KLIKSANDI.COM, Makassar — Migrasi politik terjadi di tubuh partai Nasdem Sulsel. Sejumlah kader yang merupakan gerbong dan orang-orang dekat ketua DPW Nasdem Sulsel, Rusdi Masse (RMS) perlahan-lahan mulai meninggalkan Nasdem. Sebagian di antara mereka telah menyatakan diri bergabung ke PSI.
Arus perpindahan ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh besar Rusdi Masse Mappasessu (RMS), yang kini anaknya, Muammar Ferirae Gandi Rusdi, menjabat Ketua DPW PSI Sulsel.
Nama terbaru yang menyatakan diri hengkang dari Nasdem adalah Mantan Bupati Pinrang, Andi Aslam Patonangi. Dia telah menyatakan diri mundur dari Nasdem. Meski belum menyatakan akan bergabung di partai mana, Andi Aslam dikenal adalah tokoh Nasdem yang berpengaruh.
Sementara itu, Andi Irwan Hamid yang bergabung dengan NasDem pada akhir 2021, kini justru menjadi Ketua OKK DPW PSI Sulsel.
Tidak berhenti di situ, keluarga politisi NasDem juga ikut pindah perahu. Ratnawati Muchlis, istri Bupati Enrekang, Yusuf Ritangnga, kini dipercaya memimpin PSI Enrekang. Putri mantan Ketua NasDem Barru Suardi Saleh, drg Ulfah Nurul Huda Suardi, resmi menjabat Ketua PSI Barru.
Anak dari Andi Irwan Hamid, yakni Andi Ichsan, kini memimpin PSI Pinrang. Sementara di Pangkep, Raisza Makis—kerabat dekat Ketua NasDem sekaligus Bupati Pangkep—didapuk sebagai Ketua PSI Pangkep.
Ketua Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan (OKK) DPW NasDem Sulsel, Andi Tobo Haeruddin, menilai perpindahan itu sebagai konsekuensi yang wajar dalam dunia politik. Ia menegaskan bahwa tidak ada paksaan bagi kader untuk bertahan di NasDem.
“Sejak awal Ketua Umum menekankan bahwa tidak ada paksaan dalam berpartai. NasDem tidak bisa melarang maupun menyuruh orang untuk bertahan atau pergi. Semua tergantung visi mereka masing-masing,” kata Tobo, Senin (29/9/2025).
Menurutnya, setiap politisi memiliki kalkulasi sendiri dalam menentukan sikap. Jika merasa lebih diuntungkan di tempat lain, tidak ada ruang bagi partai untuk menahan.
“Politisi itu sudah punya kalkulator politik. Kalau dianggap lebih menguntungkan pindah, itu pilihan mereka. Kita tidak bisa melarang,” jelasnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa karakter seorang politisi harus tercermin dalam loyalitas terhadap ideologi partai, bukan pada sosok individu.
“Politisi berkarakter itu loyal pada ideologi partai, bukan loyal ke personal. Kalau loyalnya ke orang, itu justru yang merusak perjuangan,” pungkasnya.
Arus eksodus kader ini memperlihatkan bagaimana “RMS effect” bekerja. Meskipun tidak lagi secara langsung memimpin partai, pengaruh RMS di Sulsel tetap kuat dan kini mendapat saluran baru lewat PSI.(egg)

Leave a Reply