Inilah Distrik Kiwirok, Tempat Perwira TNI asal Pangkep yang Gugur dalam Kontak Senjata

Pos TNI di distrik Kiwirok yang difoto pada 2022, lalu.

KONTAK SENJATA. Pos TNI di distrik Kiwirok yang difoto pada 2022, lalu.

KLIKSANDI.COM, Papua Distrik Kiwirok adalah salah satu distrik di Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Lokasinya, berdekatan dengan perbatasan Papua Nugini, tidak jauh dari puncak Mandala. Di sini, warga kerap merasakan dampak dari kontak senjata dan kekerasan KKB.

Beberapa hari lalu, KKB kembali melakukan kerusuhan di desa itu. Sebuah puskesmas dan sekolah dibakar oleh KKB yang juga kerap disebut dengan istilah Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Warga di distrik ini juga kerap menjadi korban kekerasan OPM. Seperti dilansir Herald.id, warga di distik ini bahkan terisolir. Mereka tidak berani melakukan apa-apa. Layanan kesehatan dan pendidikan ditutup rapat. Bahkan tidak sedikit warga yang tewas karena kelaparan di distrik itu.

Seorang ibu rumah tangga, Ester Urpon, 35 tahun, warga Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan, meninggal dunia pada Rabu, 8 Oktober 2025. Korban meninggal dunia akibat kelaparan – akhirnya jatuh sakit – tanpa adanya upaya penanganan medis, lantaran gedung Puskesmas berikut berbagai macam obat-obatan di dalamnya telah musnah dibakar pemberontak bersenjata OPM beberapa hari sebelumnya.

Saat kejadian korban bersama puluhan warga lainnya sedang berada dalam pengungsian, di sebuah balai desa yang dianggap aman dari serangan OPM. Selain di balai desa tersebut, masih terdapat puluhan warga lainnya yang bersembunyi di lokasi lain, yang dianggap aman dari deteksi kawanan OPM.

Namun begitu, saat ini, para pengungsi dibayang-bayangi ketakutan akan mengalami nasib sama menimpa dirinya, yakni kelaparan. Wilayah yang ditinggali korban bersama sekitar 170 jiwa warga lainnya itu, hingga Jumat, 10 Oktober 2025, terisolir dari wilayah lain di Papua.

Kondisi itu disebabkan terjadinya kekerasan dan perilaku bumi hangus yang dilakukan separatis bersenjata OPM, sampai akhir September lalu. Separatis bersenjata OPM bukan saja membakar fasilitas kesehatan, melainkan juga fasilitas umum lainnya. Bahkan, karena alasan keamanan, Bandara setempat ditutup sementara untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

Hingga saat ini praktis wilayah tersebut lumpuh, lantaran tidak mendapat pasokan logistik, obat-obatan, pendidikan, transportasi dan akses lain yang menjadi kebutuhan dasar warga setempat.

Hal itu disampaikan Penerangan Satgas Koops Swasembada, Letda Inf Iqbal Fauzan, yang dikirim kepada koresponden, Jumat malam, 10 Oktober 2025. Dia menyertakan video berdurasi 01.32 detik, berisi tanggapan Leo Uopmabin, Gembala Jemaat Distrik Kiwirok, yang mengaku merasa tertekan akibat wilayahnya terisolir.

“Kami warga Kiwirok, yang karena ada konflik, maka kami berada di penampungan pengungsi. Di tempat kami mulai ada warga yang mengalami sakit diare, flu dan berbagai penyakit lainnya. Untuk itu kami memohon Pemerintah Daerah Pegunungan Bintang, TNI dan Polri, agar segera memberikan bantuan kepada kami. Baik bantuan logistik, obat-obatan maupun bantuan lainnya,” pinta Leo Uopmabin.

“Saat ini Kiwirok benar-benar terisolasi. Warga bahkan takut keluar rumah atau tempat pengungsian. Karena takut dicap sebagai mata-mata oleh kelompok OPM. Tidak ada sekolah, tidak ada layanan kesehatan, tidak ada akses transportasi dan lainnya. Warga hanya bisa bergantung dari pos-pos TNI/Polri,yang masih bertahan dengan persediaan makanan dan obat-obatan yang terbatas,” kata Letda Inf Iqbal Fauzan.

Pada 06 Oktober 2025, Distrik Kiwirok di bombardir oleh TNI. Serangan udara ini meluluh lantakkan titik-titik persembunyian para OPM. Tidak hanya itu, prajurit TNI juga berusaha membuka akses di Distrik Kiwirok dengan serangan darat.

Suarapapua.Com melansir protes pihak OPM yang juga disebut dengan manajemen markas pusat komando nasional TPNPB (Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat). Pihak TPNPB mengaku telah menganalisis serpihan bom yang dijatuhkan aparat militer Indonesia menggunakan dua unit pesawat tempur Super Tucano asal Brasil.

“Hasil analisis kami merujuk pada bom konvensional merk MK 81 atau 82 buatan Amerika Serikat yang digunakan oleh militer Indonesia untuk melancarkan serangan udara terhadap pasukan TPNPB. Dalan serangan itu juga mengakibatkan kehancuran bagi pemukiman warga sipil di distrik Kiwirok.” dalam rilis mereka.

“Serpihan logam tebal dan melengkung, potongan cincin gelang besar serta kawat spiral yang berserahkan di tanah setelah bom meledak dan menghancurkan pemukiman warga di Kiwirok. Diduga kuat seluruh serpihan bom tersebut adalah milik bom konvensional merk MK 81 atau 82 buatan Amerika Serikat.” ungkapnya.(egg)

Leave a Reply