KLIKSANDI.COM, Gowa – Suasana hangat dan penuh haru mewarnai temu kangen Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, bersama Tim Assamaturu di Desa Tindang, Kecamatan Bontonompo Selatan, Sabtu (17/1).
Pertemuan ini menjadi pengingat kuat akan akar perjuangan politik yang mengantarkan Husniah hingga menduduki kursi orang nomor satu di Kabupaten Gowa.
Tim Assamaturu dikenal sebagai tim pertama yang setia membersamai perjalanan politik Husniah Talenrang sejak 2018. Dari lorong-lorong kampung hingga panggung politik, Assamaturu menjadi saksi dan bagian penting dari setiap langkah yang ditempuh.
Dalam sambutannya, Pendiri Assamaturu Malik Dg Ajang menegaskan bahwa visi kepemimpinan Bupati Gowa kini mulai nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Hal itu terlihat dari kehadiran langsung bupati di tengah warga, yang kerap viral di media sosial maupun media massa.
“Hal-hal yang dulu tidak terlihat, sekarang terbuka. Masyarakat sendiri yang memviralkan, lalu kita tangani bersama. Ini proses menuju Gowa yang lebih baik dan masyarakatnya inshaallah akan semakin sejahtera,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa visi besar tersebut bukan hanya tanggung jawab bupati, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen, termasuk Assamaturu sebagai pondasi awal perjuangan.
“Assamaturu itu pondasi. Dari menggali tanah, memasang batu gunung, hingga bangunan itu berdiri megah. Kalau pondasinya kuat, bangunan akan kokoh. Begitu pula pemerintahan,” tegas Malik, disambut tepuk tangan para hadirin.
Sementara itu, Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang tak mampu menyembunyikan rasa rindu dan bahagianya. Dengan bahasa sederhana dan penuh kehangatan, ia mengungkapkan kerinduannya pada suasana kebersamaan di kampung halaman.
“Saya rindu makan satu piring, duduk sama-sama. Rindu pulang kampung, makan biri-biri, sayur lebong. Alhamdulillah hari ini semua terwujud,” tuturnya dengan mata berbinar.
Husniah mengenang awal langkah politiknya pada 2018, saat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif atas pesan sang ibunda tercinta.
“Ibu saya berpesan, jadilah anggota dewan bukan untuk cari uang, tapi agar bermanfaat bagi orang lain. Dari situlah saya keliling kampung, lorong, dan pelosok bersama Assamaturu,” kenangnya.
Ia menegaskan bahwa jabatan bupati tak membuatnya lupa pada perjuangan bersama yang telah dilalui.
“Assamaturu bukan sekadar nama. Ini kebersamaan, ini keluarga. Jabatan itu sementara, tapi persaudaraan selamanya. Jabatan Bupati tidak dibawa mati, tapi kebersamaan kita akan terus hidup,” pungkasnya.
Temu kangen ini bukan sekadar nostalgia, tetapi menjadi peneguh komitmen bahwa pemerintahan yang kuat lahir dari kebersamaan, kesetiaan, dan ingatan pada akar perjuangan.(egg)

Leave a Reply