KLIKSANDI.COM, Jakarta — Film Superman 2025 akan mulai tayang di bioskop. Tidak hanya sekadar mempertontonkan tentang ketegangan, film ini disebut juga sukses membuat penonton menangis.
Film Superman ini seolah mendeklarasikan bahwa film superhero masih bisa menyentuh, masih bisa manusiawi, dan masih bisa relevan di tengah kejenuhan template film pahlawan super belakangan ini.
Disutradarai oleh James Gunn, film ini bukan cuma pamer efek visual atau adu jotos besar-besaran seperti pendahulunya. Ia justru mengambil pendekatan sebaliknya: membumi. Superman tidak lagi digambarkan sebagai dewa penyelamat, melainkan sebagai manusia dengan semua kerapuhannya.
Dan hasilnya? Salah satu film superhero terbaik sepanjang masa, dengan rating 9,4/10 dari banyak penonton dan pengulas independen.
Tak ada dualisme kentara antara Clark Kent yang kikuk dan Superman yang gagah di film ini. Bahkan dari awal, ketika digigit anjing peliharaan, kita disuguhi suara teriakan Superman yang melengking.
Aura keperkasaan yang selama ini dibangun puluhan tahun langsung runtuh. Tapi justru dari titik itu, narasi manusiawi film ini mulai bekerja.
Superman dibuat goyah, kelelahan, frustasi, bahkan terbaring lemah seperti anak kecil yang demam. Dalam satu adegan, ia digendong ke kasur oleh kekasihnya, lalu ditenangkan kedua orangtuanya. Sebuah penggambaran paling rendah hati terhadap karakter yang selama ini dianggap paling kuat di bumi.
James Gunn tak bermain aman. Ia langsung meluncurkan penonton ke dalam semesta DC yang baru, tanpa pengantar. Tak perlu menonton film sebelumnya, tak ada pengulangan cerita asal-usul panjang, hanya dunia yang sudah berjalan dengan sendirinya.
Langkah ini penuh risiko. Tapi Gunn, dengan segala keberaniannya, menyajikan penceritaan penuh eksposisi yang cerdas dan rapi, terutama bagi penonton awam. Layanan streaming film online
Dialog demi dialog bukan sekadar bualan, tapi jadi alat untuk membangun dunia, menjelaskan politik, karakter, hingga peran Superman dalam konflik internasional yang disorot.
Salah satu kekuatan film ini terletak pada keberaniannya menyajikan adegan-adegan panjang berisi dialog, bukan aksi nonstop.
Misalnya, percakapan antara Superman dan Lois Lane tentang intervensinya di sebuah negara fiktif yang sedang berkonflik. Dialog ini membenturkan idealisme superhero dengan realitas politik global.
Apakah Superman penyelamat netral? Atau instrumen dari kekuatan global yang lebih besar? Diskusi semacam ini nyaris tak pernah muncul di film superhero modern.
Gunn juga memanfaatkan teknik visual ekstrem. Dengan lensa Leitz Tri-Elmar super-wide dan pendekatan for-shortening, film ini mampu menghadirkan adegan-adegan yang terasa seperti langsung diambil dari panel komik. Layanan streaming film online
Efeknya dramatis, pukulan Superman seolah menghantam langsung ke layar, ekspresi wajahnya terasa dekat, manusiawi, dan penuh emosi.
Estetika ini mungkin terasa ‘aneh’ bagi sebagian penonton yang terbiasa dengan gaya sinematik Zack Snyder yang gelap dan megah. Tapi Gunn tak berniat menyenangkan semua orang. Ia lebih memilih mengejar visi artistiknya.
Tanpa membocorkan alur, ending Superman (2025) menyuguhkan puncak emosi yang langka dalam film superhero.
Bukan karena ledakan atau pertempuran terakhir yang spektakuler, tapi karena momen personal yang mengeksplorasi kemanusiaan tokoh utama—melalui satu video keluarga yang sederhana namun menggetarkan. Layanan streaming film online
Seorang penonton bahkan mengaku menitikkan air mata, bukan karena aksi heroik, tapi karena kedekatan emosional yang dibangun perlahan sejak awal film.
James Gunn berhasil menciptakan Superman yang bukan sekadar kuat, tapi juga rapuh. Seorang alien yang tidak merasa lebih tinggi dari manusia, tapi justru tenggelam dalam kerumitan emosi mereka.
Film ini mungkin tidak akan memuaskan semua fans DC lama. Tapi ia memberi harapan baru: bahwa film superhero masih bisa punya makna, punya suara, dan punya kedalaman.(egg)

Leave a Reply