Relawan Tim Lacak Punya Beban Kerja Berat dengan Anggaran Terbatas, Tapi Beri Manfaat yang Nyata di Gowa

Ketua Tim Layanan Cepat Atasi Kemiskinan (LACAK) Kabupaten Gowa, Kaharuddin Muji

Ketua Tim Layanan Cepat Atasi Kemiskinan (LACAK) Kabupaten Gowa, Kaharuddin Muji

KLIKSANDI.COM, Gowa Relawan Tim Layanan Cepat Atasi Kemiskinan (LACAK) tidak hanya sekadar relawan biasa. Mereka punya beban kerja yang berat dengan anggaran yang terbatas. Namun, keberadaannya memberikan banyak manfaat yang nyata untuk masyarakat Gowa.

Hal ini ditegaskan oleh Ketua Tim Layanan Cepat Atasi Kemiskinan (LACAK) Kabupaten Gowa, Kaharuddin Muji merespons sorotan terhadap anggaran relawan LACAK. Dia menyebut, anggaran yang ada harus dilihat secara utuh dan proporsional, bukan semata dari besaran angka, tetapi dari beban kerja lapangan dan dampak nyata yang telah dirasakan masyarakat miskin ekstrem.

Menurut Kaharuddin, tantangan utama penanggulangan kemiskinan ekstrem di Kabupaten Gowa bukan pada kekurangan program, melainkan ketidakakuratan data dan masih banyaknya keluarga miskin ekstrem yang luput dari intervensi.

“Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kemiskinan di Gowa masih 6,85 persen pada 2024 dengan kemiskinan ekstrem 0,14 persen. Angka ini kecil secara persentase, tetapi di lapangan berarti masih ada ratusan keluarga yang hidup dalam kondisi sangat rentan dan belum seluruhnya tersentuh bantuan,” ujar Kaharuddin.

Ia menjelaskan, temuan tersebut juga mengemuka pada pelaksanaan Program Gowa Sejahtera (Gowa Masunggu) dalam 100 hari kerja pertama Bupati dan Wakil Bupati Gowa 2025–2030. Banyak keluarga tercatat miskin ekstrem tetapi faktanya tidak, sementara keluarga miskin ekstrem yang nyata justru belum masuk dalam basis data resmi.

“Di sinilah LACAK bekerja. Kami tidak menunggu laporan. Kami turun langsung ke rumah-rumah warga. Data kami akan melengkapi DTSEN karena lebih update dan berbasis kondisi nyata di lapangan” tegasnya.

Kerja Nyata

Kaharuddin Muji menekankan bahwa LACAK menjalankan pendataan aktif berbasis asesmen komprehensif melalui Sahabat LACAK di 167 desa dan kelurahan.

Relawan melakukan kunjungan rumah ke rumah untuk memotret kondisi riil warga: kesehatan, pendidikan, pekerjaan, aset, kondisi rumah, kepemilikan identitas, hingga riwayat bantuan.

Data dihimpun menggunakan indikator BPS, BKKBN, dan Kementerian Sosial, lalu ditindaklanjuti melalui aplikasi Si LACAK, melahirkan Rekomendasi dengan melampirkan hasil pendataan kepada Pemerintah Kabupaten Gowa melalui Dinas Sosial.

Dari hasil kerja pendataan di lapangan, kinerja nyata LACAK sepanjang 2025 telah dirasakan langsung masyarakat, antara lain:

  • 23 rumah tidak layak huni (Rutilahu) selesai diperbaiki;
  • 18 rumah lainnya masih dalam proses pembangunan atau telah direkomendasikan;
  • Akses air bersih PDAM untuk 3 rumah;
  • Bantuan biaya perawatan dan pengobatan bagi 15 kepala keluarga;
  • Bantuan modal usaha dan program Z-Mart untuk 13 kepala keluarga.
    *Bantuan Sembako bagi keluarga miskin

“Itu bukan angka di atas kertas. Di baliknya ada keluarga yang kini tinggal lebih layak, bisa berobat tepat waktu, dan mulai bangkit lewat usaha kecil,” kata Kaharuddin.

Anggaran Minim Dibanding Beban Tugas

Menanggapi isu anggaran, Kaharuddin menjelaskan bahwa Rp213.500.000 untuk 5 bulan pada 2025 dan rencana Rp500.000.000 untuk 12 bulan pada 2026, dengan target relawan yang terlibat sebanyak 867 orang, yang tersebar pada 18 Kecamatan, 167 desa/kelurahan dan 675 dusun sekabupaten Gowa , dengan anggaran yang tersedia justru sangat terbatas bila dibandingkan dengan cakupan dan beratnya tugas di lapangan.

“Sebagian besar anggaran itu untuk insentif Sahabat LACAK sekitar Rp100.000 per bulan, perlengkapan dan operasional lapangan, serta pelatihan dan pembekalan relawan. Mereka bolak-balik ke rumah warga, ke kantor desa/kelurahan, ke kecamatan, mengurus KTP, BPJS, layanan kesehatan, sampai pendampingan usaha. Padahal, tanpa mengenal waktu dan cuaca padahal banyak pula dari mereka juga bukan orang berada,” ungkapnya.

Menurutnya, kerja LACAK hanya bisa dijalankan oleh relawan dengan empati dan kepedulian tinggi. Karena itu, ia mengajak semua pihak melihat program ini dari sisi kemanusiaan.

“LACAK ini kerja hati. Kita seharusnya mendukung dan menguatkan, bukan melemahkan. Kalau belum bisa membantu lebih jauh, setidaknya jangan memadamkan semangat para relawan yang berjuang melawan kemiskinan ekstrem. Kami semata-mata ingin melihat negara hadir di tengah-tengah warga miskin,” pungkas Kaharuddin Muji.(egg)

Leave a Reply