KLIKSANDI.COM – BULUKUMBA – Empat puluh tahun bukan sekadar angka bagi Pondok Pesantren Babul Khaer. Di milad ke-40 ini, KH Mustary Randa, sang pimpinan pondok, menghadirkan kembali memori tentang perjalanan panjang yang penuh cinta, perjuangan, dan harapan.
Dengan suara yang tenang namun menyentuh, beliau menyapa para guru, pembina, dan tokoh penting yayasan, termasuk Ketua Yayasan KH Tjamiruddin dan Wakil Ketua Yayasan Al-Gasali, Drs. Syarkawi Imaman.
Ribuan alumni dari angkatan 1 sampai 35 pun turut hadir, menjadi saksi betapa pondok ini telah menjadi rumah bagi banyak jiwa.
Dalam sambutannya, KH Mustary memberi penghargaan khusus untuk para alumni angkatan pertama. Foto mereka akan dipajang di kantor yayasan, sebuah bentuk penghormatan yang tulus atas jasa para perintis.
Selain itu, untuk alumni-alumni yang lain, nama meraka juga tidak akan pernah hilang dari pondok.
“Insya Allah, selama Babul Khaer berdiri, nama-nama mereka tak akan pernah hilang. Mereka sudah menjadi bagian dari dinding-dinding pondok ini,” ucap beliau dengan haru.
Tak hanya mengenang, KH Mustary juga mengisahkan bagaimana pondok ini lahir dari mimpi besar para pendiri dan perintis.
Terkhusus kepada almarhum Ustaz M. Tahir Dg. Pasarra yang telah mencatat awal mula berdirinya Pondok Pesantren Babul Khaer.
Dari pertemuan di DDI Mangkoso pada 27 Januari tahun 1985, lalu pada tanggal 13 Februari 1985, panitia pemikir bermusyawarah dan membentuk sebuah tim panitia pembangunan yang beranggotakan 9 orang hingga peletakan batu pertama, pada tanggal 8 maret 1985.
Setelah 4 bulan, pada 15 Juli 1985 mulailah menerima santri secara resmi yang semuanya berawal dari niat suci untuk membangun rumah ilmu bagi umat.
Beliau menjelaskan, bukan sekolah yang pertama dibangun, melainkan dua asrama dan satu dapur. Karena saat itu, sudah ada sekolah sore di Kalumeme yang diajar oleh Almarhum H. Muzakkir, cikal bakal sekolah yang kini menjadi bagian dari Babul Khaer.
Meski tak semua nama tercatat dalam dokumen, KH Mustary menegaskan bahwa setiap orang yang pernah menyumbang tenaga, pikiran, dan doa tetap dihargai.
“Setetes keringat dari para pendiri harus kita hargai. Kita kirimkan Al-Fatihah, untuk mereka yang telah tiada, juga yang masih membersamai kita,” katanya penuh makna.
Dengan tema milad “Babul Khaer untuk Indonesia, Babul Khaer dari dan untuk Umat”, KH Mustary tak hanya mengingatkan pada masa lalu, tapi juga menyalakan harapan untuk masa depan.
Bahwa pondok ini akan terus menjadi pelita bagi umat, karena ia lahir dari cinta, dan akan terus hidup bersama cinta.

Leave a Reply