KLIKSANDI.COM, Jakarta — Tidak hanya mendapat pujian, Agam Rinjani si penyelamat jenazah pendaki asal Brasil, Juliana kini menuai sorotan. Salah satunya terkait pernyataan Agam yang menyebut “korban bisa selamat jika dirinya tiba lebih cepat”.
Seperti yang dilansir herald.id, anggota Komisi V DPR RI, Dandel Mustaqim, secara khusus menyoroti pernyataan Agam yang beredar di podcast dan media sosial.
“Kalau ada yang bilang ‘seandainya saya ada di sana hari itu, korban bisa selamat’, itu kan berarti menyingkirkan komponen-komponen rescue lain, termasuk Basarnas yang memang lembaga resmi negara,” ujar Dandel.
Ia menegaskan, dari video dan laporan lapangan, medan evakuasi di Rinjani sangat berat dan berbahaya.
“Vertikal 200 meter di jalur batu dan pasir itu fatal. Jadi, kalau ada klaim begitu, harus hati-hati. Ini soal apresiasi atas kerja semua pihak, termasuk Basarnas yang dari hari pertama sudah berupaya maksimal,” ungkapnya.
Dandel menekankan, tim SAR resmi bekerja tanpa narsis dan tidak mendahulukan publikasi ketimbang penyelamatan. Namun ia mengakui, di era digital saat ini, upaya tim penyelamat juga perlu didukung dokumentasi visual yang baik agar publik tidak salah menilai.
“Jahatnya era sekarang, semua orang butuh visual. Kalau tak ada video, dibilang tak ada aksi. Padahal tim Basarnas sudah bergerak sejak hari pertama,” katanya.
Ketua rapat, Rifqinizamy Karsayuda, juga menilai tragedi ini harus jadi pelajaran serius. Ia meminta Basarnas mempertimbangkan penerbitan standar atau regulasi khusus untuk destinasi wisata berisiko tinggi, demi mencegah kecelakaan serupa dan melindungi petugas SAR.
“Ketika ada yang celaka di tempat berbahaya, yang disalahkan itu Basarnas. Padahal Basarnas tak punya kewenangan menutup atau mengatur pembukaan destinasi,” ujar Rifqi.
Ia menambahkan, standar mitigasi dari Basarnas akan memperkuat upaya pencegahan. “Kalau Basarnas mengeluarkan standar, ini bisa jadi rujukan pemerintah daerah. Jadi tidak asal buka jalur wisata tanpa mempertimbangkan keselamatan,” jelasnya.
Sementara itu, DPR juga menyinggung soal perlunya penjelasan yang lebih jelas kepada publik internasional. Anggota Komisi II DPR RI, Tom Wafa, menilai perlu ada juru bahasa atau rilis resmi dalam bahasa asing saat peristiwa berdampak internasional terjadi.
“Agar netizen luar negeri paham kronologi sebenarnya, tidak menyerang akun-akun resmi pejabat yang tidak terlibat langsung,” ucap Tom.
Sebagai informasi, tragedi di Rinjani memicu perhatian internasional usai seorang pendaki asal Brasil terjatuh di jalur ekstrem dan meninggal. Relawan Agam, yang baru tiba di lokasi tiga hari setelah kejadian, kemudian menjadi viral karena aksinya yang mendapat donasi dari netizen Brasil, namun juga melontarkan pernyataan yang menyinggung kerja tim evakuasi resmi.
DPR meminta Basarnas tetap fokus pada evaluasi internal dan perbaikan koordinasi, sembari mendorong pemerintah untuk meningkatkan standar keselamatan wisata di lokasi-lokasi ekstrem yang banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.(egg)

Leave a Reply