KLIKSANDI.COM, Washingtong DC — Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengaku tidak khawatir terkait dengan harga minyak melonjak melewati USD100 per barel pada hari Minggu.
Perlu diketahui, hingga pukul 09.20 WIB, harga Brent tercatat di USD113,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di USD113,25 per barel.
“Harga minyak jangka pendek, yang akan turun dengan cepat ketika penghancuran ancaman nuklir Iran berakhir, adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar demi AS, dan Dunia, Keamanan dan Perdamaian,” ujar Trump di laman media sosialnya.
“HANYA ORANG BODOH YANG AKAN BERPIKIR BERBEDA!” Trump menulis di Truth Social.
Hari Minggu menandai pertama kalinya harga minyak melewati angka USD100 per barel sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Investor khawatir perang di Iran akan berarti pembatasan berkepanjangan pada aliran minyak Timur Tengah.
Trump sering menggembar-gemborkan penurunan harga bensin dalam pidato-pidatonya dari Gedung Putih dan di seluruh negeri. Sejak pertempuran dimulai di Iran seminggu yang lalu, harga bensin naik 47 sen, atau 16%, menjadi USD3,45 per galon bensin biasa, menurut data AAA hari Minggu.
Sebenarnya Trump dan para pejabat pemerintah berusaha meredakan kekhawatiran atas kenaikan harga bensin. Para pejabat Gedung Putih tampil di acara berita hari Minggu sebelumnya untuk berargumen bahwa lonjakan harga tersebut akan menjadi masalah jangka pendek.
“Harga bensin hari ini masih USD1,50 per galon lebih murah daripada di pertengahan pemerintahan Biden, tetapi Anda benar, kami ingin harganya kembali di bawah USD3 per galon, dan itu akan terjadi lagi dalam waktu singkat,” kata Menteri Energi Chris Wright.
“Kenaikan biaya di SPBU sebagai gangguan jangka pendek,” kata sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt.
Ketegangan geopolitik menjadi pemicu utama lonjakan harga. Konflik antara AS, Israel dan Iran memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan energi global, terutama karena dampaknya terhadap Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia.
Perairan ini dilewati 20% konsumsi minyak global. Belum lagi, sejumlah produsen di Timur Tengah juga mulai menekan produksi karena serangan balasan yang dilancarkan Iran.
Gangguan pasokan juga datang dari Irak. Tiga pejabat industri mengatakan kepada Reuters bahwa produksi dari tiga ladang minyak utama di selatan Irak turun sekitar 70% menjadi hanya 1,3 juta barel per hari, setelah sebelumnya sekitar 4,3 juta barel per hari.(egg)

Leave a Reply