KLIKSANDI.COM, Maros — Periode puncak musim hujan di Kabupaten Maros diprediksi terjadi lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya. Kini, puncak musim hujan diperkirakan terjadi di Desember.
Biasanya, puncak musim hujan di Maros terjadi antara Januari hingga Februari. Oleh karena itu, warga diminta waspada lebih awal terkait perubahan cuaca ini.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Sulsel, Syamsul Bahri, mengonfirmasi bahwa tingginya intensitas hujan berdasarkan akumulasi bulanan menjadi penanda puncak musim.
“Puncak musim hujan tahun ini lebih cepat karena awal musimnya juga maju. Tahun lalu puncaknya Januari–Februari, sekarang Desember,” kata Syamsul, Kamis (4/12/2025).
Selain curah hujan tinggi, ia juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi angin kencang dan petir yang cukup tinggi selama periode ini, meskipun intensitas hujan tidak akan terlalu ekstrem karena kondisi cuaca yang netral dari pengaruh kuat El Nino maupun La Nina.
Syamsul memperkirakan, musim hujan kali ini akan berlangsung hingga Maret 2026, sebelum memasuki masa peralihan. Sejumlah wilayah Pesisir Barat Sulsel seperti Takalar, Gowa, Makassar, Maros, Pangkep, dan Barru, juga sudah mulai memasuki puncak musim yang sama.
Menanggapi hal ini, Syamsul Bahri mengimbau seluruh stakeholder, khususnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), untuk segera mengambil langkah antisipatif.
“Kami imbau stakeholder seperti BPBD untuk memangkas pohon-pohon yang berpotensi tumbang karena hujan disertai angin kencang juga besar kemungkinannya,” ujarnya.
Masyarakat juga diingatkan untuk bergotong royong menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan sistem drainase berfungsi baik.
“Musim hujan ini ibarat air yang ‘mudik’ atau datang ke daerah kita. Maka siapkan tempat untuk mereka: bersihkan selokan, keruk drainase, dan normalisasi sungai. Karena banjir biasanya terjadi akibat air yang meluap,” tambahnya.
Sekretaris BPBD Maros, Nasrul, menjelaskan bahwa pemetaan wilayah rawan bencana sudah dilakukan untuk mengantisipasi potensi banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.
Nasrul merilis 10 kecamatan di wilayah Barat Maros yang memiliki potensi tinggi terendam banjir, yakni: Bontoa, Bantimurung, Lau, Maros Baru, Marusu, Mandai, Simbang, Tanralili, Turikale, dan Moncongloe.
Dari hasil pemetaan, Bontoa tercatat sebagai wilayah dengan lahan tergenang paling luas (4.405 hektare), diikuti Bantimurung (3.118 ha), dan Lau (3.181 ha).
“Wilayah yang berpotensi tinggi tergenang saat musim hujan seperti Kecamatan Bontoa dan Moncongloe,” katanya.
Berbeda dengan wilayah Barat, daerah pegunungan seperti Camba, Cenrana, Mallawa, dan Tompobulu tergolong aman dari banjir. Namun, wilayah ini justru memiliki potensi tinggi mengalami tanah longsor.
Kecamatan Tompobulu menjadi daerah dengan indeks bahaya longsor tertinggi seluas 4.297 hektare. Disusul Cenrana (12.692 ha kategori rendah), dan Bantimurung (594 ha kategori sedang). “Tiga kecamatan itu perlu perhatian serius karena topografi curam dan kondisi tanahnya rawan longsor,” jelasnya.
Menyikapi data kerawanan ini, BPBD Maros telah berkoordinasi dengan pemerintah di tingkat kecamatan, kelurahan, dan desa untuk segera membentuk posko siaga bencana sebagai pusat informasi dan tanggap darurat. BPBD juga aktif menyebarkan imbauan kewaspadaan melalui media sosial dan media massa.(egg)

Leave a Reply