KLIKSANDI.COM, Selat Bali — Pencarian korban tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali sudah memasuki hari keempat. Namun, sejauh ini, 29 korban hilang masih belum ditemukan. Basarnas menduga, ada korban yang terjebak di dalam kapal yang karam itu. Sehingga, akan menerjunkan penyelam profesional ke bangkai kapal.
Langkah penyelaman ini diambil menyusul analisis peta laut yang menunjukkan area pencarian berada pada kedalaman 40 hingga 50 meter. Informasi itu diungkap oleh Deputi Operasi dan Siaga Basarnas, Laksda TNI Ribut Eko Suyatno, saat memimpin koordinasi di Posko SAR.
“Kami sudah mempelajari kontur dasar laut berdasarkan data dari Lanal dan OSC Ketapang. Fokus hari ini adalah penyelaman, tetapi dengan prosedur ketat. Kami harus pastikan semua personel benar-benar ready for dive,” jelas Eko.
Pada dua hari pencarian sebelumnya, hasil evakuasi hanya tercapai di hari pertama dengan 36 orang berhasil ditemukan, terdiri atas 30 selamat dan 6 meninggal dunia. Hari kedua, upaya pencarian nihil akibat kondisi laut memburuk.
Menurut Eko, visibilitas laut yang merosot drastis hingga hanya 3 kilometer dan gelombang laut yang meninggi hingga 2,5 meter menjadi hambatan utama. Bahkan, arus pasang surut di kawasan tersebut turut mempersempit jangkauan operasi tim laut dan udara.
“Semalam kami minta Distrik Navigasi mengirimkan peralatan sonar dan pendeteksi posisi kapal. Ini untuk mempercepat penentuan titik pencarian di bawah permukaan laut,” ungkapnya.
Kronologi
Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya terjadi pada Kamis dini hari (3/7) saat kapal rute Ketapang–Gilimanuk tersebut mengalami blackout tak lama setelah mengirim sinyal darurat pukul 00.16 Wita.
Dalam manifes kapal tercatat 65 orang berada di dalamnya, terdiri atas 53 penumpang dan 12 kru. Dengan 36 korban sudah ditemukan, maka masih 29 orang dinyatakan hilang dan menjadi fokus pencarian hari ketiga.
Tim SAR juga melibatkan unsur TNI AL, Basarnas, KNKT, dan Distrik Navigasi, dengan mengerahkan kapal, RIB, hingga thermal drone.
Waktu dan Harapan
Selat Bali dikenal sebagai perairan dinamis dengan karakter arus bawah yang kerap berubah drastis. Hal ini membuat misi penyelaman di kedalaman 50 meter bukan hanya menantang, tapi juga berisiko tinggi.
Meski begitu, harapan untuk menemukan 29 korban yang tersisa belum pupus.
“Kami berkomitmen penuh untuk terus menyisir baik dari udara, permukaan, maupun bawah laut. Ini bukan sekadar misi evakuasi, tapi soal kemanusiaan,” tegas Eko.
Masyarakat luas kini menaruh harap besar pada kerja keras tim SAR gabungan. Selat Bali mungkin menyimpan misterinya, tapi solidaritas dan upaya pencarian belum akan berhenti sampai jawaban ditemukan.(egg)


Leave a Reply