KLIKSANDI.COM, Maros — Wilayah terdampak kekeringan di Kabupaten Maros semakin meluas. Kini, sudah sembilan kecamatan di Maros terdampak kekeringan akibat kemarau yang panjang.
Jika sebelumnya hanya melanda enam kecamatan, kini bertambah menjadi sembilan kecamatan. Adapun wilayah yang terdampak kekeringan yakni Kecamatan Bontoa, Maros Baru, Lau, Marusu, Tanralili, Mandai, Moncongloe, Simbang, dan Bantimurung.
Kecamatan Bontoa menjadi daerah yang paling parah mengalami kekeringan. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maros, Towadeng, menyebut pihaknya telah menyalurkan sedikitnya 140 tangki air bersih ke sejumlah wilayah terdampak.
Setiap tangki berkapasitas 5.000 liter. Artinya, hingga kini sudah ada sekitar 700.000 liter air yang disalurkan ke masyarakat.
“Sebanyak 140 tangki telah disalurkan. Mulai dari daerah pesisir hingga daratan yang sebelumnya tidak membutuhkan air bersih, sekarang sudah membutuhkannya,” katanya, Senin (22/9/2025).
Ia menambahkan, ada empat armada yang beroperasi setiap hari untuk melayani kebutuhan warga. “Sekitar 12 tangki yang kami salurkan tiap harinya,” jelasnya.
Meski distribusi air terus berjalan, Towadeng mengaku pihaknya masih terkendala anggaran. Karena itu, langkah lanjutan tengah dikaji bersama pemerintah daerah.
“Untuk penyaluran air bersih, kalau masih berlanjut, kita tambahkan anggaran dari Belanja Tidak Terduga (BTT). Itu sesuai aturan dengan menetapkan status tanggap darurat,” bebernya.
Bupati Maros, Chaidir Syam, menyampaikan BPBD menurunkan empat unit tangki air setiap hari. Jika jumlah itu belum cukup, pihaknya juga melibatkan PDAM dan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar).
Selain itu, sejumlah pihak eksternal ikut menyalurkan bantuan air bersih. “Seperti Angkasa Pura dan PMI juga akan menyalurkan,” ujarnya .
Ia menjelaskan di Kecamatan Bontoa, sebagian titik sudah bisa terlayani air bersih melalui booster PDAM. Meski begitu, belum semua wilayah dapat terjangkau.
Chaidir menegaskan, selain fokus pada penanganan darurat, Pemkab Maros juga menyiapkan langkah jangka panjang. Salah satunya dengan peningkatan kapasitas instalasi pengolahan air.
Ia menjelaskan, kapasitas Instalasi Pengolahan Air (IPA) Bantimurung saat ini hanya 120 liter per detik. Rencananya, kapasitas tersebut akan ditingkatkan menjadi 200 liter per detik.
“Untuk IPA Pattontongan, keterbatasannya ada pada ketersediaan air baku. Ada potensi pembangunan IPA baru di Masale, namun masih dalam proses kajian,” kata Chaidir.
Sementara itu, warga Kecamatan Marusu, Raiah, mengaku sangat terbantu dengan adanya bantuan air bersih dari pemerintah.
Tanpa bantuan tersebut, warga setempat biasanya hanya mengandalkan air empang yang berwarna kehijauan, berbau, bahkan terasa asin.
“Di sini susah air bersih, hanya pakai air empang yang berbau dan asin,” ujar Raiah.
Meski tidak layak konsumsi, warga tetap menggunakannya untuk mencuci dan mandi. Untuk memasak dan minum, mereka terpaksa membeli air bersih dengan harga cukup mahal.
“Kalau untuk minum, kami beli air tangki Rp100 ribu. Kalau tidak ada uang, terpaksa dicampur dengan sedikit air bersih yang ada. Air hujan yang biasanya ditampung juga sudah habis. Sementara PDAM tidak mampu menyalurkan air ke wilayah kami,” tambahnya.(egg)

Leave a Reply