putra bernama Ibrahim dari pernikahannya dengan Mariyah Al-Qibthiyyah yang berasal dari Mesir. Rasulullah SAW sangat bahagia atas kelahiran putranya tersebut.

Ibrahim kemudian disusukan kepada sebuah keluarga di perbukitan Kota Madinah. Ayah asuhnya bekerja sebagai tukang besi. Namun, Allah berkehendak lain. Saat usianya masih beberapa bulan, Ibrahim jatuh sakit dan tidak lama kemudian wafat.

Bertepatan dengan wafatnya putra Rasulullah SAW, terjadi gerhana matahari. Peristiwa ini menjadi pembicaraan hangat masyarakat Madinah. Sebagian orang mengira gerhana tersebut terjadi karena wafatnya Ibrahim.

Para ahli hadits dan ahli astronom berbeda pendapat tentang usia wafatnya Ibrahim. Ada yang menyebut 16 bulan, 18 bulan, satu tahun sepuluh bulan, bahkan 22 bulan.

Namun berdasarkan riwayat-riwayat hadits dan data astronomi, diketahui bahwa Ibrahim Ibn Muhammad meninggal pada hari Senin, 27 Januari 632 M atau 29 Syawal 10 H dalam usia 1 tahun 10 bulan (22 bulan).

Salah satu hadits yang menyebut peristiwa ini adalah riwayat dari Mughirah bin Su’bah RA yang diterjemahkan dalam buku Ringkasan Shahih Al-Bukhari oleh Imam Az Zabidi,

“Ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, gerhana matahari terjadi pada hari yang bersamaan dengan wafatnya Ibrahim atau putra Nabi SAW,” (HR Bukhari).

Berdasarkan riwayat tersebut, masyarakat saat itu mengatakan, “Matahari mengalami kusuf karena kematian Ibrahim.” Mereka mengira gerhana adalah tanda duka atas wafatnya putra Rasulullah SAW.

Meluruskan anggapan itu, Rasulullah SAW segera mengajak para sahabat untuk melaksanakan salat gerhana. Diriwayatkan dari Abu Bakrah RA, ketika gerhana terjadi, Rasulullah SAW berdiri sambil menarik jubahnya lalu masuk ke masjid. Beliau kemudian memimpin salat dua rakaat hingga matahari kembali terang.

Setelah salat, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah salat, dan bersedekahlah,” (HR Bukhari).

Dalam riwayat lain Rasulullah SAW juga bersabda, “Tetapi dengan gerhana ini, Allah membuat para hambaNya takut,” (HR Bukhari)

Hukum dan Hikmah Salat Gerhana

Dari penjelasan tersebut, Rasulullah SAW menegaskan bahwa gerhana bukanlah tanda kematian atau kelahiran seseorang. Gerhana adalah tanda kebesaran Allah SWT. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa, salat, dan sedekah saat terjadi gerhana.

Salat gerhana hukumnya sunnah muakkad dan menjadi bagian dari syiar Islam. Ibadah ini juga bertujuan menghadirkan rasa takut kepada Allah SWT serta mengingatkan manusia akan kekuasaan-Nya atas Matahari dan Bulan.

Para ulama menjelaskan, sabda Rasulullah SAW tersebut sekaligus menghentikan kebiasaan orang-orang jahiliyah yang mengagungkan Matahari dan Bulan. Padahal keduanya hanyalah makhluk Allah dan tanda kebesaran-Nya.

Itulah kisah gerhana saat putra Rasulullah meninggal dunia yang menjadi pelajaran penting tentang makna gerhana dan hukum salat gerhana dalam Islam.(egg)

Leave a Reply