Kisah di Balik Suara Tabuhan Gendang Misterius dari Makam Raja Mandar

Makam Todzilaling yang dianggap sebagai salah satu makam tua suku Mandar.

SEJARAH. Makam Todzilaling yang dianggap sebagai salah satu makam tua suku Mandar.

KLIKSANDI.COM, Sulbar — Di Suku Mandar, Sulawesi Barat, ada sebuah makam yang dipercaya secara turun temurun sebagai makam keramat. Makam itu adalah makam raja pertama suku Mandar, bernama I Manyambungi dengan gelar Todzilaling.

Makam Todzilaling terletak di puncak bukit Desa Napo, Kecamatan Limboro. Jaraknya sekira 50 kilometer dari Kecamatan Polewali yang menjadi ibu kota Kabupaten Polewali Mandar.

Lokasi pemakaman ini berada di ketinggian 230 Mdpl. Harus melewati sekitar 170 anak tangga untuk mencapainya. Kompleks makam Todzilaling ditandai keberadaan sebuah pohon beringin berukuran raksasa yang tumbuh menjulang tinggi dan diperkirakan telah berusia ratusan tahun.

Konon, warga sekitar kerap mendengarkan suara tabuhan musik yang misterius berasal dari makam ini. Tabuhan musik ini secara turun temurun dipercaya memiliki kisah tersendiri.

“Yang dimakamkan di sini ialah raja pertama Balanipa yang bergelar Todzilaling. Beliau adalah raja pertama Balanipa, raja pertama Mandar,” kata penggiat wisata dan budaya Mandar, Adil Tambono.

I Manyambungi atau Todzilaling diangkat menjadi raja setelah berhasil menyelesaikan sejumlah persoalan di daerahnya, termasuk menaklukkan kerajaan Passokkorang.

“Setelah menyelesaikan persoalan, terutama ketika Passokkorang sudah mulai dikalahkan, maka lembaga Appe Banua Kaiyyang menyepakati Todzilaling atau I Manyambungi diangkat menjadi raja pertama di Mandar, atau maradia pertama di Balanipa yang disebut kerajaan Balanipa,” jelasnya.

Adil juga menceritakan, bahwa warga memang kerap mendengar suara misterius dari makam itu. Dia menyebut, konon raja pertama itu memiliki banyak dayang-dayang yang setia. Saat dia meninggal, para dayang-dayang itu bersedia dimakankan secara hidup-hidup.

“Para dayang itu dimakamkan dalam kondisi masih hidup sebagai bentuk kesetiaan kepada sang raja,” kata dia.

Lebih lanjut Adil menceritakan, ada 14 dayang yang mengikuti todzilaling saat pemakaman. Mereka terdiri dari 7 perempuan dan tujuh orang laki-laki. Para dayang itu mengantar Todzilaling masuk ke liang lahat sembari menari dengan iringan tabuhan musik.

Dikisahkan, selama 14 hari setelah dimakamkan, sayup-sayup masih terdengar suara para penari dari dalam kubur.

“Mereka semua ikut ke liang lahat dan selama 14 hari suara-suara gendang itu masih sayup-sayup terdengar. Nanti dinyatakan mati (14 dayang) setelah tidak terdengar lagi suara nyanyian dan bunyi gendang,” ujarnya.

Adil mengungkapkan, seiring berjalannya waktu warga setempat masih kerap mendengar suara nyanyian maupun tabuhan musik, diduga berasal dari makam Todzilaling.

“Dalam perjalanan waktu itu, terkadang juga biasa terdengar suara bunyi sumbernya dari sini (makam Todzilaling), sampai ke telinga warga yang ada di Napo,” pungkasnya.

Warga setempat bernama Adam mengatakan, pada waktu-waktu tertentu banyak warga yang berziarah ke makam ini. Pengunjung berasal dari berbagai daerah, mereka datang secara berkelompok dan juga perorangan.

“Biasanya pengunjung ramai usai perayaan hari-hari kebesaran, seperti perayaan maulid, usai Lebaran, hingga 17 Agustus,” ucap Adam.

Diakui, tidak jarang ada pengunjung yang datang berziarah sembari bernazar untuk kembali ke tempat ini jika cita-citanya terkabul. Nazar tersebut ditandai dengan keberadaan sejumlah potongan kain berwarna putih yang diikatkan pada pohon.

“Orang nazar atau berniat, kalau sudah tercapai cita-citanya, mereka akan kembali berkunjung dan melepas ikatan kain pada pohon,” jelas Adam.(egg)

Leave a Reply