Fakta di Balik Misteri Hilangnya Ambulans Laut Pangkep di Segitiga Bermuda

MISTIS. Kawasan segitiga bermuda masalembo yang terkenal berbahaya bagi pelaut Indonesia.

MISTIS. Kawasan segitiga bermuda masalembo yang terkenal berbahaya bagi pelaut Indonesia.

KLIKSANDI.COM, PangkepKapal Ambulans laut bantuan dari pemerintah Provinsi Sulsel dinyatakan hilang, Sejak Senin, 13 Oktober 2025. Keberadaan kapal ini masih misteri. Kapal hilang tanpa jejak dan tidak ditemukan sampai saat ini.

Kapal yang baru saja selesai diproduksi ini berangkat dari pulau Tinggalungan ke Pulau Dewakang dengan perjalanan selama 8 jam. Dua pulau ini diketahui berada di kawasan segitiga bermuda Masalembo.

Sejumlah pelaut di Pangkep pun mengaitkan hilangnya kapal itu dengan kawasan mistis di segitiga bermuda Masalembo. Kawasan ini yang dikenal sebagai laut seram dan beraroma mistis sejak dulu kala. Berikut sejumlah fakta penting yang berhasil dihimpun terkait peristiwa hilangnya kapal tersebut:

  1. Hilang Kontak Saat Berlayar Menuju Pulau Dewakkang

Kapal ambulans laut itu berangkat dari Pulau Tinggalungan menuju Pulau Dewakkang, Kabupaten Pangkep, dengan jarak tempuh normal sekitar delapan jam.

Namun hingga Rabu (15/10/2025), kapal ambulans laut milik Pemprov Sulsel itu belum juga tiba di tujuan.

Kepala Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengonfirmasi bahwa kapal dinyatakan hilang kontak (lost contact) di wilayah Selat Makassar.

“Berangkat sejak Senin, hingga saat ini belum tiba juga, sehingga dinyatakan lost contact atau hilang kontak di Selat Makassar, Kabupaten Pangkep,” ujar Arif dalam keterangan persnya, Rabu (15/10/2025).

  1. Masuk Kawasan Segitiga Bermuda Masalembo

Perjalanan dari Pulau Tinggalungan ke Pulau Dewakang diketahui masuk dalam kawasan segitiga bermuda Masalembo. Kawasan ini sejak dulu dikenal sebagai perairan yang angker sejak dulu.

Segitiga Masalembo sendiri adalah sebuah garis khayal yang menghubungkan Pulau Bawean, Kota Majene, dan Kepulauan Tengah di Laut Jawa dan termasuk wilayah perairan Masalembo.

Menurut ahli, Segitiga Masalembo secara geografis terletak di pertigaan antara Selat Makassar, Laut Jawa, Laut Flores, dan Selat Lombok. Lokasinya inilah yang diduga menciptakan kekuatan fisis interaksi laut dan atmosfer secara alami, yang mana turut membuat kecelakaan potensial terjadi di wilayah ini.

  1. Kawasan Angker dan Laut Menyeramkan

Kawasan segitiga bermuda Masalembo adalah salah satu kawasan laut paling angker dan menyeramkan di Indonesia. Ada banyak kecelakaan laut dan pesawat terbang di kawasan ini.

Dua kasus yang paling menyita perhatian adalah kecelakaan KM Tampomas II dan hilangnya pesawat Adam Air. Kecelakaan KM Tampomas II terjadi pada 25 Januari 1981.

Kapal itu terbakar ketika tengah bertolak dari Dermaga Tanjung Priok menuju Ujungpandang. KM Tampomas II membawa 1.105 Penumpang, 191 mobil, dan 200 motor.

Akibat insiden tersebut, 431 orang tewas termasuk sang kapten, Abdul Rivai. Sedangkan pesawat Adam Air tujuan Surabaya-Manado yang terbang pada 1 Januari 2007.

Pesawat yang membawa 102 penumpang itu dinyatakan hilang tanpa jejak setelah tak bisa dihubungi ATC Makassar. Berdasarkan rekaman kotak hitam yang ditemukan di perairan Majene oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), disimpulkan bahwa Adam Air jatuh menabrak permukaan air laut hingga terbelah dua.

Kasus terakhir yang terjadi di Perairan Masalembo adalah Kapal Ro-Ro KM Santika Nusantara dengan rute Surabaya-Balikpapan yang terbakar saat melaut pada pada Kamis, 22 Agustus 2019 pukul 20.45 WIB. Untungnya, seluruh penumpang dinyatakan selamat, tak ada korban jiwa.

  1. Mitos Kerajaan Gaib

Segitiga Masalembo dipercaya masyarakat setempat sebagai lokasi bernaungnya kerajaan gaib terbesar di Indonesia. Bahkan dihuni siluman dan jin.

Versi lain menyebutkan perairan Masalembo sebagai daerah yang dikuasai Ratu Malaka, sosok gaib tak kasat mata yang diyakini sebagai ‘ibu’ dari orang-orang Suku Laut. Oleh sebab itu, warga di Kepulauan Masalembo meyakini bahwa siapa pun yang hendak melalui perairannya, mesti memberi salam dan meminta izin pada para penghuni laut serta membawa sesajen khusus.

Apabila terjadi gelombang bergaris putih, maka itu merupakan tanda bahwa kawasan tersebut tak boleh dilewati. Jika nekat menerobos, maka nyawa taruhannya.

  1. Kapal Baru Milik Pemprov Sulsel

Kapal ambulans laut yang hilang kontak itu merupakan unit baru milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Kapal tersebut sedang dalam perjalanan untuk diserahkan kepada masyarakat Pulau Dewakkang, bagian dari gugusan Kepulauan Kalukalukuang, Kecamatan Liukang Kalmas, Kabupaten Pangkep.

“Hingga saat ini tim rescue KPP Makassar bersama potensi SAR masih terus melakukan pencarian terhadap keberadaan kapal ambulans tersebut,” ungkap Arif.

  1. Pencarian Libatkan Banyak Unsur SAR

Upaya pencarian dilakukan menggunakan KN SAR Kamajaya 104, dengan dukungan anak buah kapal serta berbagai unsur potensi SAR.

Tim gabungan berangkat dari Posko Makassar sekitar pukul 11.00 WITA, menempuh jarak sekitar 100 nautical mile (NM) dengan kecepatan 12 knot. Perjalanan menuju lokasi pencarian memakan waktu delapan jam.

  1. Cuaca dan Arus Laut Jadi Tantangan Pencarian

Menurut laporan BMKG, kondisi cuaca di sekitar Selat Makassar pada hari hilangnya kapal menunjukkan tinggi gelombang antara 1,25 hingga 2,5 meter.

Kondisi tersebut dinilai cukup menantang bagi kapal berukuran kecil seperti ambulans laut. Basarnas juga melakukan pemantauan udara dan berkoordinasi dengan nelayan sekitar untuk memperluas area pencarian.

  1. Pencarian Masih Terus Dilakukan

Hingga kini, operasi pencarian masih berlangsung dan difokuskan di sekitar titik terakhir komunikasi kapal. Basarnas menegaskan akan terus melakukan upaya hingga kapal dan seluruh penumpangnya ditemukan.

“Semoga kapal ambulans yang hilang kontak dan penumpangnya dapat segera ditemukan dalam keadaan sehat walafiat,” tutup Arif.(egg)

Leave a Reply