KLIKSANDI.COM, Mamuju — Sapar, pelaut asal Makassar adalah salah satu dari lima Anak Buah Kapal (ABK) Kapal Layar Motor (KLM) Fadil 12 yang selamat. KLM Fadil 12 diketahui karam di perairan Balikpapan saat mengangkut batu bara, pekan lalu.
Sapar bercerita tentang bagaimana dirinya dan empat rekannya yang merupakan warga Jeneponto bertahan hidup. Saat KLM Fadil 12 karam, Sapar bersama empat rekannya bertahan di atap kapal yang berbahan papan.
Setelah kapal benar-benar tenggelam, kelima ABK yang tersisa hanya berpegangan pada papan kayu atap kapal untuk tetap mengapung di permukaan laut. Atap kapal itupun akhirnya terbawa arus laut. Dari Balikpapan ke Selat Makassar, tanpa makanan. Nyawa mereka benar-benar di ujung tanduk.
Selama lima hari mereka hanya bisa mengandalkan papan yang dijadikan pijakan agar tidak tenggelam. Mereka harus bertahan diterpa badai dan ombak yang tinggi.
Dalam kondisi tanpa makanan dan air tawar, mereka bertahan dengan memakan kepiting mentah dan serpihan sampah laut demi bertahan hidup.
“Kami terbawa gelombang di atas kayu selama lima hari, Pak. Malamnya kami tidak bisa tidur, hanya pasrah menunggu keajaiban,” tutur Sapar pilu.
Keajaiban itu akhirnya datang ketika kapal tugboat Ansanus yang melintas di jalur menuju Pelabuhan Babana, Mamuju Tengah, menemukan mereka terapung lemah di tengah lautan. Para ABK yang selamat langsung dievakuasi dan mendapatkan pertolongan medis darurat di atas kapal. Mereka kemudian dibawa ke Mamuju Tengah untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.
Kini, kelima korban dilaporkan dalam kondisi sadar dan akan segera dipulangkan ke daerah asal masing-masing setelah menjalani perawatan lanjutan. Sementara itu, upaya pencarian terhadap tiga ABK yang hilang masih terus dilakukan oleh tim SAR dan pihak berwenang.
Sapar menuturkan bahwa KLM Fadil 12 yang mereka tumpangi membawa muatan batu bara dari Samarinda menuju Balikpapan. Namun, di tengah pelayaran, musibah datang tanpa diduga. Kapal mengalami kebocoran hebat hingga tak mampu dikendalikan.
“Kami membawa batu bara dari Samarinda ke wilayah sekitar Balikpapan. Tapi kapal tiba-tiba bocor dan air cepat masuk,” ungkap Sapar.
Tiga orang rekannya sempat berusaha memperbaiki kebocoran di ruang mesin. Namun nahas, mereka justru ikut tenggelam bersama kapal ke dasar laut.
“Saat bocor, tiga temanku turun di kamar mesin untuk memperbaiki. Kami berlima di atas, tapi air masuk sangat cepat, mungkin tidak sampai lima menit,” tambahnya.
Kisah selamatnya Sapar dan rekan-rekannya menjadi pengingat betapa ganasnya laut dan pentingnya keselamatan pelayaran di tengah cuaca ekstrem yang kerap melanda perairan Indonesia.(egg)
Data 5 Korban Selamat
- Reski Wawan (28), warga Desa Sappang, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto
- Sapar (28), warga Rappokalling, Kecamatan Tallo, Kota Makassar
- Wandi (20), warga Dusun Bonto Baru, Kecamatan Taroang, Kabupaten Jeneponto
- Rahman Dg Tiro (31), warga Dusun Bontang, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto
- Ardi (16), warga Dusun Kampung Beru, Kecamatan Taroang, Kabupaten Jeneponto
Data 3 Korban Hilang
- Heri (30), asal Kabupaten Jeneponto
- Adi (40), asal Kabupaten Jeneponto
- Rido (19), asal Kabupaten Jeneponto

Leave a Reply