Ramadhan tidak sekadar turun sebagai bulan, ia menjelma cermin yang jernih, memantulkan wajah manusia apa adanya. Di sana, yang diuji bukan hanya raga yang menahan lapar, tetapi juga akal yang menahan percaya, dan hati yang menahan prasangka. Sebab di antara sekian banyak godaan, yang paling halus adalah keinginan untuk mempercayai cerita yang belum tentu benar.
Sejarah telah lama menulis satu luka yang tidak lekang oleh waktu. Ketika Sitti Aisyah difitnah oleh kabar yang tidak pernah ia lakukan. Ia, pendamping Nabi Muhammad, tidak diserang dengan pedang, tetapi dengan kata-kata. Tidak dilukai oleh senjata, tetapi oleh cerita.
Fitnah itu lahir bukan dari kebenaran, melainkan dari prasangka yang diberi panggung. Ia menyebar tanpa kendali, menembus ruang-ruang kepercayaan, dan menguji siapa yang teguh, dan siapa yang mudah goyah.
Namun langit tidak pernah abai. Kebenaran tidak dibiarkan tenggelam. Wahyu turun, bukan hanya membersihkan nama, tetapi juga mengadili cara berpikir manusia: bahwa tuduhan tanpa bukti adalah kezaliman yang paling sunyi, ia tidak berdarah, tetapi membunuh kehormatan.
Sejak saat itu, sejarah tidak lagi sekadar cerita. Ia menjadi peringatan: bahwa fitnah akan selalu menemukan jalannya, tetapi kebenaran akan selalu menemukan waktunya. Hari ini, zaman berubah. Tetapi watak ujian tidak.
Kita tidak lagi hidup di lorong-lorong sunyi, melainkan di ruang digital yang riuh. Di sini, cerita bisa diciptakan, diperbanyak, lalu disebarkan dengan kecepatan yang melampaui akal sehat. Kebenaran berjalan, tetapi kebohongan berlari.
Di Kabupaten Gowa, nama Husniah Talenrang kini berdiri di persimpangan antara kerja dan cerita. Di satu sisi, ia tengah merajut pembangunan dari simpul paling dasar, ketahanan rumah tangga. Sebuah pendekatan yang tidak selalu terlihat gemerlap, tetapi menentukan arah masa depan. Di sisi lain, narasi dibangun untuk mengaburkan itu semua.
Dalam teori kekuasaan, ini bukan hal baru. Ketika legitimasi tumbuh dari kerja nyata, maka delegitimasi akan dicari melalui persepsi. Serangan tidak lagi diarahkan pada kebijakan, karena dapat diuji, melainkan pada pribadi, karena lebih mudah mengguncang emosi. Inilah fase ketika politik kehilangan argumen, lalu menggantikannya dengan cerita.
Isu perselingkuhan yang diarahkan kepada Bupati Gowa hadir dalam pola yang terlalu dikenal: sumber yang tidak berdiri, fakta yang tidak terverifikasi, dan alur yang lebih menyerupai skenario daripada kenyataan. Ia tidak lahir dari proses jurnalistik yang jujur, tetapi dari konstruksi narasi yang dipaksakan.
Hoaks bekerja bukan dengan kebenaran, tetapi dengan ilusi. Ia membangun realitas semu, di mana yang tidak terjadi terasa nyata, dan yang nyata justru diragukan.
Dalam kerangka komunikasi politik, ini adalah bentuk distorsi framing, ketika fakta dipotong, konteks dipelintir, dan emosi dijadikan kendaraan utama. Tujuannya bukan menjelaskan, tetapi memengaruhi. Bukan menerangi, tetapi mengaburkan.
Namun satu hal yang sering dilupakan: masyarakat tidak selamanya diam.
Gowa hari ini bukan ruang yang mudah digiring. Ia adalah komunitas yang tumbuh dengan kesadaran. Publiknya mulai memahami bahwa tidak semua yang beredar layak dipercaya. Mereka membaca, menimbang, lalu bertanya. Siapa yang berbicara? Dari mana sumbernya? Apa yang disembunyikan?
Hoaks selalu memiliki ciri yang sama: ia kabur dalam asal-usul, rapuh dalam pembuktian, tetapi kuat dalam sensasi. Ia mencari kecepatan, bukan ketepatan. Ia menggugah emosi, bukan akal.Dan karena itu, ia selalu meninggalkan celah. Celah itulah yang kini perlahan dibaca oleh masyarakat.
Ramadhan seharusnya menjadi benteng terakhir, tempat manusia kembali menjaga dirinya dari yang samar. Menahan diri dari yang tidak pasti, dan memilih diam ketika kebenaran belum jelas.
Karena fitnah tidak pernah bekerja sendirian. Ia membutuhkan tangan-tangan yang meneruskan, lidah-lidah yang mengulang, dan pikiran-pikiran yang tidak sempat memeriksa.
Maka ketika nama Husniah Talenrang diseret ke dalam pusaran cerita yang belum tentu benar, yang sedang diuji bukan hanya dirinya. Tetapi kita semua.
Apakah kita masih memiliki keberanian untuk berpikir sebelum percaya?
Ataukah kita telah menjadi bagian dari kerumunan yang lebih mencintai cerita daripada kebenaran?
Pada akhirnya, kebenaran tidak membutuhkan keramaian untuk menang. Ia hanya membutuhkan waktu. Dan waktu, seperti Ramadhan, selalu datang membawa terang, bagi mereka yang masih mau melihat.
Sementara fitnah, setinggi apa pun ia diangkat, akan tetap jatuh pada satu titik yang sama: kehilangan pijakan. Dan di hadapan nurani yang jernih, tidak ada cerita yang lebih kuat dari kebenaran.

Leave a Reply