KLIKSANDI.COM, Pangkep — Keberadaan “Segitiga Bermuda” Masalembo menjadi misteri yang menghantui pelayaran maupun penerbangan yang rutenya melewati wilayah ini. Sebab, di wilayah Segitiga Bermuda Masalembo ini memang kerap terjadi kecelakaan lalu lintas, mulai dari kecelakaan kapal laut hingga kecelakaan pesawat terbang.
Korban jiwa dan kerugian yang terjadi dari kecelakaan pun terhitung tidak sedikit. Kasus terakhir, adalah hilangnya kapal ambulans milik Pemprov Sulsel. Kapal ini diketahui melakukan pelayaran dari pulau Tinggalungan ke Pulau Dewakang. Wilayah laut ini juga sering dikaitkan dengan kawasan segitiga bermuda.
Kawasan segitiga bermuda versi Indonesia ini dibuat berdasarakan posisinya yang dapat digambarkan dengan garis khayal di perairan Laut Jawa antara Pulau Bawean di Jawa Timur, Kota Majene di Sulawesi Barat dan Pulau Tengah di Nusa Tenggara Barat.
Salah satu tragedi terburuk dalam sejarah transportasi laut Indonesia terjadi disini. Kapal Motor Penumpang (KMP) Tampomas II pada 27 Januari 1981 terbakar hingga tenggelam dalam pelayarannya dari Tanjung Priok ke Makassar. Berikut daftar kecelakaan laut di kawasan segitiga bermuda versi Indonesia.
- KM Tampomas II
KM Tampomas II merupakan kapal milik Pelni (Pelayaran Nasional Indonesia). Kapal tersebut sedang melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Sulawesi dan dikabarkan kebakaran dan tenggelam pada tangga 27 Januari 1981.
Kapal ini dikabarkan membawa 11.055 Penumpang, 191 mobil, dan 200 motor. Korban tewas sejumlah 431 orang termasuk di antaranya Kapten Abdul Rivai, sebanyak 288 orang dinyatakan hilang, dan 753 orang selamat. - Pesawat Adam Air
Salah satu kecelakaan yang cukup menghebohkan dan terjadi di “Segitiga Bermuda” Masalembo adalah musibah jatuhnya pesawat Adam Air. Adam Air penerbangan 574 tujuan Surabaya-Manado dengan jumlah penumpang 102 dinyatakan hilang di atas perairan Majene. - KM Mutiara Indah
KM Mutiara Indah dinyatakan tenggelam pada 19 Juli 2007. KM Mutiara Indah tenggelam di perairan pantai Tanjung Rangas tidak jauh dari perairan Majene. - KM Fajar Mas
Berselang beberapa hari setelah KM Mutiara Indah tenggelam di perairan Majene, selanjutnya tanggal 27 Juli 2007 KM Fajar Mas juga dinyatakan tenggelam di perairan pantai Tangjung Rangas. - KM Teratai Prima
11 Januari 2009, “Segitiga Bermuda” Masalembo kembali menelan korban. KM Teratai Prima dinyatakan karam di perairan yang terkenal dengan ombak yang bisa mencapai 5-7 meter itu. Kapal mengangkut 267 orang dan beberapa awak kapal. Sebanyak 36 orang yang dinyatakan selamat dan selebihnya belum diketahui nasibnya. - Kapal Penangkap Ikan Sumber Awal
Pada 16 Agustus 2007 kapal penangkap ikan Sumber Awal tenggelam di perairan Kelurahan Labuang, Kecamatan Banggae Timur. Hampir setahun kemudian, 8 Juli 2008, giliran kapal pengangkut bahan kebutuhan pokok tenggelam di perairan Tanjung Rangas saat berlayar dari Palu (Sulawesi Tengah) ke Makassar (Sulsel). - Kapal Motor (KM) Mutiara Sentosa I
Kapal Mutiara Sentosa I juga mengalami kecelakaan tragis di segitiga bermuda ini. Kapal itu terbakar dan kandas di perairan Masalembo. Kapal yang bertolak dari Surabaya menuju Balikpapan itu membawa ratusan penumpang dan ABK, serta 87 kendaraan roda dua, roda empat dan truk. Total dari 197 korban, 192 selamat sementara lima orang lainnya tewas dalam kecelakaan tersebut. - Ambulans Laut Pangkep
Keberadaan kapal ambulans Pangkep yang hilang sejak Senin, 13 Oktober 2025 kini masih misterius. Kini, tim SAR gabungan belum menemukan tanda-tanda keberadaan kapal itu. Padahal, jalur yang dilewati ambulans kapal itu termasuk dalam jalur pelayaran yang ramai.
Kasi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas A Makassar, Andi Sultan mengatakan bahwa KN SAR Kamajaya sudah melakukan pencarian di sekitar Pulau Doangdoangan hingga ke Pulau Pagarungan, namun masih belum mendapatkan hasil mengenai keberadaan dari kapal ambulans yang hilang kontak sejak Senin lalu.
“Berdasarkan perhitungan dan simulasi dari SAR Map, pencarian telah dilakukan oleh KN SAR Kamajaya di Pulau Doangdoangan hingga ke Pulau Pangarungan dengan pola paralel karena pencarian cukup luas hingga 115 nm, dengan radial 209° arah barat daya. Selain itu kendala di lapangan adalah arus dan ombak yang cukup tinggi dan juga hingga saat ini, kami belum menemukan adanya tanda-tanda kapal ambulans tersebut, padahal jalur yang dilewati termasuk jalur pelayaran yang cukup ramai,” tegas Sultan.
Sebelumnya di ketahui bahwa kapal ambulans dengan rute Pulau Tinggalungan ke Pulau Dewakkang berangkat sejak hari Senin, 13 Oktober 2025 dengan perjalanan yang seharusnya ditempuh sekitar 8 jam namun hingga saat ini belum tiba juga sehingga dinyatakan lost contact atau hilang kontak di Selat Makassar, Kabupaten Pangkep.(egg)

Leave a Reply