KLIKSANDI.COM — Kapal besi yang menabrak Kapal Layar Motor (KLM) Asia Mulia sampai sekarang belum terdeteksi. Hal ini membuktikan jika pengawasan lalu lintas laut di perairan Bantaeng dan Jeneponto patut dipertanyakan.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, KLM Asia Mulia karam setelah ditabrak sebuah kapal besi saat dini hari. Kapal ini terbelah dua setelah ditabrak sebuah kapal besi yang tidak teridentifikasi di perairan Bantaeng-Jeneponto. KLM Asia Mulia diketahui mengangkut 57 ekor sapi dan delapan awak kapal. Sebanyak tiga orang awak kapal KLM Asia Mulia sampai sekarang masih dinyatakan hilang.
Situasi ini mendapat sorotan dari Anggota Komisi III DPRD Jeneponto, Haryanto. Dia menilai, insiden tersebut menunjukkan lemahnya sistem pengawasan lalu lintas laut di wilayah Jeneponto dan Bantaeng yang dilalui banyak kapal.
“Mestinya ada alat yang lebih canggih dipasang supaya bisa terdeteksi lebih bagus. Yang kedua di Syahbandar ini bisa diadakan alat pendeteksi karena disini perlintasan kapal-kapal besar,” kata Haryanto.
Haryanto juga menyampaikan, dirinya terus berkoordinasi dengan BPBD Jeneponto untuk memastikan proses pencarian korban berjalan maksimal.
Haryanto melanjutkan, masa pencarian korban adalah 10 hari. Jika belum ditemukan, operasi memungkinkan berhenti.
“SOP untuk pencarian kata BPBD 7 hari dan ada tambahan waktu 3 hari, jika setelah itu tidak ditemukan maka akan dinyatakan hilang,” tutupnya.
Diketahui, KLM Asia Mulia membawa delapan orang ABK dengan muatan 57 ekor kerbau. KLM Asia Mulia melakukan rute pelayaran dari Alor, NTT pada Senin 16 Juni 2025.
Kapal tersebut rencananya sandar di Pelabuhan Bungeng, Jeneponto, namun naas mengalami kecelakaan dan seluruh kerbau dinyatakan tenggelam. Adapun ketiga korban yang belum ditemukan adalah Supriadi (Kapten Kapal), Asdar (Kepala Kamar Mesin/KKM) dan Aldi (Kelasi).
Salah satu ABK selamat dalam insiden tenggelamnya KLM Asia Mulia, Asrul Sani (41) mengungkap detik-detik mencekam saat kapal yang ditumpanginya ditabrak kapal lain di perairan Kabupaten Bantaeng.
Asrul mengatakan, saat kejadian ia tengah berada di kamar kapal untuk beristirahat.
“Saat itu saya lagi di kamar tiba-tiba kapal berguncang keras, ternyata kami ditabrak dan kapal langsung miring, terseret,” ungkap Asrul.
Sebelum insiden terjadi, KLM Asia Mulia dalam posisi mengapung sembari menunggu waktu pagi untuk sandar di Pelabuhan Bungeng, Jeneponto. Namun naas, kapal yang mengangkut 57 ekor kerbau itu tenggelam setelah dihantam dari arah lambung.
Asrul tidak dapat mengidentifikasi kapal yang menabrak, lantaran kondisi di lokasi sangat gelap.
“Saya tidak tahu kapal tanker atau kargo, warnanya pun tidak kelihatan, yang jelas kapal besi,” ujarnya.
“Jadi nanti setelah kapal saya terpotong dan mulai tenggelam baru saya lompat,” lanjutnha.
Yang lebih memilukan, kapal yang menabrak disebut baru membunyikan klakson setelah tabrakan terjadi. Meski demikian, Asrul bersyukur masih diberi keselamatan dalam insiden tersebut.
“Alhamdulillah, saya dan empat orang lainnya selamat. Kami bisa mengapung karena ada rakit yang copot dari kapal saat tabrakan terjadi,” tuturnya.(egg)

Leave a Reply