KLIKSANDI.COM, Bantaeng — Mahasiswa KKN di Kabupaten Bantaeng bukannya membawa hal positif di daerah tugasnya. Di Desa Layoa, keberadaan mahasiswa KKN malah menjadi pemicu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Kasus KDRT itu terjadi antara Kepala Desa Layoa, Andi Surfiadi terhadap istrinya, Dini Anggreani. Kasus ini dipicu dugaan perselingkuhan sang Kades terhadap salah satu mahasiswi KKN dari kampus Mega Rezky Makassar bernama Bekris Enjeli.
Hal itu terungkap saat Dini Anggreani memposting hasil laporannya ke Polres Bantaeng, Minggu, 31 Agustus 2025. Dia menyebut Dini memperlihatkan sejumlah luka dan bukti Laporan Polisi nomor register LP/B/206/VIII/2025/SPKT/Polres Bantaeng.
Kelopak mata kirinya tampak luka, siku kanan lebam serta kulit lutut kanan mengelupas diduga akibat diseret. Dini menulis curahan hatinya dan mengaku sudah tak sanggup menyimpan luka batin maupun fisik yang dialami.
“Mohon maaf sebelumnya untuk wargaku karena telah memposting hal ini. Sebenarnya saya malu, tapi batas kesabaran saya sudah habis,” tulis Dini.
Ia menceritakan awal mula pertengkaran dengan suaminya. Dini menduga Andi Surfiadi memiliki hubungan terlarang dengan seorang mahasiswi KKN disalah satu kampus Universitas Makassar, bernama Bekris Enjeli.
Kecurigaan itu muncul setelah sang suami kerap menyembunyikan ponsel. Bahkan, kata Dini, sandi ponsel suaminya diganti secara tiba-tiba. Dini mengaku semakin curiga saat usahanya meminjam ponsel selalu ditolak.
“Di situ awal mula pertengkaran kami, sampai akhirnya beliau melakukan kekerasan fisik terhadap saya di depan anak,” tulisnya.
Dini bahkan menuding suaminya sempat menginjak lehernya hingga nyaris merenggut nyawanya. “Saya hampir meninggal karena beliau,tidak ada rasa kasihan,” katanya.
Di hari yang sama, Dini langsung mendatangi Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) Bantaeng untuk meminta pendampingan membuat laporan ke Polres Bantaeng.
Dalam tulisannya, Dini mengaku sudah memiliki bukti visum atas luka dialaminya. Ia pun meminta kepolisian bertindak cepat.
“Saya mohon Polres Bantaeng menindaklanjuti laporan saya,” tegasnya.
Tak hanya soal KDRT, Dini juga menyinggung sikap suaminya yang justru terang-terangan tampil mesra dengan perempuan lain di hadapan sesama kepala desa.
“Bahkan saat saya berjuang untuk sembuh dari luka, beliau pergi acara bersama Kades lain dengan membawa perempuan itu, saling menyuapi seperti suami istri,” tulisnya lagi.
Dini juga menyayangkan sikap mahasiswa KKN yang ditempatkan di Desa Layoa. Ia menilai para mahasiswa tersebut tahu, namun memilih diam.
“Mereka menyaksikan secara langsung apa yang terjadi, tapi tidak saling mengingatkan,” ujarnya kecewa.
Sementara itu, Andi Sufriadi saat dikonfirmasi melalui pesan Whatsapp belum merespon. Bahkan pertanyaan terakhir yang dikirim tiba-tiba centang satu.
Kanit PPA Polres Bantaeng, Aipda Irsan juga belum memberikan keterangan terkait laporan Dini ke Mapolres. Begitupun Kasat Reskrim Polres Bantaeng, Iptu Gunawan yang enggan menjawab telepon.(egg)

Leave a Reply