Dimana Polisi Saat Gedung DPRD Dibakar? ini Penjelasan Kapolrestabes Makassar

Puing-puing sisa kebakaran di DPRD Makassar. BPBD Makassar menaksir kerugian akibat insiden itu mencapai Rp253,4 miliar.

LUDES. Puing-puing sisa kebakaran di DPRD Makassar. BPBD Makassar menaksir kerugian akibat insiden itu mencapai Rp253,4 miliar.

KLIKSANDI.COM, Makassar — Kantor DPRD Makassar dan DPRD Sulsel dibakar saat aksi unjuk rasa yang berujung kerusuhan, akhir pekan lalu. Empat korban jiwa dilaporkan akibat kerusuhan itu.

Dimana polisi saat kejadian itu? Banyak pihak yang menyayangkan karena polisi tidak terlihat saat kejadian itu. Kepala Polrestabes Makassar, Komisaris Besar Polisi Arya Perdana akhirnya buka suara soal aksi demonstrasi itu. Dia menyebut, pada dasarnya polisi ada di lokasi itu.

Hanya saja, dia menyebut, jumlah personel yang berjaga sangatlah terbatas. Hanya sekitar 200 orang. Mereka juga tidak dilengkapi senjata. Sementara, kata Arya, massa kala itu sangat banyak dan tidak dapat dibendung.

“Kemarin itu pada tanggal 29 Agustus 2025, memang ada situasi yang tidak terbendung dan tidak tertangani oleh polisi. Dimana jumlah kami saat itu hanya 200 orang. Ketika massa datang ke kantor DPRD anggota kami memang tidak dilengkapi dengan senjata,” katanya dilansir dari Antara, Senin (1/9/2025).

Menurutnya, komitmen dari Kapolri Listyo Sigit untuk tidak menyakiti para pengunjuk rasa. Namun melihat perkembangan situasi dan eskalasi meningkat, dia mengatakan tidak ingin ada korban berikutnya.

Saat penarikan personil dari DPRD Sulsel dan bergabung di bawah jembatan layang Pos Lantas. Hanya saja, Arya mengatakan di pos polisi itu, massa mulai melempari batu dan bom molotov, sehingga diambil keputusan berkumpul di depan kantor dealer Toyota di Jalan Urip Sumoharjo.

Tidak hanya itu, pasukan juga mendapat laporan intelijen terkait dengan kabar adanya razia dengan targetnya anggota Polri oleh mahasiswa di jalanan. Bahkan diduga ada kelompok yang sengaja mencari polisi yang diturunkan untuk dikeroyok, maka diambil keputusan ditarik karena berisiko.

“Kami tidak bisa melakukan risiko itu, karena kami minta bantuan dari TNI,” kata dia.

Karena kondisi sudah tidak memungkinkan mengerahkan anggota polisi, pihaknya lalu berkoordinasi dengan aparat TNI. Sayangnya, aparat TNI juga tidak bisa berbuat banyak. Prajurit TNI yang dikerahkan tertahan di depan Kampus UMI dan depan kampus UNM.

“Waktu TNI jalan, dihalangi kelompok massa di depan Kampus UMI dan depan Kampus UNM [Universitas Negeri Makassar] serta tempat lain, jadi tidak bisa masuk,” katanya.(egg)

Leave a Reply