KLIKSANDI.COM, Mataram — Pendaki wanita asal Brasil yang terjatuh di Gunung Rinjani akhirnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Jenazah Juliana De Souza Pereira Marins (27) ditemukan di kedalaman 600 meter.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Muda TNI Mohammad Syafii menjelaskan ada 7 orang penyelamat yang telah diturunkan tim SAR gabungan telah berhasil menjangkau ke kedalaman 400 meter. Namun, dalam perjalanannya seorang penyelamat berhasil menjangkau di kedalaman 600 meter.
“Yang kita sebut datum poin dimana sebelumnya kita perkirakan korban ada di posisi kedalaman 400 meter dan ternyata setelah kita bisa menjangkau korban, ternyata ada pergeseran turun ke bawah lagi di kedalaman 600 meter,” kata Syafii.
Petugas lalu memeriksa korban dan tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan. “Selanjutnya dilakukan pemeriksaan terhadap korban dan tidak ditemukan adanya tanda-tanda kehidupan,” Kata Syafii.
Kemudian pada pukul 18.31 Wita, 3 personil dari potensi SAR atas nama Samsul Fadli dari Unit Lombok Timur, Agam dan Tio dari Rinjani Squad, menyusul diturunkan untuk mendekati korban. Kemudian, dilaksanakan Wrapping Survivor terhadap korban.
Setelah mendapatkan informasi tentang kondisi korban, tim SAR gabungan yang berada di LKP (posisi terkahir korban) langsung menyiapkan sistem evakuasi. Tim penyelamat berjumlah 7 orang yang telah diturunkan, malam ini melaksanakan flying camp.
“3 orang di anchor point kedua di kedalaman 400 meter dan 4 orang berada bersama-sama dengan korban di datum point di kedalaman 600 meter,” kata Syafii.
Karena cuaca yang tidak memungkinkan dengan jarak pandang yang sangat terbatas, maka diputuskan evakuasi korban akan dilanjutkan pada hari Rabu tanggal 25 Juni 2025 pukul 06.00 WITA.
Dari hasil koordinasi, evakuasi korban akan dilaksanakan dengan metode lifting atau korban akan diangkat ke atas. Kemudian dari LKP korban akan dievakuasi menyusuri rute pendakian menuju posko Sembalun dengan cara ditandu.
Jalur menuju puncak Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB) dikenal menyuguhkan panorama indah, tetapi juga ternyata menyimpan bahaya nyata. Salah satu titik yang paling diwaspadai pendaki adalah Cemara Nunggal, jalur menanjak yang diapit jurang dan batuan lepas, tempat yang kini menjadi perhatian setelah pendaki asal Brasil, Juliana (27) dilaporkan jatuh di sana.
Banu Adikara, pendaki asal Jakarta yang pernah mendaki Rinjani pada delapan tahun lalu, tepatnya 2017, mengenang momen menegangkan saat melewati Cemara Nunggal di dini hari.
“Parah, kanan kawah, kiri jurang. Jurang ke bawahnya itu mah lebih dari 500 meter. Saya jalan pelan banget, pakai buff, kacamata, dan senter,” ujar Banu.
Banu berangkat dari Jakarta bersama satu rekan pria dan memulai pendakian dari jalur Desa Bawak Nao, lalu mendirikan tenda di Plawangan Sembalun. Summit dimulai pukul 02.00 dini hari, dan mereka mencapai Cemara Nunggal sekitar pukul 04.30, dalam kondisi gelap dan angin kencang.
“Saya pernah ketemu bule yang nangis di sana. Dia bilang nggak mau mati di situ,” kata Banu.(egg)

Leave a Reply