KLIKSANDI.COM, Gaza – Warga Gaza merasakan derita yang tiada henti. Setelah serangan udara yang setiap saat tiba-tiba datang, kini mereka dihadapkan dengan kondisi krisis air yang ekstrem ditambah dengan limbah dan wabah penyakit yang makin parah.
Kekurangan air minum yang ekstrem, infrastruktur rusak, serta limbah yang membanjiri kawasan pemukiman, kini menjadi ancaman nyata bagi kehidupan sehari-hari. Selama hampir dua tahun perang Israel-Hamas, lebih dari 80 persen infrastruktur air di Gaza dilaporkan hancur.
“Saya merasa tubuh ini mengering dari dalam. Rasa haus menyedot semua energi saya dan anak-anak,” ujar Um Nidal Abu Nahl, seorang ibu empat anak yang tinggal di Kota Gaza, dikutip dari AFP pada Senin (4/8/2025).
Ketersediaan air bersih menjadi semakin langka. Beberapa truk air sesekali datang, dan sejumlah LSM memasang keran umum di kamp-kamp pengungsian. Namun, bantuan tersebut masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan warga.
Israel sempat menyambungkan kembali sebagian pipa air di Gaza utara ke jaringan perusahaan air Israel, Mekorot. Namun, pasokan tetap tidak mengalir secara maksimal.
Warga menyebut, air tak kunjung sampai karena jaringan distribusi lokal yang rusak parah.
Menurut Juru Bicara Kota Gaza, Assem Al Nabih, jaringan listrik yang seharusnya mendukung distribusi air tidak berfungsi selama hampir dua pekan. Banyak pipa utama hancur, dan sumur-sumur yang sebelumnya menjadi sumber air turut rusak atau terkontaminasi limbah akibat perang.
Sebagian sumur bahkan tidak dapat dijangkau karena berada di zona pertempuran aktif atau dekat dengan instalasi militer Israel. Selain itu, keterbatasan listrik juga mempersulit penggunaan pompa air. Meski pompa dapat digerakkan dengan generator, prioritas bahan bakar diberikan untuk rumah sakit.
Sementara itu, hanya satu dari beberapa instalasi desalinasi di Gaza yang kembali beroperasi pekan lalu, usai pasokan listriknya dipulihkan oleh Israel.
Kondisi infrastruktur yang hancur turut menyebabkan limbah tak tertangani. Lebih dari 75 persen sumur tidak berfungsi, 85 persen alat berat rusak, 100.000 meter jaringan pipa air rusak, serta 200.000 meter saluran pembuangan lumpuh total.
“Limbah membanjiri kawasan tempat tinggal akibat kerusakan jaringan,” kata Mohammed Abu Sukhayla, warga Jabalia di Gaza utara.
Tumpukan sampah mencapai 250.000 ton dan menyumbat jalan-jalan utama. Warga pun terpaksa mengambil air langsung dari sumur dangkal, meski tidak layak konsumsi. Sayangnya, air tanah di Gaza secara alami mengandung kadar garam tinggi dan telah jauh melampaui standar air minum.
Laporan UNICEF pada 2021 bahkan menyebut hampir 100 persen air tanah Gaza tidak layak dikonsumsi. Ironisnya, beberapa warga masih percaya bahwa air payau tidak mengandung bakteri. Padahal, petugas kemanusiaan telah memperingatkan bahwa air tersebut bisa merusak ginjal, meskipun rasanya telah biasa dikonsumsi oleh warga.
Wabah penyakit mengancam Krisis air yang terjadi kini membawa dampak setara dengan kelaparan. Cuaca panas memperparah kondisi, sementara penyakit mulai menyebar di tengah krisis sanitasi.
“Seperti halnya makanan, air tidak boleh dijadikan alat politik,” ujar juru bicara UNICEF, Rosalia Bollen, kepada AFP.
“Sangat sulit mengukur seberapa parah kekurangan air ini, tetapi yang jelas, kondisinya sangat genting,” jelas dia.
Pada 13 Juli, delapan orang dilaporkan tewas dalam serangan Israel ketika warga antre di titik distribusi air di kamp pengungsi Nuseirat, menurut otoritas pertahanan sipil Gaza. Sebuah proyek pembangunan pipa sepanjang 6,7 kilometer dari instalasi desalinasi Mesir ke wilayah Al-Mawasi di Gaza selatan kini tengah berlangsung, dipimpin oleh Uni Emirat Arab dan disetujui Israel.
Namun, proyek ini menuai kritik dari komunitas kemanusiaan karena dikhawatirkan memperkuat pemusatan pengungsi Palestina di selatan.
Menurut pekerja bantuan, air bersih adalah syarat utama bagi kelangsungan hidup dan pencegahan wabah penyakit. Namun, kondisi yang semakin memburuk membuat tantangan semakin besar.
“Kurangnya akses dan kerentanan lingkungan membuat semuanya jadi berlipat ganda,” ujar seorang diplomat yang menangani isu kemanusiaan ini.(egg)

Leave a Reply