KLIKSANDI.COM, Parepare – Kebakaran hebat melanda lima rumah di Jalan menara, Kecamatan Soreang, Kota Parepare, Sulawesi Selatan, Selasa, 23 September 2025, dini hari. Seorang kakek dilaporkan tewas bersama cucunya dalam kebakaran nahas itu.
Sang kakek diketahui bernama Abdul Muin (70) dan cucunya, Asril Asikin (9). Keduanya tidak sempat menyelamatkan diri.
Camat Soreang, Awaluddin, menjelaskan api mulai muncul sekitar pukul 01.45 Wita dari salah satu rumah, lalu dengan cepat menjalar ke bangunan lain hingga membakar total lima rumah. Kerugian akibat kebakaran ini ditaksir mencapai Rp400 juta.
“Penyebab sementara diduga korsleting listrik dari AC. Dua korban meninggal dunia karena terjebak dalam rumah. Kemungkinan besar keduanya tertidur, sementara warga panik dan tidak sempat membangunkan mereka,” ungkapnya.
Kabid Penanggulangan dan Penyelamatan Damkar Parepare, Frans, menyebut api baru berhasil dipadamkan setelah sekitar satu jam. Kendala utama yang dihadapi adalah akses jalan yang sempit serta adanya arus listrik di sekitar lokasi.
“Saat tiba, kami langsung melakukan penanganan dengan mengerahkan tiga unit mobil damkar dan empat unit suplai air,” ujarnya.
Selain menewaskan dua orang, kebakaran ini membuat lima rumah hangus. Warga yang selamat berusaha mengevakuasi barang-barang yang masih bisa diselamatkan.
BPBD Parepare juga mendirikan tenda pengungsian tak jauh dari lokasi kejadian untuk menampung warga terdampak.
Suasana haru menyelimuti rumah duka Abdul Muin dan Asril. Keluarga korban tak henti menangisi kepergian dua anggota keluarga mereka. Ibu Asril, Annisa, bahkan sempat jatuh pingsan karena histeris.
Sejumlah guru dan teman sekolah Asril dari SD Negeri 52 Parepare turut hadir memberikan penghormatan terakhir. Beberapa di antaranya menangis mengenang sosok Asril yang dikenal baik hati dan suka berbagi.
“Dia anak yang baik, sering membantu. Kalau ada temannya tidak bawa uang jajan, dia bagi dua uang jajannya,” kenang salah satu guru.
Lena, teman Asril, juga bercerita tentang kebiasaannya membantu mengumpulkan wadah makan bergizi gratis (MBG) seusai makan bersama. “Sempat ji bantu kumpulkan ompreng MBG. Karena kita setiap hari makan bersama,” ucapnya.
Bagi sang ibu, Annisa, kepergian anak semata wayangnya meninggalkan luka mendalam. “Saya tidak sangka anakku. Dia sama kakeknya di sana,” ucapnya lirih.(egg)

Leave a Reply