ini Empat Kondisi Terburuk Jika Perang Israel-Iran Terus Berlanjut

Gempuran Israel ke Iran

Ilustrasi ledakan nuklir di area pemukiman warga daru gempuran militer Israel. (Unsplash.com / Mohammed Ibrahim)

KLIKSANDI.COMKetegangan antara Israel-Iran masih berlangsung. Meski hingga kini perang Israel-Iran masih terbatas di antara kedua negara, banyak pihak termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menyerukan penahanan diri.

Namun, bagaimana jika seruan tersebut tak diindahkan? Apa yang akan terjadi jika konflik semakin membesar dan melibatkan pihak-pihak lain? Berikut beberapa kemungkinan skenario terburuk yang dapat terjadi, sebagaimana dirangkum dari BBC, Sabtu (14/6/2025).

  1. Amerika Serikat terseret ke medan perang

Meski Amerika Serikat membantah keterlibatannya secara langsung, Iran meyakini bahwa AS memberikan dukungan, setidaknya secara diam-diam terhadap serangan Israel. Iran memiliki potensi untuk membalas dengan menyerang aset-aset Amerika di Timur Tengah, termasuk kamp pasukan khusus di Irak, pangkalan militer di kawasan Teluk, hingga fasilitas diplomatik.

Milisi proksi Iran, seperti Hamas dan Hezbollah, mungkin telah melemah, namun kelompok bersenjata pro-Iran di Irak masih aktif. Pemerintah AS sudah mengantisipasi kemungkinan ini dengan menarik sebagian personel dan menyampaikan peringatan tegas kepada Iran terkait potensi serangan terhadap warganya.

Jika satu warga negara AS menjadi korban di Tel Aviv atau lokasi lain, Presiden Donald Trump kemungkinan besar akan terpaksa mengambil tindakan militer. Selama ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dituding ingin melibatkan AS untuk membantu mengalahkan Iran. Menurut para analis militer, hanya Amerika Serikat yang memiliki kemampuan menjangkau fasilitas nuklir Iran seperti di Fordow, menggunakan pesawat pembom dan bom penghancur bunker.

Walau Trump berkomitmen tidak akan memulai “perang tanpa akhir” di Timur Tengah, tekanan dari sebagian anggota Partai Republik yang mendukung perubahan rezim di Iran bisa memengaruhi keputusan militer AS.

Jika AS benar-benar terlibat secara aktif, maka konflik akan meningkat drastis dan membawa dampak global yang menghancurkan.

  1. Negara-negara Teluk jadi sasaran

Apabila serangan ke Israel tak berhasil melemahkan kekuatan militer negara itu, Iran bisa mengalihkan targetnya ke negara-negara Teluk yang dianggap mendukung Israel. Sasaran tersebut bisa berupa infrastruktur energi, seperti kilang minyak dan pelabuhan ekspor.

Iran pernah dituduh menyerang ladang minyak Arab Saudi pada 2019, dan proksi Houthi menyerang Uni Emirat Arab (UEA) pada 2022. Meski sempat ada rekonsiliasi antara Iran dan beberapa negara Teluk, banyak dari mereka tetap menjadi lokasi pangkalan udara Amerika.

Beberapa juga diduga membantu Israel menghadang serangan rudal Iran pada tahun lalu. Jika Teluk diserang, negara-negara di kawasan itu kemungkinan akan meminta dukungan militer dari AS dan sekutunya.

  1. Serangan Israel gagal hancurkan nuklir Iran

Jika fasilitas nuklir Iran terlalu terlindungi dan tidak dapat dihancurkan, maka serangan Israel bisa berakhir sia-sia. Saat ini, Iran diperkirakan memiliki sekitar 400 kg uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen, hanya selangkah lagi menuju tingkat senjata. Uranium tersebut mungkin disimpan jauh di dalam fasilitas rahasia.

Israel bisa saja membunuh sejumlah ilmuwan nuklir, tetapi tak ada bom yang mampu menghapus pengetahuan dan kemampuan teknis yang telah dimiliki Iran. Kondisi ini justru bisa mendorong Iran untuk mempercepat pengembangan senjata nuklir sebagai upaya pencegahan. Jika para pemimpin militer Iran yang baru lebih ekstrem dan kurang berhati-hati, risiko eskalasi konflik akan semakin besar.

Israel kemungkinan akan terus melakukan serangan dalam siklus yang tak berkesudahan, yang dalam strategi militer Israel dikenal sebagai “memotong rumput”. Iran juga bisa mencoba menutup Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak dunia.

Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman yang dikenal nekat bisa meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah.

Dampak globalnya bisa sangat besar. Krisis biaya hidup akan semakin parah akibat kenaikan harga minyak. Inflasi akan menghantam sistem ekonomi dunia yang sudah rentan akibat dampak perang dagang sebelumnya.

Presiden Rusia Vladimir Putin bisa menjadi pihak yang diuntungkan, karena kenaikan harga minyak berarti aliran dana besar ke Rusia untuk membiayai perangnya di Ukraina.

  1. Rezim Iran jatuh, kekosongan kekuatan timbul

Jika tujuan Israel tercapai dan rezim Islam Iran berhasil digulingkan, muncul pertanyaan besar: apa yang akan terjadi setelahnya? Netanyahu menyatakan bahwa serangan ke Iran bertujuan membuka jalan bagi rakyat Iran untuk meraih kebebasan. Namun, perubahan rezim kerap memicu kekacauan, sebagaimana yang pernah terjadi di Irak dan Libya.

Kekosongan kekuasaan di Iran bisa memunculkan konflik sipil yang tak terkendali, serta menimbulkan dampak regional dan global yang tak dapat diprediksi. Diketahui, Eskalasi dimulai pada 12 Juni 2025, saat Israel melancarkan Operasi Rising Lion, serangan udara besar-besaran yang menargetkan fasilitas nuklir Iran dan militer di wilayah Iran.

Serangan ini menewaskan sejumlah tokoh penting, termasuk Kepala Angkatan Udara IRGC Amir Ali Hajizadeh, Kepala Staf Militer Mohammad Bagheri, serta mantan Kepala Organisasi Energi Atom Fereydoon Abbasi. Kerusakan besar dilaporkan terjadi di fasilitas pengayaan uranium Natanz dan wilayah sekitar Isfahan serta Teheran.(egg)

Leave a Reply