KLIKSANDI.COM – Sejumlah seniman dan tokoh seni rupa Makassar menyampaikan kritik tajam terhadap penyelenggaraan Makassar Biennale di bawah kepemimpinan Jimpe.
Dalam diskusi terbuka, mereka menyoroti berbagai kejanggalan, mulai dari etika, manajemen, hingga arah artistik yang dinilai telah menyimpang dari esensi awal.
Faisal Syarif menggarisbawahi bahwa masalah utama adalah pelanggaran etika serius, seperti “pengambilan sepihak” atas lembaga Makassar Biennale.
Irwan AR bahkan menyebut praktik ini sebagai “manuver politik” dan “pembegalan”.
Selain itu, para seniman mengkritik keras arah artistik yang dianggap tidak lagi fokus pada seni rupa.
Menurut seniman senior Firman Jamil, pameran ini telah “berbelok arah,” dengan hanya menampilkan sekitar 10% seni rupa.
Biennale disebut lebih banyak menampilkan kegiatan penelitian, pengkaderan, dan penerbitan buku oleh lembaga Tanahindie.
Kritik ini diperkuat oleh kesaksian seorang penulis Malaysia yang menyebut karya-karya yang dipamerkan di Makassar Biennale 2023 masih dalam proses dan belum selesai.
Kekacauan Manajemen dan Dugaan Manipulasi Dana
Diskusi juga mengungkap kekacauan manajemen dan dugaan manipulasi dana publik. Faisal Syarif mengutip pernyataan Jimpe yang mengaku sengaja “meng-hack Biennale” dan tidak lagi menggunakan Yayasan Makassar Biennale.
Irwan AR juga menyoroti dugaan manipulasi dana dari program Dana Indonesiana yang seharusnya ditujukan untuk Yayasan Makassar Biennale, tetapi justru diajukan dan dikelola oleh lembaga Tanahindie.
Praktik ini dinilai sebagai pelanggaran hukum dan berpotensi menjadi kasus korupsi.
Untuk menanggapi kisruh ini, para seniman menyepakati beberapa langkah tegas:
- Mendorong pengurus lama Yayasan Makassar Biennale yang sah untuk mengambil kembali hak kelola.
- Mengadakan biennale tandingan sebagai bentuk protes dan upaya mengembalikan marwah seni rupa Makassar.
- Merekomendasikan agar masalah ini dibawa ke jalur hukum, dengan melaporkan dugaan manipulasi anggaran publik ke Kejaksaan atau KPK.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat membuat Makassar Biennale kembali ke khitahnya sebagai wadah untuk mengukur peradaban kota melalui seni rupa.(*)

Leave a Reply