KLIKSANDI.COM, Maros – Kemarau panjang di Kabupaten Maros membuat sejumlah daerah di wilayah itu mengalami kekeringan. Warga kini kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Jikapun ada, mereka harus membeli hingga Rp100 ribu per tangki.
Warga Kecamatan Marusu, Raiah adalah salah satunya. Dia mengaku tidak bisa berbuat banyak lagi untuk kebutuhan rumahnya. Dia menyebut, untuk kebutuhan sehari-hari, dia harus membeli air galon seharga Rp7000 per galon. Atau, bisa juga membeli air tangki senilai Rp100 ribu per tangki.
“Kalau untuk minum, kami beli air tangki Rp100 ribu. Kalau tidak ada uang, terpaksa dicampur dengan sedikit air bersih yang ada,” tambahnya.
Raiah menyebut kondisi ini sudah berlangsung lama dan sangat menyulitkan warga. Ia berharap ada solusi cepat agar masyarakat tidak terus bergantung pada air tambak atau air sawah.
“Kalau ada bantuan air bersih, kami sangat bersyukur sekali,” tuturnya.
Hal serupa dirasakan warga Kecamatan Bontoa. Untuk bertahan, mereka menggunakan air sawah untuk kebutuhan harian.
Salah satu warga, Darmi, mengatakan mengambil air setiap pagi dan sore. Sekali angkut, ia membawa delapan jeriken berukuran lima liter. Total ada empat titik sumber air yang digunakan warga.
“Setiap pagi dan sore kami ambil air di sini. Airnya berasal dari sawah warga yang tertampung. Kami sudah krisis air sejak bulan Mei,” katanya.
Air digunakan untuk mandi dan mencuci. Untuk minum, warga memakai air galon. Darmi menyebut air sawah yang digunakan sudah keruh dan ditempati bebek hingga sapi. Setelah mandi, kulit terasa gatal.
Namun, membeli air dirasa sangat membebani ekonomi rumah tangga. “Harganya Rp55 ribu, itu pun hanya dipakai paling lama empat hari,” terangnya.
Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Maros mulai menyalurkan air bersih. Bupati Maros, Chaidir Syam, mengatakan BPBD Maros menurunkan empat unit tangki air yang beroperasi setiap hari.
Jika belum mencukupi, Pemkab melibatkan PDAM dan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar). Sejumlah pihak eksternal juga turut menyalurkan bantuan air bersih.
“Seperti Angkasa Pura dan PMI juga akan menyalurkan,” tambah Chaidir.
Di beberapa titik Kecamatan Bontoa, suplai air bersih sudah tertangani melalui booster PDAM. Meski fokus pada penanganan darurat, Pemkab Maros menyiapkan langkah jangka panjang.
Salah satunya studi kelayakan peningkatan kapasitas instalasi pengolahan air. Chaidir menjelaskan kapasitas Instalasi Pengolahan Air (IPA) Bantimurung saat ini hanya 120 liter per detik.
“Untuk IPA Pattontongan, keterbatasannya ada pada ketersediaan air baku. Ada potensi pembangunan IPA baru di Masale, namun masih dalam proses kajian,” terangnya.
Diketahui, sekitar 120 ribu warga terdampak dan kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka tersebar di enam kecamatan: Bontoa, Marusu, Maros Baru, Lau, Turikale, dan Mandai.(egg)

Leave a Reply